WAKTU saya masih kecil, pernah ada permainan dari benang yang dipanjangkan lalu ujung benangnya di beri batu. Lawannya juga melakukan hal yang sama, benangnya dipanjangkan ujungnya di beri batu lalu kita sambit-kan benang-benang tadi, yang batunya jatuh kalah.
Ada juga permainan layangan yang teorinya mirip. Cuma kalau layangan bermainnya di udara. “Sambitanya’ juga di udara. Yang putus layangannya kalah.
Tanggal 4 Desember 2025 Supermarket Nasional Superindo resmi hadir di kota Jember. Menempati area di Transmart yang kini berubah menjadi Transmall. Mengusung belanja kebutuhan sehari-hari dengan konsep ritel modern. Yang dijual beragam dari buah-buahan segar, sayur mayur bahkan daun pisang juga dijual. Tentu saja aneka produk kemasan modern dari air minum bening sampai air berwarna juga ada. Ikan hidup ada, di bantu goreng atau bakar? Bisa dong.
Alfa gudang rabat adalah nama pertama dari tempat yang di pakai Superindo. Lalu berubah menjadi Carrefour dengan renovasi besar-besaran saat itu. Waktu zaman Carrefour, laris manis, ada prospek dan masa depan di Jember. Lalu biasa di dalam sebuah bisnis harus optimis dan berkembang.
Carrefour berganti menjadi Transmart. Bukan cuma restorasi minor tapi benar-benar membangun sebuah tempat dari nol. Ada konsep belanja, bermain dan menonton di dalamnya.
Sukses? Ya pasti! Saat pembukaan boss Chairul Tanjung yang dikenal dengan CT hadir langsung. Saya sempat satu Roller coaster bersama CT saat pembukaan Transmart.
Ga ada yang menduga kalau sebuah tempat yang besar harus menyerah kepada pandemi Covid saat itu. Pelan-pelan Transmart memudar dan harus menyerah. Konsep baru di usung, nama Transmart di ganti Transmall dengan harapan ada banyak gerai orang lain yang akan mengisinya.
Masuklah Superindo pemain luar kota Jember, investor besar yang akan bermain bersama di kota kecil yang semakin kelihatan kecil akhir-akhir ini. Selamat datang Superindo, ayuk main layangan bareng!
Mall pertama di Jember ada di Johar Plaza, Matahari yang menguasai pasarnya. Sumber Mas masuk lalu terbakar. Niko busana cikal bakal Roxy, Hardys mencoba di gedung bekas Sumber Mas yang terbakar, Golden Market menempati lahan bekas Damri, Roxy mall masuk lalu ada Lippo Mall. Giant masuk dengan susah payah dengan tekanan warga.
Semakin ramailah pemain-pemain besar yang masuk ke Jember. Seperti permainan layangan tadi ada yang menang dan juga ada yang kalah. Giant, Hardys, Transmart adalah pemain yang kalah “sambitan” Roxy juaranya, diikuti Lippo Mall, baru Golden Market. Kini Transmart mencoba bangkit dengan nama baru Transmall dengan ujung tombak Superindo.
Mie Apong dulu buka pakai gerobak di jalan Gatot Subroto depan gedung Bank BCA merajai dunia per-mie-an di kota Jember. Keluarga besar suk-suk Apong bisa hidup berkelimpahan bahkan bekas tukang masaknya pun bisa sampai punya usaha mie juga.
Namun konsep per-mie-an berubah sejak di daerah kampus ada Mie Kober dengan level pedas-pedasnya. Tak sampai di situ Wizzmie pemain luar daerah pun masuk.
Cuma Wizzmie? Ah tidak juga, Nama besar yang memakai tag line jagonya mie nomor satu di Indonesia masuk besar dengan buka dua tempat sekaligus, siapa dia?
Mie Gacoan masuk! Gedung baru membangun dari nol konsep industry. Menjual level pedas dan rasa bangga makan di Mie Gacoan sambil merayakan ulang tahun sederhana tapi tetap dengan lagu yang dinyanyikan oleh staf gercep mereka semua. Layar TV besar, panggilan tiap meja terpampang jelas seperti antre di rumah sakit atau di bank. Apong bisa seperti itu? Ada yang masih bangga duduk di Mie Apong sambil merayakan ulang tahun?
Gempuran toko roti juga membuat Jeannete, Roti 46, Wina, Sentral harus masuk ke dalam kategori toko roti dimakan sendiri. Kalau mau membawa buah tangan roti kepada teman atau orang sakit pilihannya bukan ke roti 46 yang dikenal sebagai roti nya orang mati. Tapi lebih bernyawa membawa goodiebag Holland bakery atau Harvest. Ada fashion food yang dibangun merk luar tadi.
Apalagi ya? Toko bangunan lokal sejak adanya Depo Bangunan, Milenial, D house harus memasang tulisan besar juga mengimbangi tulisan besar dari promosi harga murah dan berhadiah dari toko modern tadi. Tapi isi tulisannya bukan bersaing promo besar juga, namun isinya dijual cepat!
Air minum juga tak lepas dari serbuan merk luar Jember. Sekelas Mc Donald dan Hotel berbintang yang berinvestasi dan membuka usaha di Jember saat itu wajib dalam tanda petik memakai brand Alqodiri.
Pemain luar kota Jember atau pemain merk Nasional sekelas Aqua, Le mineral, Cheers, Cleo harus mencari celah sempit untuk bisa masuk ke dalam kotak kue rapat di pemerintah daerah.
Sekarang air minum dari lintas provinsi pun masuk ke kota Jember, mengajak bermain layangan, mengajak bermain sambitan di kota kita. Siapa yang akan menang? Al qodiri? Ampo? Hazora? Atau tetap Aqua yang semakin di tekan semakin laris saja!
Belajar dari perubahan waktu perubahan zaman perubahan perilaku, dan belajar dari Kantor POS yang ada sejak zaman penjajahan di bumi Pertiwi, punya banyak asset tersebar di kota sampai kecamatan kelurahan sampai kampung, tapi maaf kalah telak 12-0 oleh JNT dan rekan-rekannya. Ayo POS layangan lagi yuk!
Lebih luas dan lebar lagi. Shoppe si dua sisi hidup dan mati, kenapa saya menyebutnya di dua sisi? Karena Shopee memberi kehidupan sekaligus kematian bagi banyak orang.
Hidup sekarang ini bukan mudah, bukan pula sulit. Jangan mengeluh kalau ada layang-layang baru yang muncul di udara kita. Jangan pula kaget, apalagi sampai jantungan.
Tetaplah bermain layangan. Beli benang yang baru terus di “gelas” lagi pakai “kotok” yang baru. Siapkan kaleng dan pemutar benangnya jangan ada karat di kalengnya. Jari telunjuk pasang tensoplast dobel, pakai yang bahannya plastik biar benangnya tergelincir.
Jari jempol pandai-pandai “mengetak” jari telunjuk dan jangan main siku, mainlah hentakan yang kadang ringan kadang keras. Pelajari juga lagu anak-anak kuambil buluh sebatang kupotong sama panjang, kuraut dan kuikat dengan benang, kujadikan layang-layang. Bermain, berlari, bermain layang-layang, bermain kubawa ke tanah lapang. Hati gembira dan senang!
*) Penulis adalah Owner House Music Jember.
Editor : Sidkin