Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Isyarat dari Politik Lokal Amerika, Opini oleh Agus Trihartono, Rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi

Sidkin • Rabu, 19 November 2025 | 00:05 WIB
Opini: Agus Trihartono (grafis/Reza Cecep/Radar Jember)
Opini: Agus Trihartono (grafis/Reza Cecep/Radar Jember)

POLITIK lokal Amerika hari ini tidak lagi sekadar kepanjangan tangan dari pertarungan panjang antara Republik dan Demokrat. Ia telah berubah menjadi sesuatu yang lain, sebuah cermin dari pergulatan yang juga mulai terasa di banyak tempat, termasuk di politik lokal kita.

Politik lokal di Amerika kini tampak seperti dialog antara dua cara memandang hidup, yakni antara mereka yang percaya bahwa negara hadir untuk melindungi yang kuat, dan mereka yang percaya bahwa negara hadir untuk menguatkan yang lemah.

Di tengah pertarungan besar itu, muncul empat sosok yang seakan menandai arah baru. Zohran Mamdani, politisi muda Muslim keturunan India kelahiran Uganda yang kini terpilih sebagai Wali Kota New York, membawa napas politik yang berpihak pada warga miskin perkotaan.

Mary Sheffield, perempuan kulit hitam pemimpin Detroit, memperlihatkan bagaimana kota yang pernah runtuh oleh krisis industri bisa bangkit melalui keberpihakan pada masyarakat pekerja.

Kaohly Her, legislator Minnesota berdarah Hmong, pengungsi dari Laos, menyuarakan pentingnya representasi bagi komunitas imigran Asia. Serta, Abigail Spanberger, mantan agen CIA yang kini duduk di Kongres dari Virginia, menjadi simbol integritas di tengah badai disinformasi dan polarisasi.

Tentu, dinamika politik lokal Amerika tak begitu saja dapat terjadi di Indonesia. Sejarah yang melahirkannya berbeda; tanah sosial tempat ia tumbuh pun tak sama. Bahkan kata “lokal” di kedua negeri itu berdenyut dalam kebudayaan yang berlainan.

Namun di balik segala perbedaan itu, ada gema yang serupa. Manusia di mana pun selalu ingin ditimbang dengan keadilan, dilindungi oleh kebijakan yang berpihak, dan didengar oleh pemimpin yang berempati.

Di sanalah politik, dalam bentuk paling sederhananya, menjadi bahasa universal, aksen boleh berbeda tapi lahir dari kerinduan yang sama: agar kekuasaan tak lagi berdiri jauh dari rakyat, agar kuasa kembali memeluk yang lemah.

Maka, membaca politik lokal Amerika bukan untuk meniru, melainkan untuk memahami arah angin yang mungkin juga sedang berembus ke sini, ke kampung kita. Sebab setiap politik lokal, betapapun berbeda wujudnya, selalu membawa pertanyaan yang sama: masihkah para pemimpin mau mendengar?

Empat pemimpin lokal Amerika di atas mungkin tampak seperti “anomali.” Mereka bukan berasal dari partai dan ideologi yang sama, namun dari tuntutan zaman yang sama.

Mereka bukan datang dari dinasti, apalagi dari kekuasaan lama, melainkan dari komunitas yang dulu tidak dianggap bagian dari pusat kekuasaan, yang dulu dilihat sebagai penonton pinggiran.

Juga, mereka sejatinya bukan membawa harapan baru, mereka adalah wujud dari keinginan lama agar politik kembali menyentuh kehidupan sehari-hari. Politik yang tidak hanya hadir di layar debat nasional, tetapi juga di ruang makan keluarga, di rapat komunitas, dan di suara lembut warga yang ingin didengar.

Politik yang mereka bawa juga sederhana. Tidak tentang retorika besar atau jargon moralitas. Mereka membawa hal-hal yang dekat, isu yang dianggap “kecil,” tentang harga sewa rumah, biaya kesehatan, pendidikan anak-anak, serta keamanan di lingkungan. Politik yang kembali pada manusia, pada rasa cemas dan harap warga sehari-hari.

