Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Catatan Akhir Tahun 2025: Titik, Koma, dan Kita, Opini oleh Agus Trihartono, Rektor UI Cordoba Banyuwangi

Sidkin • Senin, 29 Desember 2025 | 22:00 WIB
Opini: Agus Trihartono (grafis/Reza Cecep/Radar Jember)
Opini: Agus Trihartono (grafis/Reza Cecep/Radar Jember)

MENJELANG akhir tahun, kita biasanya menghitung hal-hal besar: angka, prestasi, dan target yang tercapai atau gagal. Kita membuka kembali kalender dengan sorot mata penuh penilaian tentang apa yang layak dirayakan dan apa yang patut disesali. Namun, jarang sekali kita berhenti dan memberikan apresiasi pada “hal-hal kecil” yang di sanalah sangat mungkin hidup diam-diam ditopang.

Dalam pelajaran bahasa dan kalimat, misalnya, kita mengenal tanda baca yang bernama “titik” dan “koma”. Titik dan koma itu kecil, nyaris tak terlihat, dan hampir tak pernah berdiri di ‘panggung’ tata bahasa.

Sorot lampu dan perhatian pembaca umumnya diberikan kepada apa yang disebut S-P-O-K:  "Subjek" yang gagah, "Predikat" yang sibuk bekerja, "Objek" yang menjadi pusat perhatian, atau "Keterangan" yang tampak menjanjikan. Sementara titik dan koma berdiri di pinggir kalimat, diam, sederhana, seperti penjaga yang berdiri dalam senyap.

Sepanjang tahun, umumnya kita jarang mengingat titik dan koma. Lebih jarang lagi menghargai mereka. Dalam pelajaran sekolah, bahkan tak pernah ada penghargaan untuk “titik terbaik” atau “koma paling elegan.” Kita menganggap kehadiran mereka sebagai sesuatu yang wajar, taken for granted. Seolah sebuah kalimat akan tetap hidup walau tanda-tanda kecil, titik dan koma, itu dihapuskan.

Padahal tanpa titik dan koma, sebuah kalimat sejujurnya hanyalah arus kata yang kehilangan bentuk. Kalimat menjadi tanpa jeda, tanpa henti, serta tanpa arah. Kita membacanya seperti dikejar waktu, tersandung makna, lalu kehabisan napas. Semua terasa melelahkan, kacau, dan pada akhirnya kehilangan arti. Ambyar

Bukan tidak mungkin hidup kita sepanjang 2025 berjalan dengan cara seperti itu.

Bahkan mungkin luput dari perhatian kita, dalam satu tahun ini, sebenarnya tidak sedikit orang menjalani peran seperti titik dan koma. Mereka tidak menonjol di panggung besar. Nama mereka pun tidak muncul di baliho atau headline. Mereka bekerja di balik layar, mengatur ritme, menjaga irama, memastikan kehidupan tetap berjalan tanpa gaduh.

Mereka adalah orang-orang yang di pagi hari membuka pintu kantor lebih awal. Mereka yang memastikan pekerjaan selesai meski tak ada yang melihat; yang mendengar lebih banyak daripada berbicara; yang hadir lebih sering daripada disebut. Bahkan, mereka mungkin yang tak pernah mendapat tepuk tangan; jangan kata terimakasih apalagi pengakuan.

Namun ketika mereka absen, barulah kita sadar: sesuatu terasa pincang. Struktur yang kita kira kokoh mendadak limbung. Kita baru memahami, namun sering kali terlambat, bahwa yang sederhana kadang justru menentukan; yang kecil kadang menyimpan daya untuk menjaga yang besar agar tetap tegak.

Jujur, ada orang yang sepanjang tahun menjalankan peran sebagai titik. Kehadirannya memberi penutup yang tenang. Ia menandai akhir agar sesuatu tidak berlarut-larut. Ia berkata tanpa suara: “cukup” atau “mari berhenti sejenak”. Di tengah dunia yang senang berlari cepat, titik adalah keberanian untuk selesai.

