JAGAT maya kembali dihebohkan oleh potret kelam dunia pendidikan kita. Sebuah video pengeroyokan terhadap seorang guru SMK di Jambi viral, memancing kemarahan sekaligus keprihatinan mendalam. Namun, di balik bogem mentah yang mendarat di tubuh sang guru, tersimpan luka lain yang tak kalah perih: dugaan kekerasan verbal yang sistematis. Insiden ini bukan sekadar berita kriminal biasa, melainkan cermin retak yang memantulkan betapa nilai-nilai Islam kian terasing dari institusi yang kita sebut sebagai "sekolah".
Kronologi: Antara Adab Murid dan Lisan Guru
Peristiwa yang terjadi pada Rabu (14/1/2026) ini bermula dari ruang kelas—tempat yang seharusnya suci bagi ilmu. Agus, sang guru, menceritakan bahwa kejadian berawal saat ia menegur siswanya yang bertindak tidak sopan di tengah jam pelajaran.
"Dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar," ungkap Agus, dilansir dari detikSumbagsel. Teguran itu berujung pada aksi pengeroyokan yang membuat martabat pendidik seolah jatuh ke titik terendah.
Namun, setiap koin memiliki dua sisi. MUF, siswa yang terlibat, memberikan pembelaan yang menyesakkan dada. Ia mengklaim aksi tersebut adalah puncak dari kekesalan karena sang guru diduga sering berucap kasar. "Sering ngomong kasar, menghina siswa dan orang tua, bilang bodoh dan miskin," ujar MUF.
Dua pengakuan ini seperti dua sisi pedang yang saling menghujam. Murid kehilangan ta’dzim (rasa hormat), sementara guru kehilangan rahmah (kasih sayang).
Darurat Perlindungan dan Hak Anak
Kekerasan di sekolah, apa pun alasannya, adalah sebuah kegagalan sistemik. Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menegaskan bahwa peristiwa ini merupakan pelanggaran hak asasi anak untuk mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang aman. Konstitusi dan UU Perlindungan Anak telah menjamin bahwa sekolah harus bebas dari rasa takut. Ketika sekolah berubah menjadi medan pertempuran ego, maka esensi pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia telah gagal total.
Analisis: Saat Islam Tak Lagi Jadi "Ruh" Sekolah
Dalam tradisi pendidikan Islam, dikenal konsep Adab sebelum Ilmu. Imam Malik rahimahullah pernah berpesan, "Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu." Tragedi Jambi adalah bukti nyata bahwa kita sedang mengalami kekeringan spiritual di ruang kelas:
Gugurnya Keteladanan: Guru adalah murabbi (pendidik jiwa). Jika lisan guru benar-benar digunakan untuk menghina kemiskinan atau kecerdasan murid, maka ia telah kehilangan otoritas moralnya di depan siswa.
Hilangnya Rasa Hormat: Siswa yang berani mengeroyok guru adalah tanda hilangnya keberkahan ilmu. Dalam Islam, menghormati guru adalah kunci terbukanya pintu pemahaman.
Pendidikan Berbasis Angka: Saat sekolah hanya mengejar nilai akademik dan melupakan pembentukan akhlak, maka yang lahir bukanlah intelektual, melainkan individu-individu yang cerdas secara otak namun cacat secara karakter.
Solusi: Pulang ke Jalan Adab
Merenovasi cermin yang retak ini tidak bisa hanya dengan sanksi hukum. Kita butuh revolusi adab di jantung pendidikan kita:
a. Pendidikan Karakter Berbasis Sirah Nabawiyah: Guru perlu meneladani cara Rasulullah SAW menegur kesalahan tanpa merendahkan harga diri.
b. Kurikulum Berbasis Adab: Sekolah tidak boleh hanya menjadi pabrik ijazah. Penilaian akhlak harus memiliki bobot yang jauh lebih tinggi daripada nilai matematika atau sains. Namun antara Akhlak dan ilmu harus berjalan seiring tidak perlu ada yang harus dipilih melainkan harus dipilih kedua-duanya.
c. Sinergi Orang Tua dan Sekolah: Adab tidak bisa diajarkan sendirian oleh guru. Rumah harus menjadi madrasah pertama yang menanamkan rasa hormat kepada orang tua dan pendidik.
Jadi kita sebagai orang tua bukan hanya menyuruh tetapi menjadi role model atau memberi contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari kita. Terutama peran ibu sebagai madrasatul ula maka benar-benar dituntut memberikan arahan serta contoh yang benar dalam kehidupan sehari-hari sehingga melahirkan generasi yang tangguh yang siap melawan kerasnya kehidupan.
d. Memastikan kurikulum berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, bukan sekadar kompetensi pasar. Karena saat ini kurikulum hanya berbasis isi bab dan notabene mengejar target sedikit ada kolaborasi penanaman karakter terutama agama. Dan, minimnya jam pelajaran agama di kelas sehingga untuk hal-hal tentang karakter Islam sangat sulit dijangkau mengingat materi bejubun namun waktu sangat terbatas.
e. Guru adalah figur teladan, bukan sekadar pengajar. Menjadi guru yang bisa menjadi teladan yang baik itu merupakan tantangan yang sangat berat seiring dengan perkembangan zaman. Ada banyak guru yang masih ingin selalu eksistensi diri di media sosial sehingga melupakan profesinya sebagai guru juga ada Batasan dalam bermedia sosial.
Kejadian di Jambi harus menjadi titik balik. Jangan sampai sekolah kita hanya menghasilkan sarjana-sarjana yang pandai berdebat dan terampil berkelahi, namun asing terhadap nilai-nilai luhur agama mereka sendiri.
Sudah saatnya kita membawa kembali Islam ke dalam kelas, bukan sekadar sebagai mata pelajaran, tapi sebagai napas dalam setiap interaksi guru dan murid.
*) Penulis adalah pengajar matematika di SMA Negeri 1 Tenggarang Bondowoso
Editor : Sidkin