Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Bencana Sumatera: Alarm untuk Jember dan Ancaman Kenaikan Suhu Laut, Opini oleh Adi Mustika, Dosen Teknik Lingkungan Unipar Jember

Sidkin • Kamis, 4 Desember 2025 | 00:00 WIB
Adi Mustika pengajar di Universitas PGRI Argopuro Jember
Adi Mustika pengajar di Universitas PGRI Argopuro Jember

BENCANA banjir bandang dan tanah longsor mematikan yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 bukan sekadar berita duka yang jauh di seberang pulau. Peristiwa tragis dengan puluhan korban jiwa dan ribuan pengungsi itu adalah alarm keras bagi seluruh wilayah pesisir dan dataran tinggi di Indonesia, termasuk Kabupaten Jember.

Meskipun Jember saat ini relatif aman dari dampak langsung Siklon Tropis Senyar yang menjadi pemicu utama hujan ekstrem di Sumatera, akar permasalahannya, yakni perubahan iklim global dan kerusakan lingkungan lokal adalah ancaman nyata yang sudah mulai kita rasakan.

Kita tidak boleh terlena dengan jarak. Jember, sebagai bagian dari Bumi yang semakin panas, berpotensi menghadapi tantangan yang sama.

Anomali Siklon dan Hukum Fisika yang Dikhianati

Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan curah hujan di Sumatera mencapai lebih dari 300 milimeter per hari di beberapa titik, jauh di atas batas ekstrem (150 mm/hari).

Penyebab langsungnya adalah kehadiran Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka. Yang paling mengkhawatirkan adalah, kemunculan siklon tropis sedekat itu dengan garis Khatulistiwa (seperti di perairan Aceh) merupakan fenomena anomali atau langka.

Secara kaidah meteorologi, siklon tropis sulit terbentuk di sekitar ekuator karena lemahnya Gaya Coriolis (gaya yang diperlukan untuk memutar badai).

Namun, anomali ini sangat dipengaruhi oleh Pemanasan Global. Suhu permukaan laut (SPL) di perairan Indonesia, terutama di sekitar Samudra Hindia, terus meningkat. Lautan yang lebih hangat adalah bahan bakar utama bagi siklon tropis, memberinya energi yang luar biasa besar. Kenaikan SPL akibat pemanasan global kini cukup kuat untuk "mengkhianati" hukum fisika lama, memungkinkan pembentukan siklon yang kuat bahkan di dekat ekuator.

Selain itu, faktor terpenting bagi kita di Jember adalah prinsip fisika lain: udara yang lebih panas menampung lebih banyak uap air. Ketika suhu atmosfer naik, atmosfer menjadi seperti spons raksasa yang menyerap kelembapan ekstra.

Ketika sistem badai, seperti angin Monsun atau siklon tropis, melintas, 'spons' ini diperas, melepaskan air dalam volume yang jauh lebih besar dan intensitas yang lebih tinggi daripada masa lalu.

Ini berarti, di masa depan, Jember harus bersiap menghadapi potensi curah hujan yang lebih dahsyat pada musim hujan, yang puncaknya berpotensi memicu bencana lokal.

Ancaman Nyata di Pesisir Selatan: Kenaikan Muka Air Laut

Ancaman nyata lain yang harus kita hadapi di Jember, khususnya wilayah pesisir selatan seperti Puger, Kencong, hingga Wuluhan, adalah kenaikan permukaan air laut (sea level rise).

Data terbaru BMKG menunjukkan bahwa laju kenaikan muka laut di wilayah Indonesia mencapai rata-rata 4,3 milimeter per tahun (periode 1992-2024). Angka ini bahkan lebih cepat dibandingkan rata-rata kenaikan global. Kenaikan permukaan air laut adalah hasil langsung dari pemanasan global yang menyebabkan: (1) Ekspansi Termal air laut yang memuai karena suhu yang lebih panas, dan (2) Mencairnya es di Greenland dan Antartika.

Kenaikan yang tampak kecil ini—beberapa milimeter per tahun—terus menumpuk dan berakibat fatal di garis pantai yang landai seperti Jember bagian selatan. Kenaikan air laut meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir rob (banjir pasang) dan menyebabkan intrusi air laut (air asin masuk) ke sumur dan lahan pertanian pesisir.

Bagi Jember, ancaman ini bukan hanya soal menggenangi rumah warga, tetapi juga hilangnya aset ekonomi dan budaya. Bayangkan, lahan tambak dan perikanan yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat pesisir dapat hilang permanen.

Infrastruktur pariwisata pantai, yang mulai berkembang pesat di Jember, juga akan rusak dan tergerus abrasi. Jika skenario terburuk kenaikan muka laut global terjadi, risiko dislokasi dan pengungsian komunitas pesisir secara massal bukan lagi isapan jempol, melainkan PR besar yang harus disiapkan solusinya hari ini.

