BULAN Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda dalam kehidupan masyarakat muslim. Selain ibadah puasa yang hukumnya wajib, serta ibadah sunnah seperti salat tarawih, infak, dan berbagai kegiatan sosial, ada satu ibadah yang hampir tak pernah ditinggalkan yaitu tadarus, yakni membaca Al-Qur’an yang biasanya diikuti beberapa orang hingga khatam. Pada umumnya kegiatan tersebut dilakukan di masjid, musala, kantor kantor bahkan di rumah rumah, setelah salat tarawih.
Di kala bulan suci ini, orang Islam baik yang tinggal di desa, kelurahan, sampai perkotaan biasanya melakukan kegiatan tadarus dengan beragam caranya. Ada yang dilakukan tanpa pengeras suara yang biasanya tertelak di menara musala atau masjid. Tetapi tidak jarang di tempat lain tadarus menggunakan pengeras suara.
Jumlah peserta tadarus pun beragam, mulai dari tiga, empat sampai lima. Jarang sekali saya mendapatkan peserta tadarus yang lebih dari sepuluh orang, apalagi saat malam malam terakhir bulan Ramadan. Durasi pelaksanaannya pun bervariasi. Ada yang mulai setelah salat tarawih dan selesai pukul 21.00. tetapi ada pula yang selesainya hampir pukul 24.00.
Namun tadarus yang dilakukan di musala yang terletak di Perumahan Gunung Batu Permai, Kawasan RW 05, Lingkungan Kerajan Barat, Kelurahan Sumbersari, Jember tergolong cukup unik dibanding tadarus yang ada di sekitar Jember pada umumnya. Keunikan tersebut terletak pada peserta yang memiliki beragam profesi, pendidikan, kemampuan membaca, usia, serta daya tahan mereka untuk tetap tinggal di tempat tadarus sampai selesai.
Peserta tadarus di Musala Al Ukhuwah sangat heterogen. Ada yang berprofesi PNS, karyawan BUMN, tentara, polisi serta karyawan swasta lainnya. Ada pula yang sudah purna tugas dari berbagai profesi serta ada yang punya usaha sendiri. Ada yang pekerjaannya “serabutan” yaitu bekerjanya menunggu disuruh orang. Bahkan seorang pemulung ikut dalam tadarus tersebut dan tidak pernah absen mengikuti kegiatan setiap malamnya.
Hal unik berikutnya adalah soal strata pendidikan. Pendidikan merekapun sangat beragam, mulai dari lulusan sekolah dasar sampai strata S3. Perbedaan tingkat pendidikan mereka sama sekali tidak tampak di acara tersebut. Mereka justru menunjukkan keakraban yang sangat kuat.
Saking kuatnya keakraban para peserta tadarus, sekat sekat yang sering terjadi karena perbedaan tingkat pendidikan melebur dalam balutan persaudaraan. Mereka yang berpendidikan tinggi begitu akrab dan santai bercakap bahkan bersenda gurau dengan mereka yang lulusan sekolah di bawahnya.
Kemampuan membaca Al-Qu’ran juga sangat bervariasi. Dari yang masih terbata bata sampai yang lancar dan bagus berbaur di musala tersebut. Orang yang yang sudah lancar dengan sabar menunggu sambil kadang memperbaiki bacaan mereka yang masih kurang tepat. Demikian juga sebaliknya ketika mereka yang sudah lancar sedang membaca Al-Qur’an, yang masih dasar dan baru bisa membaca mendengarkan dan menyimak bagaimana mereka membaca.
Dari jumlah ayat yang dibacapun, tadarus ini sangat unik yaitu bahwa pada saat giliran membaca tiba, setiap peserta hanya mendapatkan jatah satu ruku yaitu sejumlah ayat dalam Al-Qur’an yang ditandai dengan huruf ain dipinggir halaman. Mereka yang lancar dan fasih membacanya, atau biasa biasa saja, bahkan yang terbata bata sama sama membaca satu ruku’ setiap kali giliran membaca tiba. Hal ini dimaksudkan agar semua peserta mendapat bagian membaca dan waktu tunggu membaca tidak terlalu lama.
Usia peserta pun sangat beragam. Ada yang masih sangat muda, usia di bawah 30 tahun, tetapi ada juga yang sudah cukup berumur yaitu 71 tahun. Jumlah peserta tadarus setiap malamnya cukup banyak yaitu selalu lebih dari sepuluh orang, terkadang sampai lima belas orang. Sependek pengetahuan saya, jarang ditemukan peserta tadarus lebih dari sepuluh orang, kecuali mungkin di pondok pesantren.
Luar biasanya lagi tadarus di Gunung Batu adalah, ketika satu orang membaca Al-Qur’an, maka seluruh yang hadir tidak ada yang mengobrol atau mengerjakan hal hal lain selain mendengarkan dan menyimak.
Hal yang tidak kurang menariknya tadarus ini adalah pesertanya bukan hanya melibatkan kaum bapak, tetapi juga ibu-ibu. Bapak bapak melaksanakan tadarus di ruang barat dan ibu ibu di ruang timur. Musala Al Ukhuwah cukup besar ukurannya yang terdiri dari dua ruang besar. Banyak musafir yang sempat salat di musala tersebut mengira musala ini masjid karena ukurannya cukup besar.
Dari segi jumlah peserta, tadarus yang dilakukan ibu ibu termasuk luar biasa. Pesertanya setiap malam tidak pernah kurang dari dua puluh orang. Agak sulit mencari di musala lain peserta tadarus sejumlah itu. Dengan berpakaian serba putih, mereka duduk melingkar hampir separuh ruangan.
Setiap malamnya, memulai pelaksanaan tadarus bersamaan dengan bapak bapak yaitu sekitar pukul 20.00, selepas salat tarawih. Tadarus ditutup dengan melantunkan doa sekitar pukul 21.15 WIB. Yang lebih istimewa adalah bahwa ibu ibu tadarus tidak hanya malam hari, tetapi juga pagi hari selepas salat subuh berjamaah.
Keunikan yang luar biasa lainnya adalah jumlah peserta tadarus saat datang dan saat pulang selalu sama. Ini berlaku baik bagi bapak bapak maupun ibu ibu. Maksudnya, kalau yang datang dari awal lima belas, sampai selesai tadarus malam itu jumlahnya tetap lima belas. Di tempat lain yang sering terjadi adalah datang lima atau enam, saat pulang tinggal dua atau tiga, perhatian saja kalau mau.
Kalau kita perhatikan, tadarus ala Gunung Batu ini menunjukkan bahwa perumahan yang kerap dikonotasikan sebagai tempat mereka yang individualistis, sebenarnya menyimpan potensi solidaritas yang besar. Buktinya, mereka dengan berbagai macam profesi, perbedaan usia, perbedaan tingkat pendidikan, serta kemampuan membaca Al-Qur’an dapat bersatu padu melaksanakan tadarus tanpa sekat.
Tadarus heterogen ini jelas menjadi cerminan wajah Islam yang inklusif. Keberagaman tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai kenyataan sosial yang harus dikelola dengan bijak. Kegiatan ini membuktikan bahwa nilai-nilai toleransi bukan hanya disajikan dalam orasi tetapi dipraktikkan secara konkret.
Menurut saya tadarus model ini dapat menjadi sarana pendidikan karakter yang tumbuh dari pengalaman sehari-hari, bukan sekadar wacana. Sejatinya, kalau mau kita dapat memupuk toleransi sambil merawat keberagaman melalui tadarus tanpa sekat.
*) Penulis adalah Anggota KERIS CLC dan Guru Besar Applied Linguistics, di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Jember.
Editor : Sidkin