SETAHUN yang lalu, tepatnya 24 Februari 2025, Bupati AHW dan Wabup AYS resmi dilantik bersama 960 kepala daerah lainnya se-Indonesia. Sejak itu harapan yang diapungkan masyarakat Bondowoso kala masa kampanye mulai mengalir perlahan.
Modal dasar utama yang dibawa oleh pasangan RAHMAD ini sangatlah kuat. Antara lain soliditas dukungan kultural, kekuatan suprastruktur partai pengusung, kapasitas intelektual, serta jaringan Bupati AHW dan visi Bondowoso Berkah.
Meski perolehan suara RAHMAD 51,33 persen tak sebanding dengan Narendra Modi yang sebesar 75 persen suara, tapi setidaknya bekal dukungan dari sisi kultural pasangan RAHMAD setara dengan bekal kelahiran pemimpin India tersebut. Keduanya idem dalam hal kuatnya dukungan kultural.
Dari sisi suprastruktur politik, partai pengusung RAHMAD menguasai parlemen dengan 27 kursi. Partai Kebangkitan Bangsa (16 kursi) sebagai pemenang pemilu lokal ditambah Partai Gerindra (4 kursi) yang Ketumnya Presiden RI dan Partai Golkar pemenang kedua pemilu nasional merupakan modal politik paling strategis guna mengawal segala kebijakan.
Belum lagi kapasitas intelektual sebagai Rektor Universitas Nurul Jadid (Unuja) serta jaringan sebagai mantan anggota DPR RI dua periode makin melengkapi modal dasar pasangan RAHMAD untuk mendayung perahu pembangunan dengan baik.
Perahu pembangunan berupa visi Bondowoso Berkah juga patut menjadi tambahan modal yang menjadi tambatan harapan rakyat. Bondowoso Berkualitas, Akseleratif, dan Holistik adalah jargon politik yang di mata rakyat menjadi jimat perbaikan hidup dalam lima tahun berikutnya.
Kini, setahun sudah berlalu. Kesaktian Bondowoso Berkah mulai dirasakan oleh masyarakat. Program infrastruktur jalan tuntas (Rantas), Bantuan Pupuk Untuk Petani Tembakau, Asuransi Pertanian (Astani), Klinik Pertanian, Bantuan Alat Pertanian (Belati), BRK Reborn, Jaminan Kesehatan Gratis (Jamin Segar), Perempuan Mandiri dan Tangguh (Permata), Jaminan Ketenagakerjaan Bagi Buruh Tani, Bondowoso Menyala, Aplikasi Kami Melayani Anda Mengawasi (Kanda), dan lainnya diakui atau tidak sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Terbukti berbagai penghargaan juga telah diraih oleh pemerintah yang masih seumur jagung ini. Bondowoso juga mampu mempertahankan laporan keuangan wajar tanpa pengecualian (WTP) dari BPK. BPS-pun mencatat pertumbuhan ekonomi Bondowoso mencapai 6,46 persen pada triwulan 3 (2025) mengungguli nasional yang berkisar 5,04 persen. Tak ayal Bupati AHW dianugerahi gelar The Gateway Leader oleh Times Indonesia.
Padahal, sepanjang 2025 pemerintah daerah sedang mengalami tekanan finansial akibat pemangkasan anggaran +/- 50 miliar dan menutup defisit tahun berjalan sebesar +/- 140 miliar. Belum lagi sebagian besar pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) masih berstatus pelaksana tugas.
Absennya pimpinan definitif suatu dinas tentu menyebabkan kurang progresifnya organ tersebut dalam melangkah sekaligus mengeksekusi program-program prioritas Bondowoso Berkah.
Namun, kepiawaian Bupati AHW, kesejukan kepemimpinan AYS ditopang dengan kehadiran seorang sekretaris daerah Dr Fathur Rozi yang taktis-inovatif mampu membawa perahu Bondowoso Berkah melewati himpitan fiskal bahkan meraih gelar juara pada beberapa estafet.
Keraguan terhadap minimnya wawasan terhadap Kota Tape, rendahnya pengetahuan terhadap kultur birokrasi dan buta terhadap sosio-politik hilang tak terbekas dengan segudang prestasi yang diraih pemerintahan RAHMAD. Bahkan Bupati AHW mampu menjadi magnet pembangunan Kawasan dengan aglomerasi selingkar Ijen yang ke depan dapat menjadi mercusuar pembangunan kewilayahan.
Kuncoro dalam The economics of industrial agglomeration and clustering menyimpulkan “semakin teraglomerasi suatu perekonomian maka akan semakin meningkat pertumbuhannya”. Di Indonesia tidak banyak kabupaten yang memilih aglomerasi sebagai strategi pembangunan.
