Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Mozaik Puasa Kita, Opini oleh M. Baha Uddin, Mahasiswa Magister Hukum Universitas Gadjah Mada

Sidkin • Senin, 16 Maret 2026 | 07:00 WIB
M. Baha Uddin, Mahasiswa Magister Hukum Universitas Gadjah Mada
M. Baha Uddin, Mahasiswa Magister Hukum Universitas Gadjah Mada

 “Begitu kita berniat berpuasa, sebenarnya kita sedang bertekad menghajar kemanjaan jasad kita yang binal.”

KALIMAT itu datang dari goresan pemikiran Ahmad Mustofa Bisri dalam tulisan “Puasa Kita, Hanya antara Kita dan Allah”. Tulisan termaktub dalam Pesan Islam Sehari-hari: Memaknai Kesejukan Amat Ma’ruf Nahi Munkar (1996). Saya senapas dengan pendapat Gus Mus—begitu beliau karib disapa—bahwa puasa urusan kita dengan Allah. Praktiknya berjalan berhubungan dengan sesama manusia, baik muslim maupun mereka yang bukan.

Selama dua belas hari puasa saya benar-benar merasa pesan Gus Mus tadi nyata. Saya berpuasa di antara lingkungan tidak biasa seperti masa-masa sebelumnya. Semasa SD, MTs, dan MAN di pesantren, lelaku berpuasa memiliki ritme monoton. Bermula dengan sahur, pagi sampai sore mengaji dan belajar ke sekolah. Magrib berbuka puasa bersama. Isya Tarawih lanjut mengaji lagi sampai tengah malam. Siklus itu terus demikian tanpa nada-nada perubahan.

Suasana berubah ketika saya berada di jalan perantauan. Jauh dari keluarga dan mesti berpuasa dengan kemandirian. Hidup di perantauan jauh dari rekapan masa-masa hidup di lingkungan pesantren atau zona nyaman bersama keluarga. Tiba saat Ramadan, mesti mencari/menyiapkan buka dan sahur sendiri. Lalu pada pagi sampai sore berpuasa, konstruksi pengalaman demi pengalaman amat berbeda.

Saya mesti bertemu kawan-kawan tak berpuasa karena bukan kewajibannya. Siang-siang Ramadan mesti ikut sebuah pertemuan di sebuah restoran makan. Di sana, pengunjung asik menyantap pelbagai hidangan, sementara mesti menahan keinginan nafsu itu. Mesti tak boleh tergoda sebagai insan tengah melakukan kewajiban berpuasa. Ini tentu menjadi penguat bagaimana kualitas puasa kita di belahan tempat tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Baca Juga: Tafsir Zakat di Lingkaran Kepentingan, Opini oleh Muhammad Asyrofudin, Mahasiswa Universitas Islam Raden Mas Said Surakarta

Akhirnya keterbukaan toleransi saya terbentuk. Bahwa saya, sebagai muslim tengah berpuasa, di lingkungan memiliki keragaman budaya berbeda mesti menaruh hormat juga kepada mereka tak berpuasa. Jangan sampai memiliki pikiran orang berpuasa ingin dihargai mereka tak berpuasa. Bagi saya, meminjam istilah Gus Mus, berpuasa ialah bertekad menekan dan menguasai nafsu liar dan sering kali kampungan.

Begitu kita berniat berpuasa karena Allah, kata Gus Mus, sesungguhnya sedang membuka kebersamaan kita dengan-Nya, tanpa keikutsertaan siapa pun dan apa pun. Mestinya puasa kita tak akan pernah terganggu oleh siapa dan apa pun, termasuk terhadap hal-hal tak mengenakan, bilamana niatnya betul-betul karena Allah.

Seberat apa pun godaan berpuasa, selagi kita mampu mengendalikan nafsu, puasa kita berjalan sebagaimana mestinya. Saya bersikap bodo amat saja terhadap hal-hal teranggap bentuk pelanggaran terhadap puasa, sekali pun itu dilakukan muslim sendiri. Kita sering menguar keimanan sebagai orang suci berpuasa tapi di sisi lain mengesampingkan kesalihan sosial terhadap sesama. Barang kali mulut kita berpuasa tapi hati kita tidak.

Akan keliru mengira puasa hanya diisi dengan berdiam diri atau tertidur sepanjang hari. Lain hal perbandingan logika Gus Bahauddin Nursalim. Tidur ketika berpuasa memang lebih baik, daripada bangun melakukan maksiat dan berbuat tak keruan. Dalam hal berdiam atau tertidur di atas, ia akan menjadi salah kaprah bila dijadikan alasan. Bukan sebagai pembanding seturut analoginya Gus Baha.

Maksudnya, jika ada kegiatan-laku lain, yang mesti tertunai-wajibkan, sementara malah memilih tidur atau berdiam, inilah yang menjadi soal. Ini berarti berdiam dan tidur dijadikan alasan untuk tak melakukan hal lain, yang bisa jadi, mesti terlakukan. Ah, nanti jika berkegiatan bakal haus dan lapar, begitu kata orang-orang.

Justru karena halangan-godaan itulah puasa menjadi bernilai. Saya jadi teringat Mimi dan Bapak yang tetap berjualan ke pasar tanpa libur, sekalipun itu Ramadan. Pagi sampai siang di pasar. Dua hari sekali, siangnya, Bapak mesti berbelanja ke Pasar Kue. Bayangkan, di tengah terik serta kemacetan, Bapak harus tetap berpuasa.

Haus? Pasti. Namun, haus di dunia tidak seberapa, dibanding kelak di akhirat merasa haus karena tak menjalankan titah Tuhan. Begitu pun para pedagang yang lain di pasar, kawan-kawan Mimi dan Bapak teguh berpuasa. Sekalipun mereka menjual bahan makanan atau makanan siap santap, seperti Mimi-Bapak.

Lantas kapan lagi umat manusia mendapat pelajaran berharga selain di bulan suci Ramadan ini? Justru karena setahun sekali, mestinya umat menyambutnya lewat gegap-gempita kepatuhan. Melaksanakan apa yang terperintahkan, menjauhi segala hal terlarang.

Baca Juga: Buka Puasa Bersama, Dahlan Iskan dan Goenawan Mohamad Kembali Bersua, Obrolan Tak Ada Habisnya

Laku berpuasa bukan saja menahan nafsu, melainkan ia mencipta nuansa lain dari keseharian biasanya. Peristiwa, singgungan, dan kehidupan jelas-jelas terubah lewat hadirnya bulan Ramadan. Pagi tetap beraktivitas dengan tetap berpuasa, malamnya melaksanakan Tarawih di masjid/langgar/tajug. Sebuah ritme yang tak kita dapati di selain Ramadan.

Sebagian orang (mungkin) masih terbata dan belum kuasa menunaikan puasa. Namun, apa salahnya bagi mereka untuk mengeja makna-makna di dalamnya. Teruslah membaca kode-kode ilham yang Tuhan berikan. Siapa tahu itu menjadi wasilah kehidupan kita menuju kea rah lebih baik. Siapa tahu, semoga saja.

Bagi muslim mukalaf, berpuasalah! Jika belum kuasa atau tergoda, usahakanlah. Paksalah. Kita harus melawan dan keluar dari pusaran zona nafsu. Bertakwalah, berpuasalah!


*) Penulis adalah mahasiswa Magister Hukum Litigasi Universitas Gadjah Mada, Bergiat di Komunitas Serambi Kata Kartasura.

Editor : Sidkin
#opini #puasa #ramadan #puasa ramadan