OPTIMISME dalam membaca arah pemerintahan daerah tentu bukan sesuatu yang keliru. Dalam konteks itu, tulisan Ady Kriesna berjudul “The Dream Team Bondowoso Berkah” yang terbit pada tanggal 5 Januari 2026 di kolom Opini Radar Jember, dapat dipahami sebagai ekspresi harapan publik terhadap soliditas kepemimpinan.
Pemerintahan dianalogikan sebagai sebuah tim dengan formasi rapi, peran jelas, serta dukungan masyarakat. Narasi ini menumbuhkan keyakinan bahwa dengan susunan tim yang tepat, tujuan besar daerah akan lebih mudah dicapai.
Namun, optimisme dalam kebijakan publik tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia selalu membawa konsekuensi. Optimisme dalam narasi Dream Team cenderung berhenti pada tataran simbolik. Ia memproduksi rasa percaya, tetapi belum menjawab pertanyaan yang lebih substantif: apa ukuran keberhasilannya, dalam kerangka waktu apa, dan dengan dampak apa bagi masyarakat? Tanpa indikator yang jelas, optimisme mudah berubah menjadi legitimasi pasif— menenangkan, bahkan berbahaya, karena tidak menggerakkan.
Dalam perspektif opini publik, narasi semacam ini memiliki fungsi ganda. Di satu sisi, ia membangun harapan kolektif. Di sisi lain, ia secara tidak langsung mendistribusikan tanggung jawab.
Tulisan Ady Kriesna, dalam konteks tersebut, dapat dibaca bukan hanya sebagai bentuk dukungan, tetapi juga sebagai pengingat awal terhadap kepemimpinan daerah.
Dengan menekankan soliditas tim dan besarnya ekspektasi publik, narasi ini secara implisit menempatkan beban keberhasilan—atau kegagalan—pada kepemimpinan yang sedang berjalan.
Dalam kajian opini publik, pembentukan ekspektasi sejak awal bukan perkara sepele. Ekspektasi membentuk ingatan publik. Ketika optimisme diproduksi secara terbuka, ia mengunci cara publik menilai hasil di kemudian hari. Jika sektor-sektor strategis gagal menunjukkan kemajuan signifikan, kegagalan itu tidak akan dibaca sebagai kebetulan, melainkan sebagai kegagalan mengelola momentum yang sejak awal telah disadari dan dirayakan.
Dalam konteks politik lokal, optimisme ini juga tidak terlepas dari realitas elektoral. Kemenangan kepemimpinan daerah yang terpaut tipis menyisakan ekspektasi sekaligus keraguan di ruang publik. Di titik inilah narasi Dream Team bekerja sebagai instrumen konsolidasi legitimasi—menenangkan publik pascakontestasi dan memperluas rasa memiliki.
Tulisan Ady Kriesna dapat dibaca sebagai bagian dari proses tersebut, sekaligus sebagai peringatan awal bagi kepemimpinan daerah bahwa kepercayaan publik pascakontestasi tidak diwariskan secara otomatis, melainkan harus dibuktikan melalui kinerja. Dengan demikian, optimisme yang ditulis Ady Kriesna dapat pula dibaca sebagai penanda posisi: sebuah dukungan yang sadar risiko, sekaligus catatan awal bahwa keberhasilan kepemimpinan daerah sepenuhnya akan ditentukan oleh konsistensi kerja, bukan oleh narasi.
Di sinilah tulisan tersebut perlu dibaca secara kritis. Bukan karena optimisme yang ditawarkannya keliru. Melainkan karena optimisme itu belum diturunkan menjadi tuntutan kebijakan yang konkret, terukur, dan berjangka waktu jelas. Tanpa itu, optimisme berisiko berhenti sebagai narasi penenang, bukan sebagai dorongan perubahan.
Dalam konteks Bondowoso, sektor pariwisata menjadi medan paling terbuka bagi publik untuk menilai apakah ekspektasi tersebut terpenuhi atau justru dikhianati. Pariwisata adalah sektor yang dampaknya cepat dirasakan, mudah dibandingkan dengan daerah lain, dan sangat sensitif terhadap persepsi. Olek karena itu, keberhasilannya akan segera membentuk penilaian publik terhadap kualitas kepemimpinan.
Potensi pariwisata Bondowoso—alam, budaya, dan status kawasan geopark—sudah lama menjadi bagian dari narasi pembangunan daerah. Namun, yang masih terbaca oleh publik adalah lambannya akselerasi eksekusi kebijakan. Pariwisata terus berada di antara rencana dan pelaksanaan, antara pemetaan dan pemanfaatan. Dalam persaingan antardaerah yang semakin cepat, jeda semacam ini bukan lagi kehati-hatian, melainkan risiko ketertinggalan.
Belakangan, kebijakan pariwisata masih menekankan pemetaan, desain besar, dan penguatan basis data. Secara konseptual ini penting, tetapi konteks waktu dan urgensi tak bisa diabaikan. Bondowoso tidak kekurangan peta, melainkan kekurangan lompatan. Ketika perencanaan terlalu lama menjadi pusat perhatian, publik membaca adanya jarak antara narasi besar dan realitas di lapangan.
Dalam persepsi publik, kemajuan pariwisata tidak diukur dari dokumen, tetapi dari perubahan yang terlihat dan dirasakan. Akses yang lebih mudah, layanan yang membaik, aktivitas wisata yang hidup, serta manfaat ekonomi yang menyebar. Tanpa perubahan konkret di titik-titik ini, status geopark dan program revitalisasi berisiko berhenti sebagai simbol.
Pariwisata juga tidak bisa diperlakukan sebagai proyek sektoral. Ia adalah ekosistem yang menuntut keterhubungan destinasi, kesiapan SDM lokal, peran UMKM, konsistensi agenda, dan promosi berbasis pengalaman. Pendekatan kebijakan yang berhenti pada koordinasi lintas sektor menjadi tidak memadai. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi holistik, di mana seluruh aktor bergerak dalam satu arah.
Dalam situasi ini, kepemimpinan daerah tidak lagi dinilai dari seberapa baik narasi dibangun, melainkan dari seberapa cepat hasil dirasakan publik. Ketika akselerasi menjadi tuntutan, prinsip the right man on the right place tidak bisa lagi diperlakukan sebagai jargon manajerial, melainkan prasyarat keberhasilan kepemimpinan.
Optimisme ala Dream Team pada akhirnya akan diuji bukan oleh narasi, tetapi oleh hasil. Kepercayaan publik dibentuk oleh konsistensi kinerja. Oleh karena itu, optimisme hanya bermakna jika diterjemahkan menjadi akselerasi kebijakan yang nyata—terutama di sektor yang paling mudah dibaca publik, seperti pariwisata.
Bondowoso tidak kekurangan mimpi dan harapan. Tantangannya adalah memastikan harapan itu tidak berhenti sebagai cerita yang menenangkan, tetapi menjadi kerja kolektif yang benar-benar menggerakkan.
*) Penulis adalah Peneliti Pilar Merdeka Riset.
Editor : Halo Jember