Juga, ada pula orang yang ditakdirkan menjadi koma, bukan akhir, melainkan jeda. Ia menahan agar kita tidak tergelincir oleh kecepatan sendiri. Ia memberi ruang untuk berpikir ulang, merasakan ulang, dan mengoreksi arah. Koma tidak menyelesaikan masalah, tetapi memungkinkan harapan untuk tetap berlanjut.

Sepanjang 2025, mungkin kita sendiri justru pernah menjadi koma bagi orang lain, menemani mereka di tengah panjangnya masalah. Serta di waktu lain, kita menjadi titik, mengakhiri sesuatu yang sudah tak sehat agar sesuatu yang baru bisa dimulai.

Namun, tidak jarang pula kita justru berlomba menjadi subjek. Kita ingin terlihat penting, ingin menjadi pusat perhatian, ingin berada dalam spotlight. Tentu itu semua tidak salah. Ini bukan tentang benar dan salah.

Hanya, kita acap kali melihat bahwa tidak semua makna lahir dari sorot lampu. Ada kalanya, yang membuat sebuah kisah dapat dipahami justru datang dari mereka yang memilih menyisip di antara kata-kata.

Tahun ini, kita juga kerap menemukan ada yang saling menonjolkan peran. Memproduksi opini yang saling bertabrakan, membuat klaim yang saling meniadakan, dan menonjolkan posisi untuk selalu paling benar dan paling depan.

Padahal, di tengah itu semua, hidup kadang justru membutuhkan keheningan tanda baca. Ia membutuhkan jeda. Ia membutuhkan orang-orang yang kehadirannya tidak mencolok, tetapi tanpanya kita kehilangan arah.

Radar Jember tempat tulisan ini dimuat, misalnya, hidup dari banyak titik dan koma: redaktur yang bekerja hingga larut, pewarta yang sabar di lapangan, serta pengantar koran yang berangkat sebelum pagi benar-benar tiba. Nama mereka jarang terbaca, tetapi berita tak akan pernah sampai di meja pembaca tanpa tangan-tangan mereka.

Demikian pula sebuah kota, sebuah kampus, sebuah komunitas, sebuah keluarga. Mereka bertahan bukan “hanya” karena tokoh-tokoh dan nama-nama besar, tapi bisa jadi tempat-tempat itu tetap menyala karena masih ada yang memilih bekerja dalam sunyi, yang kecil, yang dianggap tidak ikut menentukan.

Menjelang berakhirnya 2025, membaca ulang hidup dengan lebih pelan bisa jadi adalah kebaikan. Kita mengingat kembali siapa saja yang menjadi koma, yang menahan kita agar tidak tersesat. Serta, kita menghargai siapa saja yang menjadi titik, yang memberi akhir agar kita bisa memulai lagi.

Dan barangkali, saat melangkah ke tahun baru, kita tidak perlu selalu bercita-cita menjadi yang paling menonjol di atas panggung dalam kilau cahaya. Cukup menjadi yang paling bermakna; tidak harus megah; tidak harus monumental. Menjadi semacam titik dan koma pun tentu bukan tanpa harga.

 

Menutup 2025, di sanalah kita belajar bahwa, mungkin, makna hidup justru bertumpu pada hal-hal yang selama ini kita anggap kecil, yang kerap kita ‘abaikan’, seperti titik dan koma.

Sebab, tanpa tanda baca titik dan koma, kata-kata kehilangan tatanan. Tanpa mereka, sebuah kalimat bukanlah narasi yang memiliki arti. Pada akhirnya yang kecil tidak selalu remeh, yang sederhana tidak selalu sepele.

 

*) Penulis adalah dosen FISIP Universitas Jember. Rektor UI Cordoba, Banyuwangi.

Editor : Sidkin
#akhir tahun 2025 #2025 #catatan akhir tahun #SPOK #Spotlight #titik koma