WANITA, selalu dikaitkan dengan riasan cantik, lemah lembut dan lemah gemulai. Bahkan apabila wanita bertingkah kasar maka akan mendapat julukan yang mengarah pada kelaki-lakian atau tomboy. Meskipun tidak seharusnya demikian. Karena seribu macam karakter bisa berada di dalam diri wanita. Di situlah hebatnya wanita.
Emak-emak, istilah baru untuk para wanita yang mulai digunakan tahun 2018 dan melejit satu tahun setelahnya. Istilah emak-emak seakan-akan menyandang sebuah stereotip tertentu di media sosial.
Sebuah istilah menggantikan sebutan ibu-ibu (yang pasti juga wanita) yang bermakna peyoratif yaitu menunjukkan makhluk yang tidak bisa apa-apa kecuali menjadi emak. Makna tersebut kemudian mencair dengan banyaknya pembuktian bahwa ternyata emak-emak malah berdaya bahkan bisa berinteraksi dan berkarir sukses di semua lini kehidupan.
Emak-emak sangat berdaya. Dari zaman ke zaman emak-emak selalu punya peran di masanya sendiri. Emak-emak selalu punya cerita yang tidak tergantikan. Mereka mempunyai peran untuk mewarnai dunia dengan tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita.
Khadijah binti Khuwailid merupakan istri Rasulullah SAW yang pertama. Khadijah merupakan wanita tangguh yang sukses di bidang perdagangan. Wanita pertama yang masuk Islam ini rela mengorbankan hartanya untuk perjuangan dakwah Nabi. Dia wanita yang setia, ikhlas, dan berakhlak mulia hingga akhir hayatnya.
Aisyah binti Abu bakar. Wanita yang dinikahi Nabi pada usia yang masih belia ini merupakan wanita yang kritis dan pemberani. Dalam beberapa peperangan, Aisyah-lah yang memimpin. Aisyah merupakan wanita yang cerdas.
Dalam sejarah Islam, Aisyah menyuguhkan perspektif wanita tentang banyak hal. Bahkan ada riwayat yang mengatakan bahwa separuh dari riwayat hadits yang dibagikan berasal dari kaum laki-laki dan separuhnya lagi dari Aisyah. Tentu ini bukan dalam pengertian kuantitatif tetapi dalam hal pembagian antara riwayat seputar kehidupan rumah tangga Nabi dan ranah publik.
Ibn bin Rimtsah atau Abu Rimtsah. Dokter wanita pertama dalam peradaban Islam yang hidup di zaman Rasulullah SAW. Abu Rimtsah ahli di bidang bedah. Dia sering ikut menyembuhkan luka para tentara Islam yang sedang bertempur.
Jika Abu Rimtsah merupakan dokter wanita pertama dalam Islam maka Rufaidah Al Islamiyah merupakan perawat muslimah pertama dalam Islam. Dia seorang tokoh medis dan sosial. yang merintis praktik keperawatan dan mendirikan pusat kesehatan Islam pertama pada zaman Nabi. Dia sering melayani dan mengobati luka para tentara di medan perang.
Peran wanita tidak hanya berkisar di zaman Nabi. Elizabeth 1 merupakan ratu Kerajaan Inggris dan Irlandia (17 November 1558-kematiannya). Ia dijuluki The Virgin Queen (Ratu Perawan) karena dia tidak pernah menikah meskipun beberapa kali berpacaran. Sampai muncullah kultus (pemujaan) yang dapat dilihat dalam bentuk potret arak-arakan dan sastra.
Ia merupakan penguasa monarki kelima dan terakhir dari Dinasti Tutor. Salah satu semboyannya yang terkenal adalah video et taceo (saya melihat dan tidak mengatakan apa-apa). Dengan dasar semboyan tersebut, dia relatif toleran terhadap kepercayaan lain dan tidak melakukan penganiayaan.
Di bidang keilmuan ada nama Maria E. Beasley (Hauser, 1836-1913) yang merupakan seorang penemu penghangat kaki, rakit penyelamat yang lebih baik, dan alat anti kecelakaan kereta api. Keberhasilan utamanya sebagai penemu muncul dari spesialisasinya di bidang mesin dan pembuatan tong. Beasley juga yang pertama kali menciptakan sekoci darurat penyelamatan kapal laut yang bisa menyelamatkan banyak nyawa saat terjadi bencana.
Di Indonesia juga mempunyai wanita-wanita yang juga tidak kalah tanding yang berhasil tercatat dalam sejarah yang tidak akan lengkang oleh waktu. Raden Ajeng (R.A) Kartini (1879-1904) merupakan pahlawan nasional keturunan bangsawan Jawa yang menjadi pelopor emansipasi wanita, memperjuangkan hak pendidikan dan kesetaraan bagi perempuan pribumi.
Pemikiran-pemikiran tersebut tertuang dalam surat-suratnya yang dikirim ke sahabatnya di Belanda. Sebagai bentuk penghargaan atas kegigihan Kartini, pada tahun 1912 didirikanlah Sekolah Kartini oleh Yayasan Kartini yang berdiri di beberapa kota besar di Indonesia. Salah satu semboyan terkenal yang dicetuskan Kartini adalah Habis Gelap Terbitlah terang.
Indonesia juga terkenal dengan pahlawan di medan tempur. Cut Nyak Dhien (1848), Srikandi Aceh yang tak gentar melawan kolonial Belanda. Dia mulai mengangkat senjata setelah kematian suaminya di medan perang. Dia membuktikan bahwa kehilangan orang-orang terkasih dapat diubah menjadi semangat juang tak tidak terbatas untuk membela bangsa dan negara.
Cut Nyak Dhien dapat ditangkap oleh Belanda karena tempat persembunyiannya dibocorkan oleh panglimanya sendiri. Da diasingkan di Sumedang dan dijuluki Ibu Perbu atau Ibu Suci karena sering memberikan pengajian ilmu agama kepada masyarakat setempat.
Dewi Sartika (1884-1947). Pelopor pendidikan wanita yang berasal dari tanah Sunda. Dia dikenal sebagai perintis pendidikan untuk kaum wanita di Jawa Barat. Wanita yang menolak poligami ini menjadi pencetus sekolah perempuan pertama di Jawa barat.
Hal yang mendasar yang diajarkan Dewi Sartika di sekolahnya adalah dengan mengajarkan berbagai keterampilan praktis, yaitu: (1) keterampilan hidup (membaca, menulis, berhitung, menjahit, menyulam, memasak, dan mengurus rumah tangga, dan (2) penguatan karakter dengan tujuan agar perempuan pribumi memiliki harkat dan martabat yang tinggi.
Sebenarnya, bukan hanya wanita-wanita tersebut yang telah mengukir sejarah dunia khususnya Indonesia tetapi masih banyak yang lain. Namun setidaknya dengan mempelajari kembali sejarah para wanita perkasa diharapkan kita dapat mengenal dan meneladani kebaikan-kebaikan yang terdapat dalam diri wanita-wanita tersebut.
Wanita kuat adalah sumber inspirasi banyak orang di sekitarnya, karena mereka memancarkan kekuatan yang berasal dari dalam diri dan pikiran mereka. Wallahu a’lam bishawab.*
*) Penulis adalah Guru MAN Lumajang.
Editor : Sidkin