Mungkin karena itu, politik lokal Amerika kini menjadi semacam “laboratorium masa depan.” Ia memperlihatkan bagaimana generasi muda, perempuan, dan minoritas mulai mengubah cara kita memahami kekuasaan.

Bahwa kekuasaan bukan lagi semata soal “siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana,” melainkan memberi ruang bagi kebaikan hidup bersama. Politik yang bukan hanya bicara soal siapa yang menang, tapi siapa yang merasa didengar.

Menangkap Pertanda

Dalam dunia yang saling terhubung, perubahan nilai di satu tempat, cepat atau lambat, akan bergetar di tempat lain, termasuk di Indonesia.

Kita sedang mengalami perubahan demografi yang mirip dengan Amerika, meningkatnya jumlah pemilih muda, urbanisasi yang cepat, ketimpangan yang masih tinggi, dan kegelisahan akan biaya hidup yang makin berat.

Realitas yang dihadapi juga hampir sama, pemilih muda yang lebih berpendidikan, lebih terkoneksi, tapi juga lebih cemas akan masa depan. Mereka hidup dalam tuntutan yang tak kalah kompleks, namun peluang kerja masih tak menentu.

Kecemasan itu membuat mereka mencari jenis pemimpin yang “berbeda.” Mungkin bukan pemimpin sempurna, tapi yang mau mendengarkan. Bukan yang menjanjikan segalanya, tapi yang hadir di tengah mereka.

Di titik ini, kita bisa membaca isyarat yang sama seperti di Amerika, bahwa masa depan politik akan berpihak kepada mereka yang “mengerti” bahasa keseharian warga biasa.
Isyarat ini penting bagi politik lokal kita, baik sekarang maupun nanti menjelang Pilkada.

Politik daerah bisa jadi bukan lagi semata ajang perebutan kuasa, tapi juga medan ujian untuk memahami arah zaman. Siapa yang secara cerdas dapat menangkap kegelisahan warga dengan empati, bukan sekadar strategi, akan mendapat “berkah” dari perubahan demografi ini.

Mungkin di sinilah pelajaran terpentingnya, bahwa politik lokal merupakan panggung di mana nilai-nilai besar diuji dalam kehidupan sehari-hari. Dari jalan berlubang hingga biaya sekolah, dari banjir musiman hingga akses kesehatan, politik menemukan arti konkretnya.

Di titik ini, keberpihakan tidak lagi diukur dari pidato, tetapi dari keberanian untuk turun dan mendengar.

Dan seperti di Amerika, tidak mustahil kita juga kedatangan generasi pemimpin politik yang muncul dari pinggiran. Mereka hadir mungkin tanpa nama besar, tapi membawa kepedulian yang tulus.

Mereka tidak sibuk di panggung, tapi menciptakan ruang bersama. Mungkin mereka itulah yang akan mengajarkan kembali apa arti menjadi pemimpin di era mutakhir.

Dari politik lokal Amerika, kita mendapat isyarat bahwa perubahan besar bisa dimulai dari yang kecil, dari suara minoritas, dari keberanian untuk memulai yang baru, dari isu yang sebelumnya dianggap “sepele.”

Mungkin, kelak dunia juga akan membaca isyarat serupa dari kita, dari Jember, dari Banyuwangi, dari Situbondo, serta dari kota-kota lainnya, tempat politik menemukan kembali kesederhanaannya.

Sebab, masa depan politik, baik di New York, Detroit, maupun di kota-kota kita, tidak akan ditentukan oleh seberapa keras seseorang berbicara, tetapi oleh seberapa dalam ia mau mendengarkan.

Yang pasti, dari Amerika kita belajar, politik lokal bisa kembali menemukan wajah manusiawinya.*

 


*Penulis adalah Dosen Studi Amerika, FISIP Universitas Jember dan Rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi.

Editor : Sidkin
#politik amerika #politik lokal #new york #Universitas Islam Cordoba Banyuwangi #Zohran Mamdani #politik #isyarat