PERISTIWA Gerbong Maut merupakan salah satu tragedi paling memilukan dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mengutip Sejarah Peristiwa Gerbong Maut Tahun 1947 oleh Rima Evalia, peristiwa ini bermula pada 23 November 1947, ketika para tahanan yakni rakyat yang dianggap secara aktif melakukan perlawanan dipindahkan ke Penjara Surabaya.
Atas instruksi langsung Komandan J. Van Den Doerpe, serdadu Belanda menggiring para tahanan menuju Stasiun Kereta Api Bondowoso. Seratus tahanan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tiga gerbong barang yang terbuat dari baja: 38 orang di gerbong pertama, 29 orang di gerbong kedua, dan 33 orang di gerbong ketiga.
Gerbong-gerbong ini bukanlah gerbong penumpang, melainkan gerbong barang tanpa ventilasi. Perjalanan sepanjang 240 km dengan durasi 13 jam itu berlangsung dalam kondisi yang amat menyiksa.
Kebengisan tersebut berujung pada meninggalnya 40 tahanan, sementara 60 orang lainnya berhasil diselamatkan. Tragedi inilah yang lantas dikenang sebagai Peristiwa Gerbong Maut.
Terhitung 46 tahun semenjak monumen Gerbong Maut diresmikan, bertempat di sisi selatan Alun-Alun Bondowoso menghadap utara, sebuah replika gerbong hitam dan patung yang menggambarkan perjuangan rakyat.
Pada fase awal pendiriannya, Monumen Gerbong Maut (beserta replika gerbong dan relief-reliefnya) difungsikan sebagai narasi hegemoni yang kuat. Kehadirannya di tengah kota, tepat di lokasi yang menjadi episentrum tragedi, memperkukuh memori kolektif masyarakat tentang pengorbanan para tahanan dan kebengisan kolonial.
Seiring waktu, statusnya sebagai monumen di ruang publik menjadikannya tak terhindarkan dari proses ikonisasi. Monumen Gerbong Maut kemudian kerap muncul dalam berbagai produk visual, baik yang diproduksi masyarakat Bondowoso, wisatawan, maupun pemerintah daerah.
Jika awalnya monumen ini dibangun sebagai penanda tragedi yang memilukan, menjadikannya sekadar latar berswafoto atau ikon kota Bondowoso menghadirkan ironi yang menarik untuk ditelisik lebih jauh.
Fadli Rasyid dan Monumen Gerbong Maut
Pada 2021 lalu, saya berkesempatan menengok beberapa arsip mengenai Gerbong Maut. Melalui Rz Hakim, saya dapat mengakses sejumlah dokumen penting yang berkaitan dengan monumen tersebut. Ia menunjukkan beberapa lembar arsip, mulai dari gambar tampak samping, rancangan pondasi, hingga sketsa Monumen Gerbong Maut itu sendiri.
Pada salah satu dokumen tertulis jelas: “Design Fadli Rasyid, tgl 12 Feb. 1975.” Dokumen lain memuat tanda tangan Bupati Bondowoso saat itu bernama R. Soerono yang menjabat pada 1973–1978 dan R. Soedibjo (Ketua Panitia Pembangunan), yang menandai persetujuan terhadap cetak biru Monumen Gerbong Maut.
Dari sinilah saya mengenal sosok Fadli Rasyid, seorang seniman multidisiplin yang lahir di Jember pada 7 Juli 1937 dan menghabiskan masa tuanya di Mumbulsari, Jember. Ia sempat menjadi guru Sekolah Rakyat di Bondowoso selama empat tahun, sebelum kemudian memilih melanjutkan karier keseniannya di Yogyakarta dan tergabung dalam komunitas Sanggar Bambu.
Sejak itu, ia dikenal sebagai seniman yang sangat produktif. Karyanya tidak berhenti pada seni rupa; ia turut berkecimpung dalam dunia sastra. Bersama Thoha Mochtar, Julius Siyaranamual, Trim Suteja, dan Asmara Nababan, ia mendirikan majalah anak-anak Kawanku pada 1970, yang pada 1990-an berubah format menjadi majalah remaja. Fadli Rasyid wafat pada 16 April 2009 dalam usia 71 tahun.
Fadli Rasyid dalam cetak biru yang dia desain memberi kesan sangat megah: komposisi patung-patung yang rapat dan menjorok keluar, penopang patung dengan gaya arsitektur jengki, serta struktur dua tingkat yang dihubungkan oleh tangga yang mengelilingi monumen.
Di antara tangga itu, tampak deretan relief dengan lampu penerangan di atasnya. Pada tingkat kedua berdiri patung-patung dan gerbong kereta, sementara di sekitarnya terdapat taman yang dihiasi bunga. Dalam gambar itu pula, jarak antara trotoar dan jalan tampak tidak terlalu jauh.
