PRAMOEDYA Ananta Toer pernah berpesan, "Bersikap adillah sejak dalam pikiran." Kalimat itu menghantui saya, menuntut kejujuran intelektual saat harus memotret fenomena Ramadan Core yang belakangan ini mendadak senyap, seolah ditelan bumi, padahal tahun-tahun sebelumnya ia begitu bising di lini masa.
Namun, jujur saja, ada rasa ganjil yang hinggap. Dulu, hampir tiap lini masa kita disuguhi video 'kelucuan anak kecil Tarawih', 'war takjil', atau 'mukena ala-ala"' Sekarang? Sunyi.
Apakah dunia sudah berubah menjadi sangat religius dalam sekejap, ataukah sebenarnya ada yang sedang mati di balik layar ponsel kita? Kita sering kali terlalu cepat menyebut sesuatu sebagai 'kultur' atau tren, padahal bisa jadi itu hanyalah buih sabun di atas air yang sebentar lagi pecah.
Sejak awal kemunculannya, fenomena Ramadan Core memang mengidap dualisme yang aneh. Di satu pihak, ia membawa warna baru yang segar, di pihak lain, ia berbau komodifikasi kesalehan yang dipoles sedemikian rupa agar tampak fotogenik. Namun, tiba-tiba di Ramadan 2026, tren itu seakan menguap seperti embun pagi yang disengat matahari siang. Apakah ia mati, ataukah sekadar bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lain?
Apa yang menarik dari Ramadan Core? Tentu, spontanitasnya. Tingkah lucu anak-anak saat Tarawih atau kreativitas ibu-ibu di masjid mengundang senyum. Bulan suci mestinya membawa kegembiraan, bukan sekadar dahi yang berkerut. Kedua, ia adalah komunitas digital. Orang-orang yang terpisah jarak merasa terhubung lewat pengalaman receh yang sama: war takjil, mokel, atau sahur yang riuh.
Namun, di balik itu, ada sifat ‘kontenisasi’ yang mengkhawatirkan. Segalanya dipaksakan masuk ke dalam bingkai estetika layar. Esensi ibadah yang mestinya tenang, mendadak berubah menjadi panggung sandiwara demi mendapatkan like dan view. Inilah yang sering membuat orang tersandung-sandung pada kepura-puraan.
Kini, Ramadan Core menghilang. Neli Triana (2026) melalui Harian Kompas dalam tulisannya yang berjudul "Budaya Pop” Pasar Takjil, Menebar Energi Positf memberikan perspektif yang menarik. Pasar takjil adalah bentuk liminalitas yang memberi peluang warga keluar sejenak dari rutinitas dan peran sosial sehari-hari. Ia adalah infrastruktur sosial yang menopang kehidupan kota.
Selama ini, kehidupan terhanyut dalam liquid modernity ala Zygmunt Bauman (2005), di mana hubungan sosial menjadi cair dan mudah menguap. Konten-konten viral di tahun 2024-2025 hanyalah busa di atas air.
Namun, ketika ekonomi lesu, harga melambung, dan ketidakpastian geopolitik menghimpit seperti sekarang, sebut saja bayang-bayang konflik Iran vs AS atau MBG yang entah apalah, aktivis disiram air keras, masyarakat tak lagi punya waktu untuk bersolek di depan kamera. atau melucu. Warga kembali ke pasar takjil yang riil, ke kerumunan nyata, hengkang dari kerumunan algoritma.
Tidakkah ini mengingatkan pada teori Hartmut Rosa (2009) tentang akselerasi sosial? Hidup dipaksa melaju kencang oleh mesin digital hingga manusia merasa asing dengan diri sendiri.
Ramadan Core menjadi subjek dari akselerasi itu. Ketika mesin algoritma menuntut konten baru setiap detik, sementara hidup nyata sedang mengalami ‘kematian’ daya beli, maka terjadilah disharmoni. Ramadan Core menjadi tidak relevan, bahkan terasa tone-deaf di tengah situasi yang mendesak warga untuk sekadar bertahan hidup.
Dunia sudah terbalik sungsang. Malam menjadi siang dan siang menjadi malam. Dulu, orang-orang ditegur karena membuat konten yang dianggap kurang khusyuk. Sekarang, hasrat untuk membuat konten hilang karena kepedihan nyata di depan mata. Apakah ini berkat perubahan tata nilai masyarakat sendiri? Atau apakah ini kemauan sang evolusi sosial yang memaksakan manusia kembali berpijak pada bumi yang keras?
Kritik terhadap pasar takjil sebagai tempat konsumtif memang selalu ada. Tapi Neli Triana mengingatkan untuk melihat lebih jernih, pasar takjil tetap muncul karena kehadirannya menerbitkan rasa senang lagi hangat di tengah impitan kondisi. Ia adalah infrastruktur sosial yang membuat kota tetap hidup. Ia adalah perayaan bersama yang tidak bisa direduksi hanya dengan angka rupiah.
Tidak mudah menyimpulkan segala macam apa yang sedang terjadi. Tapi secara gampang-gampangan saja, bisalah saya katakan bahwa sedang terjadi pergeseran tata nilai secara amat mendasar. Jika belakangan masyarakat mencari legitimasi kebahagiaan dari layar ponsel, sekarang mereka mencarinya di pinggir jalan, di balik kepulan asap gorengan, di tengah riuh rendah pembeli yang sama-sama sedang berjuang melawan ekonomi yang lesu.
Apa ujung cerita ini? Yang jelas, ini bukanlah sekadar masalah rutin. Ini masalah amat mendasar yang menyangkut nilai-nilai dasar kita. Bila masyarakat sudah tidak lagi butuh ‘Core’ di media sosial dan lebih memilih turun ke jalan, hanya Tuhan saja yang tahu bagaimana menyelesaikan kemelut esensiil ini.
Kita sedang menyaksikan Ramadan yang lebih sunyi di ruang digital, namun barangkali lebih riuh di ruang-ruang kemanusiaan yang paling dasar.
Mungkin, Ramadan Core memang tidak pernah benar-benar ada. Ia hanya bayang-bayang yang diciptakan sendiri saat terlalu silau oleh cahaya layar. Dan sekarang, saat cahaya itu meredup, wajah sesama akhirnya terpaksa dilihat dengan lebih jelas. Begitulah kira-kira.
*) Penulis adalah alumnus Aqidah dan Filsafat Islam, UIN Raden Mas Said Surakarta.
Editor : Sidkin