Beberapa waktu yang lalu ada berita di media sosial yang ramai memperbincangkan seorang anak SD usia 12 tahun di Kediri jawa Timur yang sempat koma 3 hari dan ternyata menderita Dibetes melitus serta harus suntik insulin 4 kali sehari. Dari keterangan kakaknya anak ini sering jajan minuman kemasan yang manis-manis hampir setiap hari di sekolah dan tidak mau minum air putih bekal dari rumah.
Cerita ini menjadi sangat menarik mengingat setiap tanggal 14 November masyarakat global memperingati Hari Diabetes sedunia.
Menurut WHO, tema Hari Diabetes Sedunia Tahun 2025 adalah “Diabetes across life stages” atau diabetes di seluruh tahap kehidupan. Pada hari peringatan World Diabetes Day ini, kita diingatkan bahwa diabetes bukan masalah “orang tua” saja, tetapi penyakit ini telah merambah ke seluruh tahap kehidupan. Dari usia anak, remaja, dewasa produktif sampai lansia. Hal ini tentunya menuntut kebijakan akses terhadap perawatan terpadu, dukungan lingkungan, serta kebijakan yang ramah bagi penderita di semua usia.
Menurut data dari International Diabetes Federation pada tahun 2024 terdapat 589 juta orang dewasa usia 20-79 tahun yang hidup dengan diabetes atau dengan kata lain 1 dari 9 orang dewasa terkena diabetes. Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 853 juta pada tahun 2050.
Diabetes menyebabkan 3,4 juta kematian pada tahun 2024 , dengan kata lain terdapat 1 kematian akibat diabetes setiap 9 detik. Dari sisi pembiayaan kesehatan. Pada tahun 2024, Diabetes menyebabkan pengeluaran kesehatan setidaknya USD 1 triliun dolar, terjadi peningkatan 338% selama 17 tahun terakhir.
Di Indonesia, hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi diabetes berdasarkan pemeriksaan kadar gula pada usia ≥15 tahun mencapai 11,7%, meningkat dari angka sebelumnya.
Berdasarkan Profile Kesehatan Profinsi Jawa Timur Tahun 2023, Estimasi penderita Diabetes Melitus (DM) di Jawa Timur sebesar 854.454 dari penduduk usia 15 tahun keatas. Pelayanan kesehatan penderita diabetes melitus di FKTP 38 kabupaten/kota se- 189 Jawa Timur sudah mencapai 859.187 kasus (100,6%) dari estimasi penderita DM yang ada.
Sedangkan di Kabupaten Jember, Jumlah penderita DM pada tahun 2024 terdapat sekitar 38.947 kasus (Dinas Kesehatan Jember 2024).
Khusus untuk penderita Diabetes dari usia anak dan remaja, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merilis data yang menunjukkan bahwa prevalensi anak penderita diabetes meningkat 70 kali lipat pada januari tahun 2023 daibandingkan tahun 2010.
IDAI mencatat 1.645 anak di Indonesia yang menderita diabetes dimana prevalensi nya sebesar 2 kasus per 100.000 anak. Hampir 60% penderitanya adalah anak perempuan.
Sedangkan berdasarkan usainya, sebanyaj 46% berusia 10-14 tahun, dan 31% berusia 14 tahun ke atas. Angka-angka ini menegaskan bahwa Dibetes melitus smenjadi beban yang nyata dan tersebar di seluruh kelompok usia dan di semua komunitas kita.
Fenomena Diabetes pada Anak dan remaja merupakan masalah kesehatan yang serius apalagi didukung dengan gaya hidup modern yang kurang sehat.
Saat ini sangat mudah sekali kita mengakses makanan siap saji dalam waktu yang cepat tetapi tidak memenuhi pola nutrisi yang sehat. Dan di sisi lain masyarakat kita khususnya anak-anak dan remaja tidak memiliki pola aktifitas fisik yang rutin seperti olah raga.