Berdasarkan arsip dan pengalaman empiris saya sebagai penduduk Bondowoso, terdapat sejumlah perbedaan antara rancangan Fadli Rasyid dan monumen yang akhirnya dibangun.
Garis Desain yang Membisu
Seperti telah saya jelaskan sebelumnya, terdapat perbedaan dalam desain awal yang dibuat oleh Fadli Rasyid dengan yang berdiri saat ini. Salah satunya adalah rancangan monumen bertingkat yang dilengkapi tangga melingkar di sekelilingnya.
Ketiadaan struktur bertingkat dalam pembangunan aktual otomatis menghilangkan akses tangga tersebut. Dari sini dapat diasumsikan bahwa Fadli menginginkan sebuah monumen yang “tidak berjarak” sebuah ruang yang dapat diakses publik kapan saja.
Dengan akses yang terbuka, penempatan relief pada tiga sisi monumen menjadi logis: ia memungkinkan pembacaan kronologi peristiwa Gerbong Maut secara utuh dan berkelanjutan.
Jika dibandingkan dengan monumen yang berdiri hari ini, hubungan publik dan monumen justru tampak semakin berjarak. Adanya pagar setinggi pinggang orang dewasa dengan ujung meruncing membuat akses masuk nyaris mustahil.
Keberadaan pagar ini kontradiktif dengan relief yang tetap dipasang di tiga sisi monumen: kiri, kanan, dan belakang. Satu-satunya bagian yang masih mungkin dilihat adalah sisi belakang, itu pun secara terbatas.
Sementara itu, jarak antara pagar dan relief terlalu jauh, diperparah oleh keberadaan air mancur di sisi kiri dan kanan monumen. Dari sisi pencahayaan, pemerintah hingga kini lebih memilih lampu LED strip yang digunakan untuk menghias pepohonan dan pagar ketimbang lampu sorot yang terarah, yang sebenarnya mampu menonjolkan patung dan gerbong dengan lebih layak.
Perbedaan antara cetak biru Fadli dan realitas monumen yang dibangun tentu berdampak besar terhadap distribusi pengetahuan mengenai tragedi Gerbong Maut. Jarak fisik yang tercipta antara masyarakat dan monumen berakibat pada jarak naratif dan jarak historis: publik sulit menjangkau, membaca, dan menafsir ulang tragedi ini secara langsung.
Dalam konteks hari ini, timbul pertanyaan: masihkah Monumen Gerbong Maut dapat dikatakan berfungsi sebagai simbolisasi tragedi yang ditugaskan untuk mengenang, mengedukasi, dan mentransfer pengetahuan sejarah?
Pada akhirnya, Monumen Gerbong Maut kian tereduksi menjadi patung-patung semen yang sekali waktu pernah dicat warna-warni. Narasinya memudar, menyisakan fungsi sebagai titik koordinat belaka.
Jika ditelisik kembali, Monumen Gerbong maut yang awalnya didirikan sebagai situs peringatan traumatis untuk memberi edukasi perihal ingatan pahit dan menanamkan nilai-nilai kepahlawanan, seiring berjalannya waktu dan transformasi budaya fungsi monumen ini telah bergeser secara signifikan. Bergerak dari objek kontemplasi historis menjadi ikon kota dan latar belakang estetis yang populer.
Pergeseran ini menciptakan perdebatan, di satu sisi, popularitas monumen di media sosial menjamin bahwa monumen tersebut terus dilihat dan dikunjungi. Di sisi lain, terjadi risiko kelupaan substansial akan pemahaman kedalaman narasi traumatis di baliknya.
Fenomena ini menegaskan bahwa nilai sebuah monumen tidak hanya pada yang diwakilkan, tetapi pada bagaimana bentuk dan tata ruang mengajak publik untuk berinteraksi dengan narasi sejarah yang ia bawa. Artinya, monumen saja tak cukup jika sejarah masih dianggap penting untuk dipelajari sebagai bekal masa depan.
Perlu kiranya kita terus memperbincangkan, menulis dan membuat konten tentang sejarah masa lalu Bondowoso. Terlebih masa kemerdekaan yang berkaitan dengan tragedi Gerbong Maut, nama besar E.J Magenda Komandan batalyon Andjing Laut dan pahlawan serta peristiwa lainnya.
Bukan hanya di ruang-ruang akademik saja tapi di ruang-ruang informal lainnya. Sehingga Monumen tidak hanya menjadi ikon kota yang narasi dan semangat juangnya terputus.
*) Penulis adalah seniman multidisiplin asal Bondowoso, aktif dalam Kolektif Kulon Project banyak membahas tentang isu kontemporer lokal Bondowoso.
Editor : Sidkin