Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Makan Bergizi Gratis dan Politik Balas Budi, Opini oleh Thaifur Rasyid, Pemerhati Isu Politik dan Kebijakan Publik

Sidkin • Sabtu, 14 Februari 2026 | 08:00 WIB
Thaifur Rasyid, pemerhati isu politik dan kebijakan publik
Thaifur Rasyid, pemerhati isu politik dan kebijakan publik

DI ruang kelas yang dindingnya mungkin mulai mengelupas, di bangku-bangku kayu yang kadang goyah, tiba-tiba negara hadir dalam bentuk paling konkret: sepiring makanan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipromosikan sebagai kebijakan yang sederhana tetapi menyentuh akar persoalan-anak-anak makan, gizi membaik, konsentrasi belajar meningkat, masa depan bangsa terjamin. Sulit menemukan argumen moral untuk menolaknya. Namun justru di titik paling “manusiawi” inilah kita perlu waspada.

Karena politik tidak pernah sekadar soal kebijakan; ia adalah soal makna. Dan, makna tidak berhenti pada isi piring. Ia bergerak ke dalam ingatan, ke dalam rasa, ke dalam relasi simbolik antara yang memberi dan yang menerima. Ketika negara memberi makan, ia tidak hanya mengenyangkan perut. Ia juga menanamkan narasi.

Pertanyaannya bukan “apakah anak-anak membutuhkan makanan bergizi?” tentu saja mereka membutuhkan. Pertanyaannya adalah: bagaimana kebijakan itu bekerja dalam jangka panjang sebagai konstruksi ingatan kolektif? Dan lebih jauh lagi: apakah di tengah janji makan gratis, pendidikan sebagai hak justru bergeser menjadi sekadar latar belakang?

Hak Menjadi Hadiah

Ada perbedaan mendasar antara hak dan hadiah. Hak menempatkan warga sebagai subjek yang setara dengan negara. Hadiah menempatkan warga sebagai penerima kebaikan. Pendidikan gratis secara prinsip adalah hak konstitusional. Ia bukan kemurahan hati, melainkan kewajiban negara. Namun ketika perhatian publik lebih terfokus pada “makan gratis” ketimbang kualitas pendidikan gratis, terjadi pergeseran halus dalam cara kita memahami relasi tersebut.

MBG mudah divisualisasikan. Ia konkret, fotogenik, emosional. Anak-anak tersenyum dengan kotak makan di tangan jauh lebih menggugah daripada diskusi panjang tentang reformasi kurikulum atau kesejahteraan guru. Di sinilah logika politik bekerja: yang tampak lebih mudah diingat daripada yang mendasar.

Ketika kebijakan sosial dibingkai sebagai pemberian, bukan pemenuhan hak, ia menciptakan relasi afektif. Rasa terima kasih muncul. Dan rasa terima kasih, dalam konteks politik, jarang berdiri sendiri. Ia sering kali bertransformasi menjadi loyalitas simbolik.

Anak-anak yang hari ini menerima makanan mungkin belum memiliki kesadaran politik. Tapi ingatan mereka akan menyimpan satu hal sederhana: negara pernah hadir membawa kenyang. Dalam masyarakat yang masih akrab dengan budaya balas budi, memori semacam ini bukan sesuatu yang netral. Ia bisa menjadi fondasi legitimasi jangka panjang.

 Yang problematik bukan makanannya, tapi kemungkinan reduksi: seolah-olah tanggung jawab negara terhadap generasi muda cukup diringkas dalam satu intervensi gizi. Padahal pendidikan bukan sekadar soal anak tidak lapar, melainkan soal kemampuan berpikir, bertanya, dan meragukan.

Politik modern tidak lagi hanya mengatur hukum dan wilayah. Ia mengatur kehidupan itu sendiri-tubuh, kesehatan, nutrisi. Dalam konteks ini, MBG adalah bentuk pengelolaan biologis warga sejak usia dini. Negara masuk ke dalam ritme harian sekolah: jam makan, menu, distribusi.

Namun di balik pengelolaan biologis selalu ada dimensi simbolik. Tubuh anak menjadi ruang di mana negara membangun citra dirinya sebagai pelindung dan penyedia. Setiap suapan bukan sekadar kalori; ia adalah pesan: “Kami peduli.”

Ironinya, kepedulian ini dapat berfungsi sebagai tirai yang menutupi problem lain yang lebih kompleks. Ketika publik terpesona oleh angka penerima manfaat dan besaran anggaran makan, perdebatan tentang ketimpangan kualitas sekolah, distribusi guru, atau akses pendidikan tinggi menjadi kurang dramatis.

Kita hidup dalam era di mana kebijakan yang paling efektif adalah kebijakan yang paling sederhana untuk dipahami. Memberi makan lebih mudah dijelaskan daripada membenahi sistem pendidikan yang berlapis-lapis persoalannya. Maka bukan tidak mungkin, MBG menjadi simbol kemajuan, sementara reformasi struktural berjalan lebih lambat atau bahkan tertunda.

