SELALU kita dengar Indonesia yang digaungkan dengan visi nya yakni "Indonesia Emas 2045". Sisi ini bukan hanya sebuah slogan tapi juga tentang bagaimana Indonesia dapat menyiapkan para generasi-generasi emas di Indonesia 2045.
Namun di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, tentunya hal ini menjadi tantangan besar bagi bangsa kita, penyebaran informasi yang hanya dalam hitungan detik saja sudah dapat terdengar di seluruh dunia. Dan inilah tantangan masyarakat dan generasi muda Indonesia dalam menghadapi penyebaran informasi yang tidak dapat terkendali.
Algoritma AI di platform seperti TikTok, Instagram, dan X kini membanjiri kita dengan segala macam berita dan informasi hoax yang dirancang sedemikian rupa, seakan-akan informasi itu benar adanya. Mulai dari berita politik palsu hingga konspirasi kesehatan dan inilah masalah yang terjadi yaitu krisis literasi digital yang sangat mengancam demokrasi, visi dan kohesi sosial di tengah masyarakat kontemporer.
Dan di sinilah para jurnalis muda generasi Z dan milenial akhir dipanggil untuk mengambil langkah dan menjadi agen perubahan utama dalam mewujudkan visi bangsa. Namun, di sisi lain pertanyaannya: Apakah mereka siap sudah menjadi bagian dalam perubahan?
Saat ini literasi bukan hanya sekadar membaca dan menulis melainkan tentang bagaimana kemampuan seseorang dalam memahami, menganalisis, menggunakan dan menyaring informasi dengan baik dan bijak di tengah dunia digital. Masyarakat kontemporer yang terperangkap dalam Echo Chamber Medsos, di mana polarisasi merajalela.
Jurnalis muda memiliki banyak sekali keunggulan dalam memahami native terhadap tools digital, fact-checking, AI, dan data Visualization. Mereka bisa merangkul para audiens dari kalangan muda hingga dewasa yang skeptis terhadap media konvensional melalui narasi yang autentik dan dapat menyentuh hati.
Bayangkan saja jika jurnalis muda sebagai educator agile yang mengubah kebiasaan konsumsi berita masyarakat dengan cara yang bijak. Dengan menggunakan konten visual interaktif dan cerita pribadi para audiens dapat melawan banjir nya informasi hoax secara efektif. Di tengah tekanan ekonomi seperti gaji rendah dan precarity freelance, godaan clickbait yang terus mengintai.
Namun, nilai-nilai luhur seperti keadilan dan kebenaran dapat menjadi Kompas moral. Seperti prinsip Amar Ma'ruf Nahi Munkar bahwasanya Islam mengajak kita untuk dapat menegakkan fakta meskipun itu terasa sulit, menjadikan jurnalis sebagai dakwah modern dan juga sebagai agen perubahan dan siap untuk mengambil risiko di baliknya.
Di sisi lain Abdoel Moeis (Penulis & Jurnalis) berkata bahwa "Jika orang lain bisa, saya juga bisa, mengapa pemuda-pemudi kita tidak bisa, jika memang mau berjuang", hal ini memberikan arti bahwa bangsa ini tidak pernah kekurangan para generasi-generasi muda yang siap berjuang pada kebenaran dan perubahan.
Untuk siap dalam menjadi agen perubahan seorang jurnalis muda tentunya harus tahu akan tiga langkah strategis ini yakni, yang pertama: tingkatkan skill melalui workshop etika dalam penggunaan artificial intelligence (AI) dan jurnalis data, dalam penggunaan artificial intelligence (AI) harus sesuai dan tidak melanggar serta dapat menimbulkan kerugian kepada orang lain.
Kedua, membangun kolaborasi lintas platform untuk amplifikasi suara, dengan kolaborasi lintas platform tentunya suara media independen tidak hanya terdengar di satu saluran saja tapi juga diperkuat oleh ekosistem digital yang beragam.
Dan yang ketiga: advokasi kebijakan yang dapat melindungi media independen, Hal ini bertujuan untuk memberikan payung hukum terhadap media independen untuk dapat bekerja tanpa intimidasi, sensor, atau ancaman finansial. Dengan inilah mereka tidak hanya sebagai reporter melainkan sebagai arsitek yang cerdas dan dapat mencerna segala informasi secara baik dan bijak di tengah masyarakat.
Seorang jurnalis muda bukalah pilihan tetapi keharusan. Literasi bangsa bergantung terhadap kesiapan kita untuk memimpin revolusi informasi, bukan saatnya ragu untuk memilih tetapi saatnya kita untuk berani bertindak demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Tanpa membaca, tak ada yang bisa di tulis. Tanpa literasi, seseorang akan kehilangan identitas dan warisan budayanya. Oleh karena itu literasi adalah kunci utama untuk membuka dunia, dan literasi merupakan alat untuk memahami diri sendiri dan lingkungan.
*) Penulis adalah siswa MAN Bondowoso, Anggota Forum Anak Kabupaten Bondowoso, dan Aktivis Literasi.
Editor : Sidkin