Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Refleksi Akhir Tahun Kepemimpinan Jember dan Hari HAM Sedunia, Opini oleh Aries Harianto, Akademisi Unej dan Ketua Dewan Pakar ICMI Jember

Sidkin • Minggu, 14 Desember 2025 | 01:45 WIB
Refleksi Akhir Tahun Kepemimpinan Jember dan Hari HAM Sedunia JALAN Oleh:  Aries Harianto
Refleksi Akhir Tahun Kepemimpinan Jember dan Hari HAM Sedunia JALAN Oleh: Aries Harianto

JALAN, perjalanan, jalan-jalan, adalah diksi pilihan. Akrab diucapkan. Setiap saat siapa pun mengalami dan menggunakan. Jalan adalah refleksi filsafati menuju ke atau kembali dari. Bisa bermakna proses, juga berarti akses. Jalan acapkali berkonotasi visual. Berupa infra struktur dalam beragam kondisi.

Pengertian jalan lebih dari bentang bidang memanjang. Kasad mata beraspal atau makadam. Lebar atau sempit, tempat lalu lalang kendaraan hingga pejalan kaki. Ada jalan buntu, ada jalan terusan. Jalan secara fungsional menjawab kebutuhan banyak orang. Menentukan akselerasi pelayanan. Mempengaruhi fluktuasi perekonomian.

Jalan adakalanya menyimpan makna sebagai mindset. Terpatri dalam akal pikiran, terucap menjadi pesan. Butuh dirawat sebagai alat. Dilalui secara konsisten sebagai rumus berpikir paten. Orang menyebut dengan istilah logika.

Pendek kata, jalan merupakan penentu hidup dan kehidupan. Korban bencana sekarat di lokasi kejadian, terlambat mendapat asupan, karena jalan. Gubernur Aceh berurai air mata karena jalan mengambil keputusan tidak semudah membalik telapak tangan.

Dalam perspektif teologis, jalan adalah rangkaian metodis sebagai dogma samawi. Disebutkan dalam  Alquran Surat Al-An’am 153 : ‘……..janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain karena jalan-jalan itu akan mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya.

Hindupun secara tegas menancapkan keyakinan soal jalan menuju Sang Hyang Widi Wasa. Dikenal dengan ajaran Catur Marga dalam kitab Bagavat Gita. Apalagi Kristiani. Ditegaskan dalam Yohanes 14 : 6. Kata Yesus : ‘Akulah jalan dan kebenaran dalam hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’.

Keagungan tentang jalan, tak bisa dipungkiri. Jalan merupakan wahana menuju Tauhid dan Tauhid itu sendiri. Melapangkan jalan berarti memudahkan pencapaian. Melebarkan jalan, mempercepat terpenuhinya kebutuhan. Merawat jalan, sama halnya merawat komunikasi dengan Tuhan.

Hampir setahun sejak 20 Februari 2025, perjalanan Jember Baru Jember Maju (JBJM). Ditaburi ‘cinta’ sebagai spirit meraih cita. Pink dijadikan ikon eksotik. JBJM, Cinta dan Pink adalah jalan. Sarana lalu lalang kebijakan dan kendali pelayanan. Ditetapkan dalam rangka membangun kesejahteraan. Digelorakan untuk meringankan hajat kehidupan. Ironinya, kini Jember tengah mengalami ‘darurat jalan’. Jalan buntu dan penyempitan jalan.

Buntu karena perseteruan bupati dan wakilnya belum menemukan jalan harmoni. Perseteruan itu adalah fakta. Tak butuh logika dan analisa. Tiada guna saling berbantah, apalagi beradu teori yang itu-itu saja. Fakta adalah entitas berbicara. Tak perlu tafsir siasat yang hendak mendramatisir realitas dengan berbagai istilah verbalitas.

Tidak penting menghakimi siapa yang salah. Tak bisa diingkari bahwa perseteruan itu membebani publik. Menghambat optimalisasi fungsi. Memamerkan perilaku immoral dalam ranah nasional.

