BENCANA banjir yang melanda sebagian wilayah Jember pada 15 Desember 2025 silam, meninggalkan kenangan pahit: rumah terendam, jalan-jalan berubah menjadi sungai, jembatan hanyut, dan banyak warga yang terdampak. Peristiwa ini bukan lagi sekadar "bencana alam biasa," melainkan sebuah pertanda kritisnya kesehatan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bedadung. Sebagai akademisi, saya ingin mengajak kita semua, pemerintah, masyarakat, dan para pemangku kepentingan untuk melihat banjir ini dari kacamata ilmiah.
Sebelum membongkar akar masalah, penting untuk menegaskan bahwa bencana ini tidak datang tiba-tiba. Pada pertengahan November 2025, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merilis prakiraan musim hujan untuk Jawa Timur.
Dalam rilis resminya, BMKG memprediksi bahwa Desember 2025 hingga Februari 2026 akan menjadi puncak musim hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi. Prakiraan ini bukan ramalan biasa, tetapi merupakan hasil analisis data satelit, pemodelan iklim global, dan observasi lapangan. Namun, peringatan dini ini tampaknya tidak cukup dikonversi menjadi aksi pencegahan yang masif dan sistematis.
Analisis Puncak Bersamaan: Bencana yang Dirakit Perlahan-lahan
DAS Bedadung bukan satu kesatuan yang homogen. Ia terdiri dari beberapa sub-DAS utama yang seperti anak sungai raksasa: Hulu Bedadung (pegunungan Argopuro-Raung), Kali Jompo, Mayang, dan Rembangan. Masing-masing memiliki karakter dan respons berbeda terhadap hujan.
Yang terjadi pada 15 Desember 2025 adalah skenario terburuk: "Synchronization of Peak" atau puncak banjir bersamaan. Hujan sangat lebat yang diprediksi BMKG mengguyur merata di hampir seluruh wilayah hulu menyebabkan keempat sub-DAS ini memproduksi debit puncak dalam waktu yang berdekatan.
Aliran deras dari Hulu Bedadung yang berlereng curam bertemu dengan kiriman air dari Kali Jompo yang daerah tangkapannya luas. Bersamaan dengan itu, Mayang dan Rembangan yang berkarakter respons cepat akibat topografi dan tekanan lahan, juga menyumbangkan limpasan besar.
Semua "kiriman banjir" ini kemudian bertemu dan berhimpitan di bagian hilir yang menyempit dan melintasi kawasan urban padat: Patrang, Kaliwates, dan Sumbersari. Sungai Bedadung di titik-titik ini ibarat selang kecil yang dipaksa menyalurkan debit dari empat pompa besar secara bersamaan. Hasilnya pasti meluber. Inilah mengapa banjir di Jember seringkali datang cepat, dan tinggi.
Dua Penyakit Kronis DAS Bedadung: Penyempitan dan Pengerasan
Skenario puncak bersamaan tadi diperparah oleh dua penyakit kronis yang menggerogoti DAS Bedadung selama dekade terakhir. Penyakit ini memperbesar dampak dari hujan ekstrem yang sudah diprediksi.
Pertama: Penyempitan dan Pendangkalan Kapasitas Sungai. Data historis dan pengukuran lapangan menunjukkan kapasitas Sungai Bedadung di segmen hilir hanya berkisar 600-800 meter kubik per detik.
Sementara itu, simulasi hidrologis menunjukkan, hujan periode ulang 10 tahunan saja dapat menghasilkan debit sekitar 900-1100 m³/detik. Jelas ada selisih (defisit) kapasitas yang sangat besar. Sedimentasi dari erosi di hulu dan sampah di hilir semakin memperparah pendangkalan.
Kedua: Pengerasan Lahan (Impervious Surface) yang massif. Ini adalah faktor kunci yang memperburuk respons hidrologis. DAS Bedadung, khususnya di zona tengah dan hilir, telah mengalami perubahan tata guna lahan besar-besaran. Sawah, kebun, dan area resapan berubah menjadi permukiman, perumahan, pusat perbelanjaan, dan jalan dengan perkerasan.
Permukaan kedap air ini menyebabkan air hujan tidak punya waktu untuk meresap ke dalam tanah. Hampir 70-80 persen air hujan langsung menjadi runoff atau limpasan permukaan yang meluncur deras ke saluran dan sungai. Metode Curve Number (CN) menunjukkan angka CN semakin tinggi (mendekati 78), mengindikasikan lahan yang semakin kedap.
Artinya, DAS kita semakin "haus" tetapi tidak bisa minum karena tanahnya sudah dilapisi beton dan aspal, sehingga setiap prediksi hujan lebat hingga sangat lebat yang dirilis BMKG, otomatis menjadi ancaman banjir nyata.
