Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Kesalehan di Panggung Birokrasi Kampus: Dramaturgi ASN pada Sepuluh Hari Terakhir Ramadan, Opini oleh Rektor UIN KHAS Jember Prof. H. Hepni

Sidkin • Selasa, 17 Maret 2026 | 07:00 WIB
Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag,. MM., CPEM., Rektor UIN KH. Achmad Siddiq Jember
Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag,. MM., CPEM., Rektor UIN KH. Achmad Siddiq Jember

PADA sepuluh hari terakhir Ramadan, suasana kampus sering berubah menjadi panggung yang sunyi namun sarat makna. Di lorong-lorong fakultas, di ruang administrasi yang biasanya dipenuhi suara komputer dan percakapan akademik, tiba-tiba terdengar lantunan tilawah, diskusi tentang iktikaf, atau rencana berbuka bersama. Di sinilah sebuah fenomena sosial menarik muncul: kesalehan yang dipertunjukkan di panggung birokrasi kampus.

Dalam perspektif dramaturgi Erving Goffman, kehidupan sosial seperti teater; manusia adalah aktor yang memainkan peran di panggung depan dan menyimpan sisi personalnya di panggung belakang.

Pada sepuluh malam terakhir Ramadan (yang dipercaya umat Islam sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar) para aparatur sipil negara (ASN) di kampus bukan hanya bekerja sebagai birokrat pendidikan, tetapi juga tampil sebagai aktor religius yang menampilkan identitas kesalehan di ruang publik institusi.

Saya teringat suatu sore 2 hari yang lau, sekitar pukul empat lewat tiga puluh menit. Matahari mulai condong ke barat, memantulkan cahaya jingga pada jendela-jendela gedung rektorat. Seorang pegawai administrasi berjalan cepat sambil membawa mushaf Alquran. "Mau tadarus di Masjid sebelum pulang prof," katanya dengan senyum ringan.

Baca Juga: Mozaik Puasa Kita, Opini oleh M. Baha Uddin, Mahasiswa Magister Hukum Universitas Gadjah Mada

Beberapa dosen juga terlihat berkumpul merencanakan iktikaf bersama mahasiswa di masjid kampus. Pemandangan itu mengharukan sekaligus menggugah pertanyaan: apakah ini semata-mata kesalehan pribadi, ataukah juga bagian dari sebuah performa sosial yang disadari atau tidak, sedang dimainkan di panggung kehidupan birokrasi?

Pengalaman-pengalaman kecil seperti itu membuka ruang refleksi tentang bagaimana religiusitas bekerja dalam institusi modern. Dalam kajian sosiologi, Goffman menjelaskan bahwa individu cenderung mengelola kesan yang mereka tampilkan kepada orang lain melalui proses impression management, yakni usaha sadar atau tidak sadar untuk menunjukkan citra tertentu di hadapan publik.

Dalam konteks tempat kerja, penelitian menunjukkan bahwa praktik religius sering kali menjadi bagian dari identitas sosial yang dipresentasikan di ruang profesional. Studi Arfaryanda dan Fajarni (2025) tentang ekspresi religius di lingkungan kerja di Aceh menunjukkan bahwa pegawai sering menampilkan simbol dan praktik agama sebagai bentuk identitas moral sekaligus strategi sosial dalam organisasi profesional.

Fenomena serupa juga ditemukan dalam penelitian Van Laer dan Essers (2024) yang menyoroti bagaimana praktik agama di tempat kerja tidak hanya berkaitan dengan keyakinan pribadi, tetapi juga bernegosiasi dengan norma institusi dan ekspektasi sosial.

Baca Juga: Tafsir Zakat di Lingkaran Kepentingan, Opini oleh Muhammad Asyrofudin, Mahasiswa Universitas Islam Raden Mas Said Surakarta

Dalam kerangka ini, Ramadan menjadi momen yang sangat menarik, karena intensitas religiusitas meningkat dan praktik ibadah menjadi lebih terlihat secara publik. Puasa, Tarawih, tadarus, dan iktikaf tidak lagi sekadar aktivitas privat; ia menjelma menjadi ritual sosial yang tampak dalam kehidupan sehari-hari di kantor dan kampus.

Bagi ASN di lingkungan kampus, ruang kerja bukan hanya ruang administratif, tetapi juga ruang simbolik. Mereka tidak hanya mengurus surat, data akademik, atau pelayanan mahasiswa, tetapi juga membangun citra sebagai individu yang berintegritas dan religius.