Kontestasi pilkada sudah tuntas namun sentimen masih mewarnai otoritas. Menebar miskinnya rasa malu dan rasa bersalah. Bertengkar itu jelek dan tidak intelek. Saling menjegal dengan lisan yang tak berakal. Kritik dimaknai intrik. Pujian dipahami kecintaan. Unjuk rasa disikapi biasa biasa saja.

Namun tidak semua elemen masyarakat bisa mengekspresikan kehendak melalui unjuk rasa. Apalagi minoritas yang selalu dalam ‘posisi tertindas’. Kini, saudaraku umat Kristiani terutama yang memiliki tempat ibadah di Jalan Kartini Jember sembab matanya. Menangis pasrah sebab Tuhan tengah menguji kesabarannya. Tanpa didengar aspirasinya, tiba-tiba proyek Jalan Kartini dikerjakan. Luasan trotoar ditambah lebar dengan meminta pihak lain untuk bersabar. Jalan Kartini menjadi sempit, pengguna jalan kian terhimpit. Surat terbuka sudah di luncur namun sepi respon aparatur.

Kenyamanan ibadah berkurang. Euforia dan khidmad Natal yang sebentar lagi digelar diselimuti duka. Sahdu Silent Night tetap berkumandang nantinya, meskipun malam itu menjadi Crying Night. Hati mereka tetap khidmad dalam Tuhan dan perayaan, namun pancaran sinarnya tak seterang pohon natal di sekelilingnya.

Perundingan sudah dilakukan, yang terjadi justru ‘penekanan’. Saudaraku umat Kristiani menyadari. Keberadaannya bukan penentu. Reaksinya hanya bisa menggerutu. Bukan negosiator sehingga tak bisa melakukan peran sebagai aktor.

Perundingan dengan otoritas tak lebih sebatas sosialisasi yang melahirkan harga mati. Proyek trotoar jalan terus, perih nurani tak terurus. Tahun baru diambang pintu. Harapan baru masih kelabu. Masyarakat Jember kian tak bertenaga. Cukup lelah mencari cinta karena cinta tak lagi tumbuh di Wahyawibawagraha. Dua sosok masih tak akur, lupa diri melakukan tafakur.

Disharmoni menciptakan kuasa mutlak. Nir kontrol. Korupsi adalah monopoly power plus discretion by officials minus accountability. Demikian R.Klitgard menyebut dalam rumus korupsinya. Korupsi terjadi manakala ada monopoli kekuasaan ditambah wewenang yang luas tanpa adanya akuntabilitas. Haruskah kenyataan demikian tumbuh kembang dalam persemaian masyarakat yang tengah menggantung harap?

Masyarakat Jember adalah bagian dari NKRI. Umat Kristiani adalah anak konstitusi. Semua punya hak untuk hidup tenang dan berkepastian. HAM melekat pada diri mereka. HAM bukan pemberian negara dan bukan hibah dari pemeritah daerah. 

Otoritas hanya berkewajiban menjaga dan melindungi HAM sebagai anugerah-Nya. Jangan sampai HAM sebagai penentu eksistensi predikat sebagai manusia justru dinegasikan. Semua ini sudah tersurat dalam UUD Negara RI Tahun 1945.

Di pengujung tahun, seharusnya masyarakat Jember menjadi Tuan di daerah sendiri. Sore bersarung bercengkerama di warung-warung. Menikmati kopi lokal dan kepulan asap rokok herbal yang tidak ilegal. Saat tertentu jalan jalan dengan keluarga, swafoto di alun-alun terbuka.

Begitu indahnya, Jember menjadi hamparan senyum masyarakat seolah kehidupan tanpa kiamat. Aman, nyaman dan merdeka, tak boleh sebatas imajinasi belaka karena pembangunan pada hakikatnya adalah upaya memanusiakan manusia. Selamat merayakan Natal dan Hari HAM Sedunia sebagai jalan menuju Jember Manusiawi.

 

*) Penulis adalah akademisi Fakultas Hukum Unej dan Ketua Dewan Pakar ICMI Jember

 

Editor : Sidkin