Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Lebih Akrab dengan Sastra Persia, Opini oleh Mu’min Roup, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sidkin • Selasa, 7 April 2026 | 07:00 WIB
Mu’min Roup, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Mu’min Roup, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

BEBERAPA novel Reza Baraheni (1935-2022) yang ditulis dalam Bahasa Persia adalah Les Saisons en Enfer du Jeune Ayyaz (2000) dan Les Mystères de Mon Pays (2009). Novel yang kedua itu ditulis dalam dua jilid, menyingkap suatu praktik keberagamaan yang sering kali dilakukan masyarakat secara lateral dan harfiah, yang tampaknya sulit untuk menangkap pesan-pesan ilahiyah.

Dalam “Cowned Cannibals” yang ditulis semasa kekuasaan Shah Iran (1978), secara lugas Baraheni menyingkap kehidupan orang beragama tetapi berperilaku seakan-akan tak mengenal Tuhan. Hal ini selaras dengan pesan-pesan religiositas dalam karya Naguib Mahfous (Mesir), sebagai muslim pertama yang meraih nobel sastra (1988).

Reza Baraheni sangat berani melawan arus pemerintah diktator yang menghamba pada kepentingan Amerika Serikat, namun berbaju jubah laiknya seorang penganut agama yang taat dan saleh. Karuan saja dia diperlakukan sebagai “musuh dalam selimut” oleh Shah Iran. Baraheni dituduh sebagai biang kerok yang dapat membangkitkan semangat publik pada pergerakan kebenaran dan keadilan. Sastrawan seperti itu akan selalu dianggap hantu yang menakutkan oleh para penguasa korup di negeri mana pun.

Sebenarnya, karya-karya Baraheni tidak membatasi diri dalam penceritaan riwayat yang dikarang, tetapi sekaligus menjelaskan realitas yang ada, menilainya, serta menyoroti kebudayaan dan kelembagaan, membandingkan citra dunia dengan tetap memanfaatkan simbol-simbol maupun alegori-alegori. Selain Baraheni aktif memprotes kelembagaan agama yang korup melalui karya sastranya, ia pun menggugat pemerintahan Shah Iran melalui humor-humor satir yang menghanyutkan.

Melalui goresan penanya, kita bisa melihat betapa kehebatan sastra Persia memiliki kemampuan bercerita yang sudah mendarah-daging, sebagai bangsa padang pasir yang terlatih di sekeliling api unggun di malam penuh bertaburan bintang-bintang. Seakan mampu menyingkap habis-habisan karakteristik manusia hedonis yang merambah dari tingkat desa, perkotaan hingga metropolitan.

Dunia Iran di masa rezim Shah Iran, digambarkan sebagai masyarakat dengan jenis kebudayaan yang belum siap menghadapi perubahan, namun dipaksa menerima kodrat eksplorasi alam sebagai keniscayaan sejarah. Maka, muncullah politisi-politisi korup yang mengalami delusi kejiwaan, hingga menjelma sebagai pribadi-pribadi yang terbelah, menderita kehausan penyakit yang patologis.

Sebagaimana karya pendahulunya, Jalaluddin Rumi (1207-1273), Reza Baraheni juga berhasil menyingkap para politisi saleh dan rajin beribadah, namun selalu ditaburi dengan kelakuan memalukan yang gila akan syahwat kekuasaan. Suatu pelukisan deformasi jiwa yang berhasil merekam manusia-manusia rakus dan serakah, menimbulkan psike-individual hingga terbelahnya jurang pemisah antara ideologi kaum muda dan para orang tua. Retaknya lembaga keluarga, masyarakat dan negara, hingga melahirkan suatu generasi baru yang mengidap paranoid hingga skizofrenia.

 

Sastra Iran 

Tak beda jauh dengan sastrawan terkenal lainnya, seperti Sadegh Hedayat (1903-1951) maupun Simin Behbahani (1927-2014). Para sastrawan Iran mampu melahirkan kreasi-kreasi adihulung yang seakan melampaui zamannya. Mereka tak segan-segan menggugat dan menyoal penguasa yang kadang tak malu-malu melabelkan dirinya “manusia modern”.

Namun, gaya hidup mereka selalu tergenangi permasalahan para tuan dan budak, eksploitasi manusia-manusia lapisan bawah, oleh manusia lapisan atas. Para penguasa korup yang sibuk memproyeksikan fungsi Tuhan untuk kepentingan politis belaka. Kerjaan mereka seakan mengharap-harap mukjizat datang agar Tuhan menyelesaikan kekalutan dan kerepotan yang sebenarnya diperbuat oleh ulah tangan-tangan manusia sendiri.