Refleksi untuk Jember: Dari Kerusakan Hulu ke Biaya Hilir

Bencana di Sumatera diperparah oleh kerusakan tutupan lahan di kawasan hulu. Hal yang sama terjadi di Jember. Kerusakan hutan dan alih fungsi lahan di lereng Gunung Argopuro dan sekitarnya mengurangi kemampuan tanah untuk meresapkan air. Hutan berfungsi sebagai reservoir alami, menahan air hujan agar meresap perlahan.

Ketika hutan rusak, air tidak lagi tertahan. Air hujan ekstrem yang turun dalam waktu singkat menjadi aliran air permukaan (run-off) yang cepat, membawa sedimen (lumpur) dalam jumlah besar. Sedimentasi ini mendangkalkan sungai-sungai utama Jember, seperti Sungai Bedadung dan Sungai Mayang.

Sungai yang dangkal dan debit air yang sangat tinggi dari hujan ekstrem adalah resep sempurna untuk banjir besar di kawasan perkotaan dan hilir, seperti yang pernah terjadi di sejumlah titik strategis.

Dampak ekonomi yang ditimbulkan dari banjir ini sangat besar, mulai dari kerusakan infrastruktur jalan, kerugian sektor pertanian akibat gagal panen, hingga biaya pembersihan dan pemulihan pasca-bencana.

Kerugian ini jauh lebih mahal daripada biaya konservasi dan penegakan hukum di wilayah hulu. Jember memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga kawasan hutannya sebagai benteng pertahanan pertama terhadap bencana hidrometeorologi.

Upaya Konkret: Aksi Tiga Pilar Perubahan

Bencana Sumatera adalah momentum untuk mengoreksi diri. Pemerintah Kabupaten Jember dan seluruh masyarakat perlu segera mengambil langkah konkret. Tindakan ini memerlukan sinergi dari tiga pilar utama: Pemerintah, Akademisi, dan Masyarakat.

 

1. Konservasi Hulu dan Penegakan Hukum yang Ketat

Harus ada penegakan hukum yang tegas terhadap praktik alih fungsi lahan dan penebangan liar di kawasan penyangga dan hutan. Gerakan reboisasi dan penanaman pohon yang ramah lingkungan (bukan monokultur) harus menjadi agenda prioritas, khususnya di wilayah lereng Argopuro, dengan melibatkan masyarakat lokal sebagai penjaga hutan.

2. Manajemen DAS Terpadu dan Infrastruktur Hijau

Pemerintah perlu mengintegrasikan manajemen Daerah Aliran Sungai (DAS), melibatkan hulu hingga hilir, termasuk normalisasi sungai dan pengerukan sedimen. Program mitigasi harus memperhatikan data kenaikan muka air laut, dengan membangun infrastruktur hijau seperti coastal barrier alami atau restorasi mangrove di kawasan pesisir yang rentan.

3. Peran Akademisi dan Media Massa

Institusi pendidikan tinggi di Jember, harus menjadi pemimpin dalam penelitian adaptasi iklim. Penelitian harus berfokus pada pengembangan varietas pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim dan desain infrastruktur yang tahan bencana. Sementara itu, media lokal memegang peran vital untuk terus menerus menyebarkan edukasi mitigasi bencana kepada publik secara akurat dan mudah dicerna, mengubah kewaspadaan menjadi budaya.

4. Edukasi dan Kesiapsiagaan Komunitas

Masyarakat harus diedukasi secara berkelanjutan mengenai jalur evakuasi, tanda-tanda awal longsor, dan apa yang harus dilakukan saat banjir datang. Kesiapsiagaan individu adalah lini pertahanan pertama yang tidak dapat digantikan oleh teknologi manapun.

Bencana bukan hanya takdir, melainkan juga hasil dari pilihan kita dalam mengelola lingkungan. Jember memiliki tanggung jawab ganda: ikut berpartisipasi dalam mitigasi dampak perubahan iklim global, sekaligus menjaga paru-paru dan aset pesisir daerah sendiri dari kerusakan. Jangan sampai kita menunggu bencana sekelas Sumatera terjadi di Jember untuk menyadari betapa pentingnya pohon, sungai, dan laut yang sehat.

Mari jadikan duka di Sumatera sebagai pemicu untuk aksi nyata, transformatif, dan berkelanjutan di Jember.

 

*) Penulis adalah dosen Teknik Lingkungan, Universitas PGRI Argopuro Jember.

Editor : Sidkin
#tanah longsor #aceh #ancaman #sumatera utara #suhu laut #bencana Sumatera #banjir bandang #bencana #alarm bahaya #sumatera barat