Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Persia dan Indonesia dalam Peta Geopolitik Dunia Islam, Opini oleh Ahmad Fizal Fakhri, Founder The Indonesian Foresight Research Institute

Sidkin • Selasa, 31 Maret 2026 | 07:00 WIB
Ahmad Fizal Fakhri, Founder The Indonesian Foresight Research Institute dan asisten profesor di UINSA.
Ahmad Fizal Fakhri, Founder The Indonesian Foresight Research Institute dan asisten profesor di UINSA.

HUBUNGAN antara Iranyang dalam sejarah dikenal sebagai Persiadengan Indonesia sering kali dibaca hanya dalam konteks politik Timur Tengah yang penuh konflik. Padahal, jika ditarik lebih jauh, relasi keduanya mencerminkan jaringan peradaban Islam yang luas, dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara.

Di tengah eskalasi konflik Iran–Israel yang kembali memanas pada 2026, hubungan historis dan geopolitik antara Persia dan Indonesia memperoleh relevansi baru. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki posisi moral dan strategis dalam dinamika dunia Islam. Data menunjukkan bahwa sekitar 87 persen penduduk Indonesia atau sekitar 244 juta jiwa beragama Islam, menjadikannya negara Muslim terbesar secara demografis di dunia.

Di sisi lain, Iran merupakan pusat kekuatan politik Syiah terbesar di dunia. Pertemuan dua realitas ini menjadikan Indonesia dan Iran bukan hanya mitra bilateral, tetapi juga dua simpul penting dalam peta geopolitik dunia Islam.

Jejak Persia dalam Sejarah Peradaban Islam Nusantara

Hubungan antara Persia dengan Nusantara sebenarnya telah terjalin jauh sebelum munculnya negara-bangsa modern. Sejak abad pertengahan, jaringan perdagangan Samudra Hindia menghubungkan pelabuhan-pelabuhan di Teluk Persia dengan wilayah Asia Tenggara. Para pedagang Persia berlayar membawa tekstil, keramik, dan logam, sementara Nusantara menyediakan rempah-rempah yang menjadi komoditas paling berharga pada masa itu.

Namun, perdagangan hanyalah satu sisi dari interaksi tersebut. Dalam banyak kajian sejarah, Persia juga menjadi salah satu kanal penyebaran Islam ke Nusantara. Tradisi sufisme yang berkembang luas di Indonesia memiliki kedekatan dengan tradisi intelektual Persia. Karya-karya tokoh sufi seperti Jalaluddin Rumi menjadi bagian dari khazanah spiritual yang dibaca dan diajarkan di berbagai pusat pendidikan Islam.

Jejak Persia juga terlihat dalam tradisi budaya lokal. Misalnya, tradisi Tabuik di Sumatra Barat yang memperingati peristiwa Karbala memiliki akar historis yang terkait dengan komunitas Persia yang datang melalui jalur perdagangan. Selain itu, beberapa istilah dalam bahasa Melayu klasik seperti bandar dan syahbandar berasal dari bahasa Persia.

Fakta ini menunjukkan bahwa hubungan Persia dengan Nusantara tidak hanya didasarkan pada kepentingan politik, tetapi juga pada pertukaran budaya dan intelektual yang panjang. Hubungan peradaban ini kemudian berkembang menjadi relasi diplomatik modern ketika kedua negara membangun hubungan resmi pada tahun 1950.

Indonesia dan Iran dalam Arsitektur Geopolitik Dunia Islam

Dalam geopolitik dunia Islam kontemporer, Indonesia dan Iran memiliki posisi yang saling melengkapi. Indonesia mewakili kekuatan Islam moderat di Asia Tenggara dengan karakter demokratis dan plural. Sementara Iran memainkan peran penting di Timur Tengah sebagai kekuatan regional dengan pengaruh politik yang luas.

Kedua negara sama-sama tergabung dalam organisasi internasional seperti Organisation of Islamic Cooperation, Non-Aligned Movement, dan Developing-8 Organization for Economic Cooperation, yang menjadi forum bagi negara-negara berkembang untuk memperkuat kerja sama politik dan ekonomi.