Peringatan Dini BMKG adalah “Surat Perintah” untuk Lebih Proaktif dan Adaptif
Melihat kompleksitas masalah dan fakta bahwa BMKG akan terus memprediksi potensi cuaca ekstrem di masa depan akibat perubahan iklim, mustahil menyelesaikannya dengan pendekatan sektoral dan tambal sulam.
Kita membutuhkan strategi terpadu berbasis DAS (watershed-based management) yang dijalankan secara konsisten. Peringatan dini BMKG harus menjadi “surat perintah” untuk melakukan aksi preventif, bukan hanya siaga darurat. Strategi yang harus dilakukan diantaranya:
Kesatu: Intervensi di Hulu: Memulihkan Fungsi Ekosistem Penahan Air
Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kritis: Program penghijauan (reboisasi) dengan jenis tanaman berakar dalam dan bernilai ekonomi di sub-DAS Hulu Bedadung dan Kali Jompo harus digalakkan. Ini adalah benteng pertama menahan air hujan ekstrem.
Rekayasa Teknis Konservasi: Pembangunan embung kecil, check dam, dan sumur resapan skala besar di sub-DAS Mayang dan Rembangan sangat penting untuk memotong dan menahan aliran sebelum mencapai sungai utama. Air ditahan sementara, kemudian dilepaskan perlahan setelah puncak hujan ekstrem berlalu.
Kedua: Revolusi di Hilir: Meningkatkan Kapasitas dan Menciptakan Ruang untuk Air
Normalisasi Plus: Normalisasi sungai tidak boleh hanya membersihkan dan meluruskan. Harus ada peningkatan dimensi saluran pada titik-titik bottleneck strategis. Kajian teknis hidraulika harus menentukan di mana perlu pelebaran, pendalaman, atau pembuatan kanal pembantu (sodetan/bypass) untuk mengalihkan sebagian debit saat kondisi kritis seperti yang diprediksi BMKG.
Kembalikan Ruang Sungai: Sosialisasi dan penegakan hukum terhadap bangunan di sempadan sungai dan daerah genangan harus tanpa kompromi. Sungai butuh ruang untuk "bernapas" saat debit tinggi. Konsep "Room for the River" dengan menciptakan taman tematik dan area retensi di bantaran sungai bisa diadopsi.
Ketiga: Pengendalian di Zona Tengah: Mengatur Antara Sumber dan Muara
Penegakan Tata Ruang yang Ketat: RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) harus menjadi hukum yang hidup. Koefisien dasar bangunan (KDB) dan koefisien hijau harus ditegakkan. Setiap pengembang perumahan dan kawasan industri wajib menyertakan sistem drainase berkelanjutan (biopori, sumur resapan, kolam retensi) yang mampu menahan 100 persen limpasan dari arealnya.
Transisi ke Kota Spons (Sponge City): Infrastruktur hijau seperti atap hijau (green roof), permeabel pavement (jalan yang bisa meresap air), dan rain garden (taman penyerap hujan) harus menjadi standar baru pembangunan di Jember.
Keempat: Membangun Ketangguhan dengan Teknologi dan Partisipasi
Sistem Peringatan Dini Cerdas: Investasi pada alat pemantau hujan (AWS) dan debit sungai (AWLR) otomatis di setiap sub-DAS utama. Data ini terintegrasi dalam sebuah Decision Support System (DSS) yang bisa memprediksi waktu dan skala banjir beberapa jam sebelumnya, memberi waktu evakuasi yang cukup. Sistem ini harus menyatu dengan peringatan cuaca ekstrem dari BMKG.
Pendidikan dan Mobilisasi Masyarakat: Kampanye "Satu Rumah Satu Biopori," gerakan bersih sungai rutin, dan pendidikan bencana sejak dini di sekolah. Masyarakat harus diajak memahami arti prakiraan BMKG "potensi hujan ekstrem" dan tindakan konkret yang harus dilakukan di tingkat RT/RW.
Banjir 15 Desember 2025 adalah alarm keras. Ia membuktikan bahwa peringatan sains dari BMKG bertabrakan dengan kerentanan sistem DAS kita. Momentum ini tidak boleh disia-siakan. Dibutuhkan kemauan politik yang kuat, anggaran yang memadai, dan koordinasi lintas OPD yang solid untuk mengimplementasikan solusi terpadu ini.
Mari kita jadikan setiap prakiraan cuaca ekstrem BMKG sebagai "surat perintah" untuk mengecek dan memperkuat infrastruktur ekologis dan hidrologis DAS Bedadung. Keselamatan warga Jember bergantung pada pilihan dan tindakan kita hari ini. Jangan sampai prediksi BMKG di bulan-bulan berikutnya kembali menjadi berita duka yang kita sesali karena tidak berbuat apa-apa.
*) Penulis adalah Dosen Teknik Lingkungan, Universitas PGRI Argopuro Jember.
Editor : Sidkin