DI Indonesia, hampir setiap musim selalu ada “demam” baru. Pernah demam batu akik. Pernah demam sepeda. Lalu demam tanaman hias. Kini, demam itu bernama: kelas trading dan investasi berbayar. Terutama yang berkaitan dengan emas, saham, dan cryptocurrency.
Timeline media sosial kita penuh dengan iklan kelas penghasil cuan. Testimoninya seragam: mobil mewah, arloji mahal, liburan ke luar negeri, dsb. Kalimatnya juga hampir sama: “Dulu saya mulai dari nol, sekarang sudah miliaran rupiah.” Tinggal satu pertanyaan kecil yang sering terlupa: Benarkah sesederhana itu?
Di sinilah polemik bermula.
Di satu sisi, kelas trading dan investasi berbayar dianggap sebagai jalan pintas untuk memajukan literasi keuangan. Di sisi lain, ia dicurigai sebagai jebakan baru yang dibungkus oleh kata-kata motivasi. Pro-kontra pun tak terelakkan.
Yang pro akan berkata begini: “Ilmu itu mahal. Kalau gratis, orang tidak akan serius untuk belajar.” Argumen ini terdengar masuk akal. Kursus bahasa Inggris berbayar, kursus memasak berbayar, dan kursus coding juga berbayar. Mengapa kursus trading dan investasi harus gratis?
Lagi pula, tidak semua orang punya waktu untuk membaca ratusan buku tentang trading dan investasi. Kelas berbayar menjanjikan ringkasan. Shortcut. Pengalaman para praktisi. Katanya, kita tidak perlu jatuh ke lubang yang sama, karena lubangnya sudah ditunjukkan terlebih dahulu.
Bagi sebagian orang, kelas trading dan investasi semacam ini memang membantu. Ada yang jadi lebih disiplin menabung. Ada yang akhirnya memahami perbedaan trading dan judi. Ada yang sebelumnya hanya ikut-ikutan, lalu mulai belajar untuk mengelola risiko.
Masalahnya, cerita yang berhenti di situ saja jarang terdengar.
Yang lebih ramai justru suara dari kubu seberang. Mereka yang merasa tertipu. Mereka yang merasa “dibodohi”. Sudah membayar mahal, tapi isinya cuma teori umum. Bahkan ada kelas trading dan investasi yang materinya bisa ditemukan secara gratis di blog atau Youtube.
Lebih parah lagi, ada kelas trading dan investasi yang hanya menjual mimpi, bukan ilmu. Grafik ditarik ke kiri, lalu ke kanan. Kalau naik, dibilang analisisnya jenius. Kalau turun, dibilang “pasar sedang tidak rasional”.
Ujung-ujungnya, murid yang sudah membayar mahal untuk ikut kelas trading dan investasi yang disalahkan. “Kamu tidak disiplin.” “Kamu serakah.” “Kamu tidak ikut sinyal.”
Padahal sinyalnya sendiri sering berubah-ubah.
Di titik ini, kita perlu jujur: Yang bermasalah bukan sekadar kelas trading dan investasi berbayar. Yang bermasalah adalah mentalitas instan yang subur di negeri ini. Kita suka jalan pintas. Mau cepat kaya. Mau hasil besar dengan usaha minimal. Lalu sinyal trading dan investasi dijual seperti mi instan: Tinggal seduh, langsung kenyang. Padahal realitasnya jauh lebih pahit.
Investasi itu membosankan. Trading itu melelahkan. Tidak ada cuan yang konsisten tanpa waktu yang lama, emosi yang stabil, dan kesediaan untuk rugi. Tapi cerita seperti ini tidak laku dijual.
Yang laku adalah cerita naik hypercar McLaren pada usia 25 tahun. Di sinilah para “guru” bermunculan. Sebagian memang kompeten. Tapi sebagian lagi, hanya jago jualan. Mereka lebih piawai membuat konten ketimbang membaca laporan keuangan. Lebih lihai memoles citra daripada mengelola risiko.
Celakanya, regulasi kita tertinggal. Kelas trading dan investasi berbayar ini sering berada di wilayah abu-abu. Bukan lembaga keuangan. Bukan manajer investasi. Tapi mengajarkan “cara menghasilkan uang” dari pasar keuangan.
Ketika untung, semua senang. Ketika rugi, tidak jelas harus mengadu ke siapa. Lalu muncul pertanyaan klasik: Kalau memang trading-nya jago, mengapa masih jualan kelas?
Pertanyaan ini sering dijawab dengan klise: “Saya ingin berbagi.” Atau: “Uang dari pasar sudah cukup, kelas ini hanya passion.” Boleh saja orang percaya. Tapi logika awam juga punya hak untuk bertanya.
Di sisi lain, menyalahkan murid sepenuhnya juga tidak adil. Banyak peserta kelas trading dan investasi datang dengan niat baik. Ingin belajar, ingin memperbaiki kondisi finansial. Mereka tidak bodoh. Mereka hanya kurang berpengalaman.
Masalahnya, literasi keuangan kita memang masih rendah. Sekolah tidak mengajarkan cara mengelola uang. Orang tua jarang membahas soal investasi. Karena mereka mungkin juga tidak mengerti. Akibatnya, begitu ada orang yang bicara tentang trading dan investasi dengan istilah teknis dan grafik warna-warni, kita mudah kagum.
Apalagi jika dibungkus dengan narasi religius atau motivasi nasionalis. “Ini jalan rezeki.” “Ini cara melawan kemiskinan struktural.” Bahasa-bahasa besar seperti ini sering membuat logika kalah.
Polemik ini seharusnya membuka mata kita semua.
Bagi pemerintah dan regulator, ini alarm keras. Edukasi publik tentang literasi finansial harus lebih agresif. Bukan sekadar melarang, tapi menjelaskan. Mana investasi, mana spekulasi. Mana pendidikan, mana penjualan mimpi.
Bagi para penyelenggara kelas trading dan investasi, mungkin sudah saatnya untuk bercermin. Transparansi itu penting. Tunjukkan risiko, bukan hanya hasil. Akui bahwa rugi adalah bagian dari permainan, bukan kesalahan murid semata.
Dan, bagi masyarakat, ini pelajaran paling penting: Tidak ada orang yang lebih peduli pada uang Anda selain Anda sendiri. Belajar boleh dari siapa saja. Bayar kelas trading dan investasi juga sah-sah saja. Tapi jangan titipkan akal sehat. Jangan menyerahkan keputusan finansial kita pada satu figur yang tampil meyakinkan di layar ponsel.
Pada era digital, semua orang bisa terlihat sukses. Filter kamera jauh lebih canggih daripada neraca keuangan. Pada akhirnya, polemik kelas trading dan investasi berbayar ini bukan soal boleh atau tidak boleh. Ini soal kedewasaan.
Dewasa dalam menjual. Dewasa dalam membeli. Dewasa dalam bermimpi.
Karena yang namanya uang itu, seperti pisau, bisa berguna atau melukai. Tergantung siapa yang memegangnya. Dan seberapa sadar ia menggunakannya.
*) Penulis adalah Pemerhati Teknologi dan Ekonomi Digital, Content Writer, Blogger asal Jember.
Editor : Sidkin