Bondowoso-Jember-Banyuwangi-Situbondo akan menambah jumlah keberhasilan strategi aglomerasi di kemudian hari menyusul Makassar Raya (Kabupaten Sungguminasa, Kabupaten Takalar dan Kabupaten Maros) atau Solo Raya (Sukoharjo-Boyolali-Klaten-Wonogiri-Karangnyar-Sragen).
Dengan berbagai prestasi terebut, di awal 2026 ini modal dasar utama terasa makin kokoh bak benteng menjulang. Rakyat pun makin yakin harapannya telah dititipkan pada pemimpin yang tepat. Dus tim Bondowoso Berkah telah lengkap dalam barisan. Maka kekuatan ini mengantarkan pada imajinasi lahirnya the dream team yang akan menjuarai ‘piala dunia’ pembangunan.
Ibarat tim sepak bola, pemerintahan RAHMAD dibekali dengan akar, filosofi dan kultur yang kuat (basic cultural and politic), pelatih (Bupati dan Wakil Bupati) yang piawai meracik strategi dan tenang menjalani pertandingan, kapten (Sekda) yang taktis-inovatif, supporter (relawan) setia (ultras) dan pemain (pimpinan OPD) professional yang skill full.
Tugas the dream team Bondowoso Berkah tentu masih panjang. Masih tersisa 4 tahun lagi. Selain menjaga agar program yang telah berjalan impact-nya makin terasa, juga masih banyak program prioritas yang mesti segera direaliasasikan.
Yang harus diperhatikan tentu saja tantangan regional, pengaruh kebijakan nasional dan situasi ekonomi global yang unpredictable. Kesebelasan harus fokus pada pertandingan demi pertandingan, memperhatikan arahan kapten dan tentu saja tegak lurus pada instruksi pelatih.
Masyarakat berharap the dream team Bondowoso Berkah bisa seperti Spanyol 2008-2012 yang menyabet piala Euro 2008, Piala Dunia 2010 dan Euro 2012 dengan filosofi tika-takanya. Spanyol kala itu indah dan rancak dalam permainan juga mampu menyabet mahkota kejuaraan.
Dua ekspektasi ultras yang jarang mampu dilakukan tim manapun di dunia. Dan bukan seperti Italy dengan pemain-pemain terbaik seperti Gianlogy Buffon, Paulo Maldini, Andrea Pirlo, Francesco Totty dan Alexandro Del Piero yang gagal total pada Piala Dunia 2002. Pertahanan Grendel ala Italy mudah ditembus, permainan membosankan dan gagal pada babak penyisihan.
Tetapi kita harus ingat, pemerintahan tidak sepenuhnya bisa disamakan dengan tim sepak bola. Prestasi tim sepak bola di ukur dengan seberapa banyak trophy yang diraih. Namun pemerintahan hanya akan diingat oleh sejarah dari seberapa besar kebermanfaatannya dirasakan oleh orang banyak.
Dus, di era kecanggihan teknologi yang melahirkan komunitas instan, individualistik, phubbing (pengabaian terhadap orang lain), FOMO (fear of missing out), sensitif, partisipatif, permisif dan seterusnya kadang kala tidak menunggu satu periode penuh untuk menilai pemerintahan tersebut berhasil ataukah gagal.
Bagi teknokrat, ekonom maupun politisi pemerintahan dianggap sukses jika sudah berhasil merealisasikan visi-misinya dalam suatu periode. Tetapi netizen (bukan citizen) kadang memberi penilaian hanya dalam jangka separuh jalan, bahkan dua tahun pertama perjalanan pemerintahan.
Oleh sebab itu, 2026 menjadi key of timing bagi kesebelasan the dream team untuk memacu program-program prioritas dan melaju dengan spirit Bondowoso Berkah. Agar pembangunan dirasakan oleh netizen (digital society) dan citizen (warga negara) secara utuh dan komprehensif.
Boleh jadi 2026 merupakan tahun tantangan yang akan melempangkan jalan berikutnya sehingga dapat berlabuh di dermaga Berkah pada tahun 2029 dengan baik, husnul khotimah disertai standing ovation seluruh penghuni stadion. Sehingga gelar The Gateway Leader (Pemimpin Pembuka Gerbang Kemajuan) yang disandang Bupati AHW senilai dengan julukan “Vikas Purush” (Pria Pembangunan) yang disandang Narendra Modi. Tulisan ini pendapat pribadi dan tidak mewakili pandangan politik organisasi mana pun.
*) Penulis adalah warga ujung lereng Gunung Putri-Bondowoso.
Editor : Sidkin