Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Ramadan: Momentum Strategis Kesehatan Berbasis Spiritual, Opini oleh Warda Arumsari, Penyuluh Kesehatan Masyarakat UPTD Puskesmas Jelbuk

Sidkin • Selasa, 24 Februari 2026 | 08:00 WIB

OPINI : Warda Arumsari
OPINI : Warda Arumsari

SETIAP tahun, umat Islam menyambut Ramadan dengan semangat dan suka cita. Ibadah yang berlangsung selama sebulan penuh tersebut memiliki dimensi makna yang luas, baik pada dimensi ritual, fisiologis, dan sosial-kultural. Oleh karena itu, puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga namun ada ruang jeda sebagai momentum me-refresh kondisi lahir dan batin yang selama sebelas bulan.

Allah SWT berfirman dalam Alquran (QS. Al-Baqarah: 183) bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai derajat takwa. Takwa bukan hanya perkara spiritualitas abstrak, melainkan kesadaran penuh dalam menjalani hidup, sadar atas apa yang dikonsumsi, diucapkan, dipikirkan, dan dilakukan.

Misalnya, refresh lahir dapat dimaknai dengan menata pola hidup agar lebih disiplin dengan pola makan lebih teratur, waktu istirahat lebih diperhatikan, dan kesadaran terhadap asupan meningkat serta mengendalikan konsumsi gula berlebih, mengurangi makanan ultra-proses, serta membiasakan hidrasi cukup saat sahur dan berbuka.

Sayangnya, tak sedikit yang terjebak pada paradoks Ramadan, siang menahan lapar dan saat berbuka dipenuhi aneka hidangan tinggi gula dan lemak. Jika demikian, puasa kehilangan makna sebagai proses penyegaran lahiriah dan berubah menjadi sekadar pergeseran jam makan.

Padahal, jika dijalani dengan kesadaran, puasa menjadi titik awal pembentukan gaya hidup sehat yang sustainable. Di sisi lain refresh batin dimaknai dengan membersihkan ruang dalam diri dengan menahan amarah, mengendalikan lisan, membatasi diri dari prasangka, serta memperbanyak refleksi dan kontemplasi.

Puasa menghadirkan empati bahwa saat lapar mengingatkan di luar sana ada mereka yang hidup dalam kekurangan tanpa pilihan waktu berbuka. Refresh lahir dan batin melalui puasa menjadi bekal untuk menjalani sebelas bulan berikutnya.

Pada kondisi kesehatan tertentu dalam beberapa dekade terakhir, sains mulai menaruh perhatian serius pada manfaat biologis puasa, terutama pada proses yang disebut autophagy yang dimaknai dengan mekanisme alami tubuh untuk membersihkan dan mendaur ulang komponen sel yang rusak.

Istilah autophagy dipopulerkan melalui riset ilmuwan Jepang Yoshinori Ohsumi. Dalam kondisi normal, ketika tubuh terus-menerus menerima asupan makanan maka sel cenderung dalam mode pertumbuhan. Namun saat asupan energi dibatasi, seperti pada puasa, tubuh beralih ke mode perawatan dan pemulihan. Aktivasi autophagy dalam konteks puasa berperan sebagai terapi pendukung.

Pada kondisi tertentu seperti obesitas dan resistensi insulin, puasa terkontrol dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mengatur metabolisme glukosa. Autophagy juga sering dikaitkan dengan mekanisme anti-aging, yaitu dengan membersihkan komponen sel yang rusak, sehingga tubuh mempertahankan fungsi jaringan lebih lama.

Akan tetapi, pada kondisi kesehatan seperti gangguan makan, kehamilan, atau penyakit kronis tertentu, puasa perlu dicermati dan dikonsultasikan kepada ahli medis untuk membedakan antara puasa sebagai ibadah dan puasa sebagai intervensi medis.

Meskipun keduanya saling menguatkan, tetapi tetap membutuhkan kehati-hatian ilmiah. Diperlukan upgrade literasi gizi dan kesadaran bahwa tubuh membutuhkan waktu istirahat, serta dalam keterbatasan asupan justru ada proses perbaikan yang bekerja diam-diam.

Di titik inilah literasi gizi menjadi sangat penting. Bukan sekadar tahu apa yang sehat, tetapi mampu memaknai, memilih, dan mempraktikkan pola makan tepat saat berbuka dan sahur. Fenomena “balas dendam” saat berbuka, minuman manis berlebihan, gorengan, dan porsi besar seringkali kontradiktif dengan tujuan puasa sebagai latihan pengendalian diri.

Sahur pun kerap sekadar formalitas: instan, minim serat, rendah protein, dan kurang cairan. Dampaknya nyata yaitu dehidrasi, gangguan lambung, lonjakan gula darah, hingga penurunan produktivitas.

Literasi gizi berarti memahami prinsip sederhana namun krusial yaitu berbuka secara bertahap, misalnya awali dengan air putih dan makanan manis alami. Misalnya kurma, makan utama dengan komposisi seimbang (karbohidrat kompleks, protein, sayur, buah).

Saat sahur, konsumsi makanan dengan tinggi serat dan protein agar kenyang lebih lama dan stabilitas energi. Selain itu, cukupi cairan dengan pola 2-4-2 (dua gelas saat berbuka, empat gelas malam hari, dua gelas saat sahur) serta batasi gula, garam, dan lemak berlebih.

Literasi gizi bukan hanya pengetahuan individual, tetapi praktik sosial yang dipengaruhi budaya keluarga, tradisi komunitas, hingga narasi iklan yang membingkai Ramadan sebagai festival konsumsi.

Berdasarkan fenomena tersebut, peran promosi kesehatan sebagai penyuluh literasi gizi Ramadan dapat dilakukan melalui beberapa hal. Pertama, mengenalkan pola hidup sehat, misalnya imbauan pembatasan takjil tinggi gula dan lemak trans/jenuh di lingkungan kerja, keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Kedua, menciptakan lingkungan yang mendukung, misalnya masjid dan musala dapat menjadi ruang edukasi gizi seperti kultum bertema kesehatan hingga media edukasi poster dan media sosial.

Ketiga, memperkuat aksi pemberdayaan masyarakat melalui kader posyandu dan majelis taklim dilibatkan dalam demo masak menu berbuka dan sahur sehat berbasis pangan lokal. Keempat, reorientasi layanan kesehatan yaitu Puskesmas tidak hanya pelayanan kuratif, tetapi aktif melakukan kampanye gizi Ramadan.

Di tingkat komunitas, kader posyandu bukan sekadar perpanjangan tangan program, tetapi “suluh gizi” yang menerjemahkan pesan teknis menjadi bahasa keseharian dengan menyampaikan pesan gizi dalam pengajian, arisan, atau posyandu dengan pendekatan religius-kultural seperti menjaga kesehatan sebagai bagian dari amanah tubuh.

Selain itu, kader dapat menjadi role model mempraktikkan menu sahur seimbang di keluarganya. Pada akhirnya, ketika promosi kesehatan dan kader bergerak bersama, Ramadan dapat menjadi momentum transformasi perilaku makan dari konsumtif menjadi reflektif, dari impulsif menjadi terencana.

 

*) Penulis adalah Penyuluh Kesehatan Masyarakat UPTD. Puskesmas Jelbuk.

Editor : Sidkin
#gangguan kesehatan #kondisi kesehatan #Momentum Strategis #kesehatan #ramadan #puasa untuk kesehatan