KRISIS ekologis global hari ini menempatkan dunia pendidikan pada posisi yang tidak lagi netral. Perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan meningkatnya bencana ekologis telah menjadi realitas sehari-hari.
Di Indonesia, mayoritas bencana yang terjadi dalam satu dekade terakhir merupakan bencana hidrometeorologis seperti banjir dan longsor indikasi kuat rusaknya tata kelola lingkungan.
Dalam situasi ini, pendidikan Islam tidak dapat berdiri di luar persoalan. Ia dituntut hadir bukan hanya sebagai sarana transmisi pengetahuan agama, tetapi sebagai ruang pembentukan kesadaran ekologis berbasis iman.
Warisan Nilai Ekologis dalam Pendidikan Islam
Pendidikan Islam sejatinya memiliki fondasi teologis yang kuat untuk membangun kesadaran ekologis. Konsep manusia sebagai khalifah di bumi menegaskan tanggung jawab moral untuk menjaga keseimbangan alam, bukan mengeksploitasinya tanpa batas.
Alquran berulang kali menyinggung larangan melakukan kerusakan (fasad) di muka bumi, serta pentingnya menjaga mizan atau keseimbangan kosmik. Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa relasi manusia dan alam dalam Islam bersifat etis dan spiritual.
Namun, dalam praktik pendidikan, nilai-nilai tersebut sering berhenti pada tataran hafalan dan simbolik. Peserta didik mengenal ayat-ayat tentang alam, tetapi tidak diajak mengaitkannya dengan realitas kerusakan lingkungan di sekitarnya. Akibatnya, pendidikan Islam kehilangan daya transformatifnya dalam menghadapi krisis ekologis.
Pendidikan Islam yang Terjebak Normativisme
Salah satu persoalan mendasar pendidikan Islam adalah kecenderungannya pada normativisme. Akhlak diajarkan sebagai kesalehan personal, terpisah dari tanggung jawab sosial dan ekologis.
Fiqh dibatasi pada hukum ibadah individual, tanpa menyentuh etika pengelolaan sumber daya alam. Dalam konteks ini, pendidikan Islam kerap gagal membentuk kesadaran bahwa merusak lingkungan adalah pelanggaran moral dan spiritual.
Data menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat kecil petani, nelayan, dan komunitas pedesaan. Ketika pendidikan Islam tidak membekali peserta didik dengan kepekaan terhadap ketidakadilan ekologis ini, maka ia berisiko menjauh dari nilai keadilan sosial yang menjadi inti ajaran Islam.
Potensi Besar Lembaga Pendidikan Islam
Indonesia memiliki ribuan pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi keagamaan Islam yang tersebar hingga pelosok desa. Dengan jutaan peserta didik, pendidikan Islam sesungguhnya memiliki kekuatan kultural yang sangat besar untuk membentuk cara pandang masyarakat terhadap alam. Namun, potensi ini belum sepenuhnya dimaksimalkan untuk membangun kesadaran ekologis.
Banyak lembaga pendidikan Islam masih memandang isu lingkungan sebagai urusan tambahan, bukan sebagai bagian integral dari visi pendidikan. Akibatnya, peserta didik tumbuh dengan kesalehan ritual, tetapi minim kepedulian ekologis. Di tengah krisis lingkungan yang semakin akut, kondisi ini menjadi ironi yang tidak bisa diabaikan.
Integrasi Ekologi dalam Kurikulum Pendidikan Islam
Transformasi pendidikan Islam menuntut keberanian untuk mengintegrasikan isu ekologis ke dalam kurikulum secara substantif. Pendidikan lingkungan tidak cukup diajarkan sebagai mata pelajaran terpisah, tetapi harus menjadi perspektif dalam memahami ajaran agama. Tafsir Alquran, fiqh, hingga akhlak perlu dikontekstualisasikan dengan persoalan lingkungan hidup.
Misalnya, pembahasan tentang air dalam fiqh tidak hanya berhenti pada syarat sah wudu, tetapi juga etika konservasi air di tengah krisis air bersih. Konsep israf dapat dikaitkan dengan kritik terhadap budaya konsumsi berlebihan. Dengan pendekatan ini, pendidikan Islam tidak hanya mengajarkan apa yang halal dan haram, tetapi juga apa yang bertanggung jawab secara ekologis.
Praktik Baik dan Tantangan Implementasi
Sejumlah pesantren dan madrasah mulai mengembangkan praktik pendidikan berbasis lingkungan seperti pengelolaan sampah, pertanian organik, hingga energi terbarukan skala kecil.
Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam mampu menjadi ruang pembelajaran ekologis yang konkret. Namun, inisiatif tersebut masih bersifat sporadis dan sangat bergantung pada komitmen individu pengelola lembaga.
Tantangan lainnya adalah keterbatasan kapasitas pendidik. Banyak guru pendidikan Islam belum mendapatkan pelatihan yang memadai terkait isu lingkungan dan pendekatan pembelajaran ekologis. Tanpa dukungan kebijakan dan pengembangan sumber daya manusia, transformasi pendidikan Islam akan berjalan lambat.
Pendidikan Islam sebagai Kesadaran Profetik
Lebih dari sekadar pendidikan teknis, pendidikan Islam memiliki fungsi profetik: membangun kesadaran kritis dan keberpihakan pada kehidupan. Dalam konteks krisis ekologis, fungsi ini menjadi sangat relevan. Pendidikan Islam perlu mendidik peserta didik untuk memahami bahwa eksploitasi alam bukan hanya kesalahan kebijakan, tetapi juga krisis moral dan spiritual.
Kesalehan ekologis harus ditempatkan sejajar dengan kesalehan ritual. Merawat lingkungan adalah bagian dari ibadah, dan membela keberlanjutan hidup adalah wujud tanggung jawab keimanan. Pendidikan Islam yang mengabaikan dimensi ini berisiko kehilangan relevansinya di tengah tantangan zaman.
Menakar Arah Masa Depan Pendidikan Islam
Di persimpangan krisis ekologis global, pendidikan Islam dihadapkan pada pilihan strategis: bertahan dalam pola lama yang normatif dan terfragmentasi, atau bertransformasi menjadi pendidikan yang responsif terhadap tantangan ekologis. Pilihan kedua menuntut keberanian intelektual, inovasi pedagogis, dan keberpihakan moral.
Jika pendidikan Islam mampu menjadikan kesadaran ekologis sebagai bagian integral dari iman dan pembelajaran, maka ia tidak hanya mencetak generasi yang taat beragama, tetapi juga bertanggung jawab terhadap bumi. Dalam dunia yang semakin rentan oleh krisis lingkungan, inilah makna pendidikan Islam yang paling relevan dan mendesak hari ini.
*) Penulis adalah Founder The Indonesian Foresight Research Institute, Assistant Professor at Uinsa, LP Ma'arif Jatim Book Writing Team.
Editor : Sidkin