Citra Tuhan yang ditafsirkan seenaknya, kemudian disusupkan ke dalam benak Masyarakat itu bagaimana pun harus dibersihkan dari proyeksi dan politisasi kaum elit borjuasi yang mengutamakan kepentingan diri sendiri, ketimbang berkarya membuktikan kemaslahatan dirinya di tengah peradaban umat. Sebagaimana karya Hafiz el-Shirazi (1315-1390) yang menggambarkan citra Tuhan yang masih diselimuti unsur-unsur politik kotor, ideologi dan kritik-kritik palsu, propaganda kepahlawanan kosong; dicampuri urusan duit, korupsi dan suap menyuap, yang sama sekali tak ada hubungannya dengan nilai-nilai kesalehan dan keimanan yang sejati.

Di samping sanggup menangkal hoaks dan ujaran kebencian, kualitas sastra seperti itu justru menyadarkan dan memperkuat keimanan pembacanya, dari gempuran badai-badai modernitas yang mengepung keseharian; dari ketegangan-ketegangan menghadapi hari esok yang tak menentu. Ia seakan memberi penyadaran, bahwa problem yang dialami dalam kehidupan manusia, di belahan bumi manapun, ternyata mengandung pertalian, hubungan kausalitas yang sehaluan dialami oleh bangsa-bangsa mana pun di dunia ini.

“Kualitas keimanan yang baik bukan semata-mata mempercayai apa yang terang, tetapi juga memercayai adanya kegelapan sekaligus berupaya menerangkannya.” Demikian ujar sastrawan Yogyakarya, Y.B. Mangunwijaya. Dari perspektif lain, perlu diakui secara jujur aspek psikologis pada watak dan karakteristik manusia modern, semisal dalam karya Faust (Goethe), sebagai manusia kesepian, sunyi dan hampa, karena ulah dirinya dalam meniadakan Tuhan, namun di Indonesia (seperti halnya Iran) berbaju dan berjubah kesalehan.

 

Kajian Filosofis

Jika kita mengkaji dalam terminologi pemikiran Nietzsche, masyarakat yang digambarkan Reza Baraheni (melalui sastranya) tak ubahnya dengan jenis manusia religius, namun mencontohkan atau mengajarkan konsep ateisme ekstrim. Tampaknya berbeda dengan konsep ateisme yang konsekuen menghayati bahwa Tuhan tidak ada, semisal dalam karya-karya Nietzsche, yang mangandaikan manusia-manusia yang masih berjiwa humanis.

Namun, tokoh-tokoh yang digugat Reza Baraheni justru tersembunyi tetapi marak dianut oleh para elit politisi, khususnya di sekitar perhelatan akbar pemilu di negeri-negeri muslim, tak terkecuali Iran. Sebagaimana karya-karya Rumi yang fasih menuturkan kaum penguasa (para raja dan khalifah) yang percaya pada Tuhan yang hidup, tapi berpikir dan berprilaku seolah-olah Tuhan tidak pernah hadir di sisinya.

Mereka menolak untuk berpikir tentang Tuhan secara esensial. Maunya serba instan, dangkal dan semu belaka. Mereka tidak menyadari telah menanam pohon-pohon tanpa akar. Seakan menggali lubang galiannya sendiri, bagaikan memintal jaring-jaring yang kelak akan menjerat dirinya sendiri.

Di Indonesia, karya sastra semacam itu telah diawali perintisannya oleh Eduard Douwes Dekker (Max Havelaar) sejak era tahun 1860-an, yakni tentang orang-orang yang kemudian terjerumus menjadi mangsa para buaya dan garuda-garuda kapitalis dari hutan rimba belantara, berikut peraturan the law of the jungle yang menyerimpung keseharian mereka.

Para tuan tanah yang sewenang-wenang terhadap rakyat jelata. Elit militer dan politisi korup yang berkolaborasi dengan kaum agamawan agar berdoa bersama, kemudian duduk di shaf depan masjid agung pusat kota. Termasuk para ibu pengajian berjilbab salihah, yang terperosok dalam rimba hoaks, fitnah dan kampanye hitam, laiknya para wanita pemuja Bunda Maria yang menjadi penikmat daging-daging panas.

Mereka tampil dengan elok dan anggun bersama aksesoris duniawi, menjadi para pembisik bagi suami-suami agar terus berkiprah dalam belantara rimba politik yang absurd dan fatamorgana belaka.*

 

*) Penulis adalah peneliti dan dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, aktif menulis esai dan prosa di berbagai media cetak dan online.

Editor : Sidkin
#Sastra Persia #Karya Sastra #sastra indonesia #sastra