PEREMPUAN. Selalu asyik untuk diperbincangkan, baik sebagai subjek apalagi objek. Sebagai subjek, mereka bisa menggali informasi sebanyak-banyaknya. Tema tidak akan pernah mati bila berita berada di antara mereka. Bahkan akan dipritili sampai ke akar-akarnya. Sebagai objek, perempuan akan selalu menjadi pembahasan gurih mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Dalam tradisi, perempuan merupakan pemegang ritual dan budaya dalam keberlangsungan rumah tangga. Mereka harus selalu berhadapan dengan tugas keseharian yang tidak terlepas dari pekerjaan dapur (memasak dan menyiapkan semua kebutuhan rumah tangga), kasur (memosisikan perempuan untuk melayani kebutuhan biologis suami), dan sumur (menggambarkan tugas perempuan untuk bertanggung jawab pada kebersihan dan keindahan seisi rumah).
Pekerjaan tersebut bukannya jelek tetapi seakan-akan ada sebuah intimidasi bahwa perempuan pekerjaannya tidak boleh keluar rumah dan harus selalu bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kelangsungan hidup berumah tangga.
Belum lagi dalam hukum patriarki, perempuan selalu dihadapkan pada stigma swargo nunut neroko katut. Stigma ini menggambarkan perempuan harus selalu menurut pada apa pun yang dikatakan laki-laki, termasuk pengambilan keputusan dalam berumah tangga.
Dunia mulai berubah. Modernisasi berdampak pada perempuan yang memungkinkan berkiprah lebih leluasa untuk menunjukkan jati diri lebih luas. Lambat laun peran perempuan berevolusi dari yang hanya sekitar dapur, kasur, sumur, kini mulai merambah ke dunia luar.
Emansipasi di semua ranah kehidupan. Emansipasi merupakan proses pemberdayaan dan persamaan hak bagi perempuan untuk berkembang, menempuh pendidikan, bekerja, dan berpartisipasi aktif di ruang publik tanpa diskriminasi.
Di Indonesia emansipasi dipelopori oleh tokoh perempuan, yaitu RA. Kartini yang berjuang untuk menyetarakan perempuan dalam pendidikan, karir, politik, dan hukum. Dalam pendidikan perempuan bertransformasi dari sekadar peran domestik menjadi agen perubahan, pemimpin, dan tenaga pendidik profesional yang mendorong pendidikan berkelanjutan. Bahkan sekarang ini sudah banyak yang berkarir di kancah politik.
Pada pemilu 2024 anggota DPR RI yang perempuan sebanyak 128 dengan prosentase sebanyak 22,1 persen dari jumlah total 580 anggota DPR RI. Dalam konteks ekonomi, jumlah perempuan tercatat sebanyak 64,5 persen pelaku UMKM yang juga menjadi basis partisipasi sosial politik yang kuat.
Di sektor pendidikan, pendidik dan tenaga kependidikan perempuan di Indonesia terbanyak di jenjang dasar. Hal ini menunjukkan peran perempuan sudah banyak yang berpotensi di semua sektor yang ada di Indonesia. Meskipun demikian jumlah ini masih mencerminkan ketimpangan gender jauh lebih dominan dibanding laki-laki. Data Kemendikbud Ristek di semester 1 tahun ajaran 2024/2025 menyebutkan terdapat 2.185.396 guru perempuan (72 persen) dari 3,19 juta guru.
Dalam sejarah Islam, emansipasi perempuan sudah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW yang mengangkat derajat perempuan dari penindasan jahiliyah menuju kesetaraan hak, pendidikan, dan peran sosial. Emansipasi dalam Islam berlandaskan agama (Alquran dan hadis), bukan pembebasan mutlak yang melepaskan diri dari aturan moral.
Islam memandang perempuan memiliki peran setara namun tetap memiliki fitrah yang unik. Ada banyak tokoh yang sudah berperan penting. Khadijah Binti Khuwailid, perempuan karir dan pebisnis mandiri yang mendukung dakwah Nabi. Aisyah Ra menjadi teladan utama dalam pengetahuan dan politik, dan masih banyak lagi perempuan-perempuan lain yang berkarir di bidang yang lebih luas.
Dalam aspek digitalisasi, perempuan berpeluang besar untuk lebih berdaya dalam peningkatan literasi teknologi, ikut berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi digital, mengasah pendidikan dan keterampilan, dan partisipasi publik.
Dalam ekonomi digital, perempuan bisa dengan mudah mengakses dan memanfaatkan platform daring untuk UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah), memperluas pasar, serta memperluas ekonomi untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Para perempuan sudah banyak yang melakukan jual beli lewat bisnis digital. Keberhasilan ini menunjukkan keterlibatan perempuan dalam perekonomian di Indonesia dan peningkatan finansial di keluarga masing-masing.
Akses berbagai pelatihan keterampilan juga sangat terbuka untuk perempuan di man apun berada. Pelatihan ini penting guna meningkatkan keterampilan tanpa harus meninggalkan peran domestik di tempat dia tinggal. Dengan adanya pelatihan keterampilan online perempuan bisa meningkatkan kualitas hidup untuk diri dan rumah tangganya. Selain itu, digitalisasi (media sosial) juga memberikan peluang bagi perempuan untuk berpartisipasi di publik, menyampaikan aspirasi, dan memperkuat jejaring komunitas.
Namun, digitalisasi tidaklah semanis madu bagi perempuan. Di balik digitalisasi yang kian merambah dunia perempuan dengan semua janji-janji manisnya, terdapat tantangan yang harus ditaklukkan oleh kaum hawa tersebut.
Beberapa tantangan yang dimaksud antara lain: tidak semua perempuan memiliki akses yang sama dan terbiasa terhadap perangkat teknologi dan internet, kurangnya literasi digital, kerentanan terhadap kekerasan berbasis gender online, dan bertambahnya beban peran ganda antara tugas domestik di rumah dan upaya pengembangan diri di ruang digital.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan perempuan untuk memanfaatkan peluang digitalisasi secara optimal. Yaitu: meningkatkan literasi dan melek digital dengan pendampingan, membangun ekosistem digital yang aman dan bebas dari kekerasan berbasis gender online, dan mengintegrasikan program pemberdayaan perempuan dengan pemanfaatan teknologi digital.
Perempuan, secara tradisi tetaplah seorang istri dan ibu dari anak-anaknya dengan segudang tanggung jawab dalam rumah tangga yang dia cintai. Namun dengan emansipasi menjadikan perempuan lebih leluasa dalam menunjukkan kemampuannya dalam berkarir. Dengan digitalisasi menjadikan perempuan lebih bisa berdaya untuk meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi besar dalam pembangunan namun tetap tidak meninggalkan kodratnya sebagai perempuan. Hidup perempuan!
*) Penulis adalah Guru MAN Lumajang.
Editor : Sidkin