Di titik ini, kita berhadapan dengan paradoks: anak-anak bisa saja lebih sehat secara fisik, tetapi tetap berada dalam sistem pendidikan yang tidak cukup membebaskan mereka secara intelektual. Perut kenyang tidak otomatis melahirkan pikiran merdeka.

Justru karena ia menyentuh dimensi biologis yang paling dasar, MBG memiliki kekuatan ideologis yang besar. Ia tidak bekerja melalui pidato atau slogan, melainkan melalui rutinitas. Setiap hari makanan datang. Setiap hari relasi antara negara dan anak diperkuat. Ideologi paling kuat adalah yang terasa alami.

Politik Balas Budi dan Ingatan Kolektif

Dalam banyak masyarakat, balas budi bukan sekadar etika personal, melainkan struktur sosial. Kita diajarkan untuk mengingat siapa yang membantu. Prinsip ini mulia dalam relasi antarindividu. Namun, ketika ia masuk ke ranah politik, ia menjadi rumit.

Politik balas budi tidak pernah dinyatakan secara eksplisit. Tidak ada instruksi resmi yang mengatakan: “Ingat siapa yang memberi makan.” Tetapi justru karena ia tidak diucapkan, ia bekerja lebih dalam. Ia hadir sebagai bisikan moral di masa depan.

Bayangkan satu dekade mendatang, ketika generasi yang pernah menikmati MBG mulai menjadi pemilih. Di tengah perdebatan tentang kebijakan lain-mungkin kontroversial, mungkin problematik-akan selalu ada argumen sederhana: “Bukankah dulu mereka memberi makan anak-anak kita?” Kritik pun terdengar seperti pengkhianatan terhadap kebaikan masa lalu.

Di sinilah kebijakan sosial berpotensi berubah menjadi kapital politik. Bukan dalam arti transaksi langsung, melainkan sebagai akumulasi legitimasi. Negara tampil bukan hanya sebagai penyelenggara, tetapi sebagai dermawan kolektif.

Bahaya yang mengintai bukanlah rasa terima kasih itu sendiri, melainkan ketika rasa tersebut menggantikan nalar kritis. Demokrasi membutuhkan warga yang mampu menilai kebijakan secara rasional, bukan semata-mata berdasarkan memori emosional.

Jika pendidikan gratis yang berkualitas benar-benar ditegakkan, anak-anak akan tumbuh dengan kesadaran bahwa makanan dan sekolah bukanlah hadiah, melainkan hak. Mereka akan tahu bahwa negara tidak sedang berbaik hati, melainkan menjalankan kewajiban. Kesadaran ini penting agar relasi antara warga dan negara tetap setara.

Tanpa itu, kita berisiko membangun generasi yang sehat secara fisik tetapi terikat secara simbolik-generasi yang mengingat negara melalui nasi, bukan melalui keadilan.

Kenyang dan Kebebasan

Tidak ada yang salah dengan memberi makan anak sekolah. Bahkan, di banyak tempat, itu adalah kebutuhan mendesak. Namun kebijakan yang baik harus dilihat bukan hanya dari niatnya, melainkan dari efek jangka panjangnya terhadap relasi kekuasaan.

Pertanyaan mendasarnya sederhana: apakah kita ingin generasi yang sekadar merasa ditolong, atau generasi yang sadar akan haknya? Apakah MBG akan menjadi pintu masuk untuk memperkuat sistem pendidikan yang membebaskan, atau justru menjadi simbol yang cukup untuk meredam tuntutan perubahan yang lebih besar?

Perut yang kenyang memang penting. Tetapi demokrasi tidak dibangun hanya dengan rasa kenyang. Ia dibangun dengan kemampuan untuk berpikir, mempertanyakan, dan bahkan mengkritik tangan yang memberi makan-tanpa rasa bersalah.

Jika MBG benar-benar ingin menjadi kebijakan progresif, ia harus berdiri berdampingan dengan reformasi pendidikan yang serius, transparan, dan berorientasi pada pembebasan intelektual. Tanpa itu, kita mungkin akan melihat ironi yang halus: anak-anak tumbuh sehat, tetapi ingatan politik mereka dibentuk oleh rasa terima kasih yang tak pernah diminta, namun selalu diharapkan.

Dan di situlah politik bekerja paling efektif-bukan ketika ia memaksa, melainkan ketika ia membuat kita merasa berutang.

 

*) Penulis adalah pemerhati isu politik dan kebijakan publik serta Ketua Ikatan Mahasiswa Ra’as Malang (IMR).

Editor : Sidkin
#Makan Bergizi Gratis #demokrasi #Mbg #pendidikan gratis #pendidikan #politik #politik balas budi