”Ngajar sih passion gue, tapi mau hidup dari apa nanti?”
Kalimat itu mungkin sedang bergaung di benak banyak Gen Z yang mempertimbangkan profesi guru. Di era diikuti dengan semangat ”ikut passion” dan ”meaningful work”, profesi guru seharusnya menjadi primadona.
Namun, realitanya, pilihan untuk menjadi guru bagi Generasi Z adalah sebuah perhitungan yang sangat pragmatis dan seringkali berakhir dengan keputusan untuk mengubur mimpi itu.
Bukan tanpa alasan. Gen Z adalah generasi yang paling sadar finansial. Mereka tumbuh menyaksikan orang tua mereka bergulat dengan resesi, memahami betul arti inflasi, dan terpapar konten investasi sejak remaja.
Bagi mereka, gaji bukan sekedar angka, tapi adalah tolak ukur nilai diri dan jaminan keberlangsungan hidup di masa depan. Dan ketika mereka melihat prospek guru, yang mereka lihat adalah sebuah kenyataan yang pahit.
Gaji guru VS Hidup Gen Z: Sebuah jurang yang lebar
Coba bandingkan, seorang guru pemula di sekolah negeri (setelah PNS) mungkin mendapatkan gaji sekitar Rp 3-5 juta per bulan di awal. Sementara seorang lulusan fresh graduate di bidang teknologi, pemasaran digital, atau bahkan content creator pemula, bisa dengan mudah melampaui angka itu.
Dengan gaji Rp 4 juta, bisakah seorang guru muda yang merantau di kota besar membayar kos, biaya transportasi, kuota internet untuk mengajar, sambil tetap bisa menabung, berinvestasi, dan sesekali menikmati kopi kekinian? Jawabannya seringkali: sangat sulit.
Guru di Indonesia itu kayak hubungan Toxic dengan Negara: dituntut jadi pahlawan, tapi dikasih duitnya alakadarnya. Dari sisi Kemenkeu, guru mungkin dilihat sebagai ’beban’ karena ngabisin anggaran gede. Tapi itu pemikiran jangka pendek banget.
Bayangin aja, guru yang sejahtera itu bisa fokus ngajar, nggak sibuk cari side hustle. Hasilnya? Murid-muridnya jadi lebih pinter, inovatif, dan siap saing globally. Dampaknya ke ekonomi bakal kerasa banget 10-20 tahun lagi.
Jadi daripada ngotot anggaran guru itu ’beban’, mending kita bilang ini investment terpenting buat masa depan Indonesia. Kalau mau negara nya maju, ya investasi yang bener dong ke guru-gurunya. Jangan Cuma modal semangat’ pahlawan tanpa tanda jasa’ doang!
Gen Z tidak ingin sekedar ”hidup”. Mereka ingin hidup yang layak. Mereka ingin punya masa depan finansial yang jelas, bisa beli rumah, dan tidak menjadi beban bagi siapapun. Impian-impian dasar ini yang seringkali terancam ketika profesi guru di pandang sebelah mata dari sisi remunerasi.
Tantangan yang tidak setara dengan kompensasi yang lebih memilangkan, rendahnya gaji itu tidak sebanding dengan kompleksitas tugas guru masa kini. Tantangannya bukan lagi sekadar menghadapi murid yang ribet di kelas.
Seorang guru Gen Z dituntut untuk menjadi teknolog yang piawai mengoperasikan berbagai platform digital. Kedua menjadi content creator yang bisa membuat materi ajar yang menarik perhatian di antara gempuran media sosial. Ketiga, menjadi psikologi amatir yang mendeteksi masalah mental siswa dan menjadi tempat curhat. Empat, menjadi administrator yang jago mengisi ribuan dokumen perencanaan dan pelaporan.
Semua tuntutan kompetensi tinggi ini tidak tercemin dalam struktur gaji yang ada. Ini seperti meminta seorang ahli dengan 5 keahlian berbeda, tapi hanya membayarnya dengan gaji standar satu keahlian. Bagi Gen Z yang menghargai efisiensi dan keadilan, ini adalah sebuah bentuk eksploitasi yang tidak masuk akal.
Romantisme ”Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” Sudah Usang
Narasi ”guru adalah pahlawan” dan ”panggilan jiwa” sering dijadikan tameng untuk menutupi ketidakmampuan sistem dalam memberikan kesejahteraan yang layak. Bagi Gen Z yang kritis, narasi ini sudah basi. Mereka tidak mau lagi diromantisasi sebagai ”pahlawan” yang harus rela menderita.
Mereka ingin diakui sebagai seorang profesional. Seorang profesional dihargai dengan kompensasi yang adil, diberikan ruang pengembangan karir, dan dijamin kesejahteraannya. Seorang dokter atau insyinyur dihargai tinggi karena keahliannya. Lalu, mengapa profesi yang bertanggung jawab membentuk ”software” generasi penerus bangsa justru dinilai begitu murah?
Lalu, Apa Solusinya? Mimpi Jadi Guru Tidak Boleh Mati
Jika kita tidak ingin kehilangan generasi guru-guru terbaik dan paling brilian, perubahan sistematik mutlak diperlukan. Pertama, transparansi dan peningkatan gaji yang signifikan. Artinya: pemerintah dan swasta harus berani merevisi skema penggajian guru. Gaji harus bisa menyaingi profesi-profesi ”kekinian” lainnya agar kompetitif menarik minat bakat terbaik.
Kedua, jalan karir yang jelas dan beragam. Tidak semua guru harus naik pangkat menjadi kepala sekolah. Buatlah jalur karir untuk ” Guru Spesialis Teknologi”, ” Guru Ahli Pedagogi Kreatif”, atau ”Mentor Guru Muda” dengan insentif finansial yang berbeda.
Ketiga, memangkas beban administratif. Teknologi harus dimanfaatkan untuk menyederhanakan pelaporan, membebaskan waktu guru untuk fokus pada hal yang paling penting yaitu interaksi dengan murid.
Keempat, edukasi tentang peluang finansial lain. Artinya, bekali calon guru dengan pengetahuan untuk memiliki side income yang legal dan relevan, seperti menjadi penulis buku ajar, pembuat konten edukasi digital, atau tutor online bersertifikat.
Kesimpulannya, pilihan Gen Z untuk tidak menjadi guru bukanlah karena mereka tidak mencintai ilmu pengetahuan atau tidak ingin berbagi. Itu adalah keputusan rasional untuk menyelamatkan masa depan sendiri.
Sebenarnya mereka mau jadi guru, mereka juga punya possion dan ide-ide segar untuk mengubah pendidikan tapi mereka juga mau hidup layak, tidak sekedar jadi pahlawan yang dikenang justru karena pengorbanannya yang menyedihkan. So, sebelum menyalahkan Gen Z yang ogah jadi guru, tanyakan pada sistem: ”Apa yang sudah kamu berikan untuk membuat mimpi mulia itu tetap hidup?”
Penulis adalah Mahasiswa Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Universitas Islam Ibrahimy, Banyuwangi.
Editor : Sidkin