Dari kondisi yang dipaparkan di atas, maka pendekatan life-course (seluruh tahap kehidupan) penting. Karena faktor-faktor yang mempengaruhi diabetes melitus terjadi pada kelompok umur tertentu berbeda-beda dan bagaimana upaya intervensi penyembuhan Diabetes melitus berbeda pada setiap tahap usia.
Sebagai gambaran untuk pencegahan diabetes melitus pada masa anak dibutuhkan intervensi dari intake nutrisi makanan sehari-hari, perlunya aktivitas fisik baik di rumah maupun saat di sekolah. Sedangkan identifikasi dini pada remaja lebih diarahkan pada pencegahan obesitas remaja supaya tidak berisiko pada terjadnya diabetes melitus tipe 2 pada usia muda.
Adapun pencegahan dan perlindungan diabetes melitus bagi kelompok usia produktif adalah melalui screening rutin dan lingkungan kerja sehat, serta manajemen multimorbiditas pada lansia. Tanpa strategi yang menyesuaikan intervensi pada tiap fase kehidupan, upaya yang kita lakukan hanya akan mengobati gejala saja bukan akar masalah diabetes melitus tersebut terjadi.
Dari sisi peran Pemerintah dalam mencegah dan menanggulangi Penyakit Dibetes melitus dari seluruh tahapan siklus kehidupan dari anak-anak, remaja, dewasa sampai lansia bisa melalui upaya advokasi pada pegambil kebijakan yang dapat diimplementasikan baik di level lokal, regional bahkan di tingkat nasional meliputi:
(1) Kebijakan dalam melaksanakan Skrining terintegrasi di sekolah dengan melibatkan Puskesmas setempat. Seluruh siswa SD, SMP, dan SMA diwajibkan pemeriksaan gula darah minimal sekali setiap 3 tahun. Selain itu melalui UKS di sekolah dilakukan pemantauan BMI dan program promosi kesehatan tentang pola hidup sehat. Selain itu di Sekolah wajib ada kantin sehat yang menyediakan makanan dan minuman sehat bagi siswa sekolah.
(2) Kebijakan pajak yang tinggi untuk minuman kemasan yang menggunakan pemanis. Hal ini dilakukan dalam rangka mengurangi konsumsi minuman manis kemasan dengan cara menaikkan harga jual di masyarakat.
(3) Kebijakan di tempat kerja baik sektor formal di pemerintahan maupun di sektor swasta di perusahaan untuk memberikan fasilitas screening dan general checkup secara rutin setiap 6 bulan sekali sepagai upaya deeksi dini diabetes meitus pada usia produktif serta program edukasi pola hidup sehat dan adanya jaminan kesehatan dalam bentuk asuransi dalam menjamin akses pelayanan kesehatan bagi pekerja di usia produktif.
(4) Kebijakan pengembagan program kesehatan lansia dengan memberikan perawatan untuk lansia yang terintegrasi untuk layanan diabetes dengan hipertensi, penyakit ginjal kronis, dan rehabilitasi fisik melalui posyandu lansia yang dikoordinasikan oleh Puskesmas dan kader kesehatan lokal, serta penyediaan asuransi kesehatan bagi lansia baik yang mandiri maupun untuk lansia tidak mampu melalui mekanisme pembiayaan dari daerah (APBD).
Diabetes melitus dengan across life stages menuntut pendekatan multisektoral baik di sektor pendidikan, sektor kesehatan primer, pemerintah daerah, dan swasta harus bergerak bersama.
Momentum peringatan Hari Diabetes Sedunia menjadi kesempatan yang startegis melalui kebijakan pemerintah dengan menempatkan skrining dan promosi kesehatan berkelanjutan di pusat layanan pada semua siklus kehidupan.
Tujuannya agar anak-anak tumbuh sehat tanpa ada ketakutan beban metabolik yang dapat berdampak pada masa dewasa mereka, sehingga tetap bisa bekerja secara produktif, dan memasuki masa lansia dengan sehat dan tetap mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang terstandar.
Hari Diabetes Sedunia harus menjadi titik tolak bagi semua pihak untuk berkomitmen nyata dan bukan hanya sekedar seremonial belaka. Salam sehat untuk semua.
Editor : Sidkin