Dalam perspektif dramaturgi, ruang kantor dapat dianggap sebagai front stage, tempat para aktor sosial menampilkan peran terbaik mereka di hadapan audiens, rekan kerja, mahasiswa, atau pimpinan. Sementara itu, kehidupan pribadi menjadi back stage, tempat seseorang bebas dari tuntutan penampilan sosial.

Namun, dramaturgi kesalehan bukan berarti kemunafikan. Ia sering kali merupakan bentuk negosiasi identitas antara keyakinan pribadi dan norma sosial.

Baca Juga: Merawat Keberagaman Melalui Tadarus Tanpa Sekat, Opini oleh Hairus Salikin, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

 Penelitian Naderi (2018) menunjukkan bahwa ekspresi religius di ruang publik sering berfungsi sebagai strategi untuk mengelola persepsi sosial, sekaligus sebagai cara mempertahankan identitas moral di tengah lingkungan modern yang sekuler.

Dalam konteks kampus, hal ini dapat terlihat dalam berbagai bentuk: pegawai yang lebih rajin menghadiri salat berjemaah, dosen yang membagikan pesan-pesan spiritual kepada mahasiswa, atau birokrat kampus yang aktif menginisiasi kegiatan keagamaan.

Pada suatu malam di sepuluh hari terakhir Ramadan, saya sempat duduk di serambi masjid kampus. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Di dalam masjid, beberapa pegawai kampus yang siang harinya sibuk dengan administrasi kini duduk bersila membaca Alquran. Suasana begitu tenang.

Di saat seperti itu, dramaturgi sosial terasa seolah menghilang, dan yang tersisa hanyalah hubungan manusia dengan Tuhannya. Tetapi ketika pagi datang dan aktivitas kantor dimulai kembali, kesalehan itu kembali memasuki panggung sosial yang lebih luas.

Baca Juga: Etika Puasa dan Spirit Kemajuan, Opini oleh Prof Khusna Amal, Wakil Rektor UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Inilah paradoks menarik dari religiusitas di ruang publik. Di satu sisi, ia lahir dari dorongan iman yang tulus. Di sisi lain, ia juga menjadi bagian dari interaksi sosial yang membentuk citra diri seseorang.

Penelitian Shams (2015) menunjukkan bahwa individu sering menyesuaikan ekspresi religius mereka dengan konteks sosial tempat mereka berada. Ketika lingkungan kerja mendukung ekspresi agama, maka praktik religius akan lebih tampak di ruang publik.

Ramadan memperkuat dinamika ini karena ia menghadirkan atmosfer spiritual yang kolektif. Dalam masyarakat Muslim, bulan ini tidak hanya menjadi waktu ibadah pribadi, tetapi juga perayaan sosial yang melibatkan komunitas.

Penelitian Jones (2022) bahkan menyebut Ramadan sebagai bulan ambiguitas sosial, di mana identitas religius, budaya, dan sosial saling berkelindan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Dalam konteks birokrasi kampus, fenomena ini memiliki makna yang lebih luas. Kampus bukan hanya tempat produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan nilai-nilai sosial dan moral. Ketika para ASN menampilkan kesalehan di lingkungan kerja (melalui kegiatan tadarus, pengajian, atau iktikaf) mereka secara tidak langsung membangun budaya institusi yang lebih religius dan humanis.

Akhirnya, kesalehan di panggung birokrasi kampus bukanlah sekadar pertunjukan sosial. Ia adalah refleksi dari dinamika manusia modern yang hidup di antara dua dunia: dunia iman yang intim dan dunia sosial yang penuh interaksi. Dramaturgi mungkin menjelaskan bagaimana manusia menampilkan dirinya di hadapan publik, tetapi ia tidak selalu mampu menilai kedalaman niat di dalam hati.

Sepuluh hari terakhir Ramadan mengajarkan kita bahwa di balik segala peran sosial yang kita mainkan (sebagai dosen, pegawai, birokrat, atau mahasiswa) kita tetaplah manusia yang mencari makna spiritual.

Panggung birokrasi mungkin penuh dengan prosedur dan formalitas, tetapi pada malam-malam Ramadan, ia berubah menjadi ruang sunyi tempat manusia mengingat kembali tujuan hidupnya. Dan mungkin, di antara tadarus yang lirih dan doa yang panjang itu, kesalehan tidak lagi sekadar penampilan di panggung depan, melainkan bisikan hati yang paling dalam. (*)

 

Penulis adalah Rektor UIN KH. Achmad Siddiq Jember

Editor : Sidkin
#Dramaturgi #Kesalehan #Birokrasi kampus #UIN KHAS Jember #asn