TIBALAH kini sebuah masa ketika layar menjadi cermin, dan jempol menggantikan pena. Santri kini hidup di persimpangan antara zikir dan algoritma. Ia lahir dari rahim pesantren yang dahulu menanamkan kesunyian, kesederhanaan, dan pengabdian namun kini bernafas di ruang yang hiruk dan terbuka; media sosial.
Foto kitab kuning berganti dengan potret kopi senja, bacaan wirid bersaing dengan unggahan kutipan motivasi. Bahkan ibadah yang dulu disembunyikan dari pandangan manusia kini dipamerkan dalam bingkai estetik dengan caption “semoga istiqamah.”
Fenomena ini tak semata-mata soal generasi yang berubah. Ia mencerminkan gejala lebih dalam yakni pergeseran pusat makna dari penghambaan menuju penampilan. Dunia digital menciptakan ruang baru yang memaksa setiap orang menjadi aktor dari dirinya sendiri.
Dalam istilah filsuf Prancis, Jean Baudrillard dijelaskan bahwa manusia kini hidup dalam “hyperrealists” yakni situasi ketika citra lebih nyata dari kenyataan itu sendiri.
Santri yang dulu dikenal Tuhan karena keheningan dan kesungguhan niat, kini lebih dikenal warganet karena estetika ibadahnya.
Namun persoalannya bukan pada teknologi, melainkan pada niat yang tereduksi menjadi performa. Rasulullah pernah bersabda, “Innamal a’malu binniyat” segala amal tergantung pada niatnya.
Ketika niat berpindah dari mencari ridha Tuhan menjadi mencari pengakuan digital, maka ibadah yang sakral berubah menjadi tontonan yang fana.
Kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karya Imam al-Ghazali telah jauh-jauh mengingatkan tentang riya’; penyakit hati yang menjadikan amal kehilangan ruhnya.
Santri dalam tradisi klasiknya, adalah simbol keikhlasan dan ketaatan. Ia menempuh jalan sunyi yang disebut thariqah; jalan menuju makrifat. Dalam jalan itu, tidak ada ruang bagi pamer.
Namun kini, santri hidup dalam tekanan budaya baru yang dinamakan budaya keterlihatan. Ia dituntut untuk hadir, menampilkan, mengunggah, dan menginspirasi.
Dunia yang tak mengenal diam ini membuat zikir yang sunyi terasa asing. Padahal, seperti kata Jalaluddin Rumi, “Keheningan adalah bahasa Tuhan, segala yang lain hanyalah terjemahan yang buruk.”
Baca Juga: Konten Kreator Jember Ini Digeruduk Banser, Sebut Isi Konten Tak Berimbang dan Menyudutkan!
Ironisnya, banyak santri kini belajar mendakwahkan Islam melalui algoritma, tetapi lupa bahwa algoritma tidak mengenal Tuhan namun hanya mengenal engagement rate. Maka, muncul paradoks baru yang mana dakwah menjadi konten, dan kesalehan menjadi metrik.
Fenomena religious influencer di kalangan muda muslim adalah bukti bahwa batas antara dakwah dan branding semakin kabur. Mereka berdiri di antara dua niat: menebar kebaikan, atau menumbuhkan citra diri.
Di sisi lain, realitas sosial pesantren juga tak bisa menutup mata dari derasnya arus digitalisasi. Data Kementerian Agama mencatat bahwa pada tahun 2024 terdapat lebih dari 42.000 pesantren aktif di Indonesia, sebagian besar kini terhubung dengan dunia maya.
Banyak di antaranya mulai mengintegrasikan media sosial untuk promosi, dakwah, dan pendidikan. Ini adalah langkah positif, sejauh nilai-nilai yang dibangun tetap berpijak pada adab dan keikhlasan, bukan pada pamrih visual.
Filsuf Paulo Freire pernah menulis dalam Pedagogy of the Oppressed: “Pendidikan akan menjadi alat pembebasan, atau alat penindasan.”
Pesantren berada di posisi yang sama bahwa ia bisa menjadi ruang pembebasan spiritual di tengah derasnya modernitas, atau justru menjadi sistem baru yang memperhalus bentuk perbudakan digital.
Kita juga mesti ingat pesan Gus Dur “Tugas santri bukan menjadikan semua orang Islam, tapi menjadikan semua orang manusia.” Dalam konteks ini, manusia yang dimaksud bukan sekadar makhluk biologis, melainkan makhluk yang memiliki kesadaran, keotentikan, dan empati.
Instagram bisa menjadi ladang dakwah, tetapi juga bisa menjadi ladang kesia-siaan. Semua tergantung apakah unggahan itu lahir dari cinta kepada Tuhan, atau dari haus akan pujian.
Jika santri adalah penjaga moral bangsa, maka ia harus belajar untuk berdiri di tengah dunia yang gemerlap tanpa kehilangan kesederhanaan hatinya.
Santri masa kini tak perlu menolak teknologi, tetapi perlu menaklukkannya dengan etika. Mengunggah boleh, tapi hendaknya disertai tafakkur; tampil boleh, tapi jangan kehilangan tawadu’.
Dengan kesadaran penuh, seorang santri sejati masih tahu bahwa Tuhan tidak hadir di layar, melainkan di hati yang suci. Sebab pada akhirnya, yang dikenal Tuhan bukanlah yang paling banyak pengikutnya, melainkan yang paling jujur niatnya. Mungkin di Instagram, santri yang semacam itu memang tak dikenal. Tapi di sisi Tuhan, dialah yang paling dikenang.
Kini saatnya santri melangkah lebih jauh dari sekadar menjadi viral. Ia harus menjadi visioner. Santri yang paham dunia digital, namun tak larut di dalamnya.
Santri yang mampu berbicara dengan bahasa algoritma, tetapi hatinya tetap berdialog dengan Tuhan. Inilah wajah baru ke-santri-an yang dibutuhkan zaman yang mudah tergerus popularitas.
Pesantren perlu menumbuhkan kesadaran baru tentang etika digital spiritual: kesadaran bahwa setiap unggahan adalah cermin hati, dan setiap kata bisa menjadi doa atau dosa.
Sebagaimana diingatkan oleh KH. Hasyim Asy’ari, “Ilmu tanpa adab adalah kesesatan, dan amal tanpa niat adalah kesia-siaan.” Prinsip itu tetap relevan, bahkan di ruang digital. Santri masa kini harus menjadi generasi yang menyilangkan kitab dan kabel, memadukan zikir dan piksel, tanpa kehilangan arah spiritualnya.
Maka, jangan biarkan layar menenggelamkan cahaya batin. Jadilah santri yang tetap dikenal Tuhan, meski dunia mungkin tak mengenalmu.
Karena pada akhirnya, bukan jumlah pengikut yang akan disapa malaikat, tetapi ketulusan niat yang ditebarkan selama menjadi aktor di dunia yang fana ini.
*Penulis adalah Dekan Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Cordoba, Banyuwangi.
Editor : Sidkin