Dari sisi ekonomi, hubungan Indonesia–Iran juga cukup signifikan. Data perdagangan internasional menunjukkan bahwa nilai ekspor Indonesia ke Iran mencapai sekitar 249 juta dolar AS pada 2025, dengan komoditas utama berupa produk pertanian, minyak nabati, kayu, dan rempah-rempah.

Selain itu, kawasan Timur Tengah secara keseluruhan memiliki arti strategis bagi Indonesia dalam hal energi. Indonesia mengimpor sekitar 40 persen kebutuhan LPG dari kawasan Timur Tengah, sehingga stabilitas geopolitik kawasan tersebut memiliki dampak langsung terhadap ketahanan energi nasional.

Dengan kata lain, hubungan Indonesia dengan Iran dan kawasan Timur Tengah bukan hanya persoalan identitas keagamaan, tetapi juga kepentingan ekonomi dan geopolitik yang nyata.

Peran Strategis Indonesia dalam Konflik Iran–Israel

Ketika konflik Iran–Israel kembali memanas pada 2026, posisi Indonesia menjadi semakin penting. Sebagai negara Muslim terbesar di dunia dan anggota aktif berbagai organisasi internasional, Indonesia memiliki legitimasi moral untuk mendorong de-eskalasi konflik.

Pemerintah Indonesia bahkan menyatakan kesiapan untuk berperan sebagai mediator dalam konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Upaya ini dipandang sebagai bagian dari tradisi diplomasi Indonesia yang berlandaskan prinsip politik luar negeri “bebas dan aktif”.

Sejumlah pengamat juga menilai Indonesia memiliki kredibilitas untuk memainkan peran tersebut karena relatif tidak terlibat langsung dalam rivalitas geopolitik Timur Tengah. Dalam konteks konflik terbaru, Indonesia juga mengambil langkah diplomatik dan kemanusiaan. Pemerintah menunda beberapa inisiatif internasional dan memfokuskan perhatian pada krisis Timur Tengah, sambil tetap mendorong solusi dua negara bagi konflik Palestina.

Selain diplomasi, dampak ekonomi konflik juga mulai dirasakan di Indonesia. Gangguan pengiriman dari kawasan Teluk akibat perang telah memengaruhi pasokan bahan baku industri, termasuk belerang yang penting bagi industri nikel Indonesia.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik Timur Tengah bukanlah isu yang jauh dari Indonesia. Sebaliknya, ia memiliki implikasi langsung terhadap ekonomi, energi, dan stabilitas global. Karena itu, peran Indonesia dalam mendorong perdamaian menjadi semakin relevan. Dengan posisi sebagai negara Muslim terbesar, demokrasi terbesar di dunia Islam, serta aktor Global South yang relatif netral, Indonesia memiliki peluang untuk menjadi jembatan dialog antara berbagai kekuatan yang berkonflik.

Sejarah panjang hubungan Persia dan Nusantara menunjukkan bahwa dunia Islam tidak selalu dibangun melalui konflik, tetapi juga melalui jaringan perdagangan, ilmu pengetahuan, dan perjumpaan peradaban.

Hari ini, ketika konflik Iran–Israel kembali mengguncang geopolitik Timur Tengah, hubungan historis tersebut menemukan maknanya kembali. Indonesia dan Iran tidak hanya terhubung melalui diplomasi modern, tetapi juga melalui sejarah panjang interaksi peradaban Islam.

Dalam dunia yang semakin multipolar, peran negara-negara Muslim besar seperti Indonesia menjadi semakin penting. Bukan sebagai pihak yang memperpanjang konflik, melainkan sebagai kekuatan moral yang mendorong dialog dan perdamaian.

Dan mungkin di sinilah relevansi terbesar hubungan Persia dan Indonesia: bahwa dalam sejarah dunia Islam, kekuatan sejati tidak selalu lahir dari dominasi geopolitik, tetapi dari kemampuan membangun jembatan antar peradaban.

 

*) Penulis adalah Founder The Indonesian Foresight Research Institute, Assistant Professor at Uinsa, LP Ma'arif Jatim Book Writing Team.

Editor : Sidkin
#Hubungan diplomatik #Peta Geopolitik #Dunia Islam #persia #indonesia #iran