Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Tantangan DPC PKB Lumajang Di Era Modern: Terbentur Pola Pikir Praktis Gen Z, Opini oleh Ma’ruf Nidhomuddin, Anggota Komisi A dan Fraksi PKB DPRD Luma

Sidkin • Jumat, 24 April 2026 | 11:23 WIB
Ma’ruf Nidhomuddin, anggota Komisi A dan Fraksi PKB DPRD Lumajang.
Ma’ruf Nidhomuddin, anggota Komisi A dan Fraksi PKB DPRD Lumajang.

SEBAGAI salah satu partai politik yang berakar dari organisasi Nadhlatul Ulama (NU), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) terus menjalankan kewajibannya untuk melakukan musyawarah cabang (Muscab). Bukan hanya menggugurkan kewajiban, melainkan menuntaskan persoalan kompleks di lapangan, utamanya pemilih pemula masih jauh dari target. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi partai PKB di tengah arus zaman yang serba modern dan pola pikir Gen Z yang lebih praktis.

Dari hasil analisis pemilihan tahun 2024 tercatat pemilih pemula atau Gen Z hanya 22,85%. Sedangkan sebanyak 30 persen masih belum tersentuh sama sekali. Kondisi ini mendorong para anggota fraksi untuk lebih aktif membuat program menarik agar bisa mewadahi mereka dengan maksimal.

Tak hanya itu, persoalan lainnya adalah stagnasi keadaan yang membuat beberapa kader sempat mandek sehingga perkembangan program ikut terhambat. Perlu penguatan basis tradisional dan merekrut kader muda masuk ke dalam keanggotaan PKB baik melalui aturan keterwakilan kader muda di setiap posisi struktural di kepemimpinan DPC, DPAC hingga ranting.

Upaya yang bisa dilakukan sebagai langkah penguatan bagi setiap kader, melalui penguatan struktur sampai dengan level bawah dengan estimasi waktu 1 hingga 2 tahun. Kedua, Modal pokok atau basis yang sudah terencana harus diperkuat mulai dari akarnya. Sebagai contoh sekolah-sekolah dibawah ma’arif, adalah loyalis PKB yang harus terus dirawat, sebelum dirawat orang lain.

Kehadiran aktif ke sekolah-sekolah dibawah ma’arif jadi solusi terbaik mewadahi generasi Gen Z. Namun hal itu tidak bisa dilakukan sendirian, butuh peran anggota fraksi untuk menarik hati. Bukan karena kesulitan, namun organisasi pelajar Nahdlyiyyin seperti IPNU dan IPPNU butuh peran pendamping yang lebih aktif. Meskipun hanya hadir dalam kegiatan rapat bersama DPAC dan DPC.

Kehadiran anggota fraksi diyakini mampu menumbuhkan semangat yang lebih tinggi dengan melakukan pemberdayaan yang lebih tepat. Ini menjadi langkah konkret sekaligus bagian dari upaya untuk merawat anggota di bawahnya. Uraian persoalan tersebut harus dicermati dengan dibarengi upaya memberikan solusi yang terbaik. Tujuannya, untuk menghasilkan dan merawat kader agar tetap solid sekaligus bisa mengisi kekurangan dan menggaet pemilih pemula dalam pemilihan tahun selanjutnya. Kemudian, perlu perencanaan program selama satu tahun kedepan agar organisasi berjalan sesuai rencana.

Pada bulan 0-3 bulan diperlukan konsolidasi internal sebagai fondasi utama untuk menentukan arah perjalanan organisasi kedepannya. Bulan 3-6 dilakukan penguatan basis dan jaringan, dengan segmentasi pemilih NU kultural, pemuda, petani UMKM, membangun jaringan tokoh lokal, kyai, kepala desa, komunitas, mengaktifkan badan otonom, membuat program nyata yang mampu memberdayakan masyarakat, melakukan pelatihan UMKM, memberikan bantuan petani, termasuk advokasi warga dengan target masyarakat harus merasakan kehadiran PKB.

Kemudian bulan 6-9, melakukan branding dan positioning, dengan menguatkan media digital dan membuat program respon isu cepat baik itu terkait bencana, konflik sosial, maupun kebijakan pemerintah untuk mengupas sekaligus hadir dalam memberikan solusi nyata. PKB hadir bukan hanya sebagai partai melainkan memahami kondisi yang terjadi di lapangan. Bulan 9-12 perlu persiapan electoral dan ekspansi, merekrut figure potensial, pemetaan dapil, membangun koalisi dan simulasi strategi pemenangan.

Rencana tahunan yang sudah dibuat, harapannya bukan hanya catatan diatas kertas. Melainkan, ada aksi dan dampak yang ditimbulkan sehingga kehadiran PKB bukan hanya sebagai partai melainkan jadi wadah aspirasi masyarakat. Dengan kata lain perlu penguatan internal, hadir di masyarakat membangun citra dan branding yang terbaik untuk memperoleh kemenangan mutlak.

Selain itu rencana yang sudah dibuat, perlu beberapa langkah strategis untuk mengadopsi pola pemungutan suara. Diantaranya melalui Ekstensifikasi dengan menentukan zona basis, zona lawan dan zona netral, yang akan diperebutkan saat pemilihan nanti. Kemudian Intensifikasi, polanpeningkatan kapasitas kader perempuan dan transformasi kader musiman menjadi berkelanjutan. Diversifikasi, melalui layanan baru dengan mengidentifikasi kebutuhan di masyarakat.

PKB hadir mensinkronkan program partai dengan program pemerintah kabupaten setempat, misalnya di HIMPAUDI, IGTKI, layanan out of the box sebagai inovasi PKB di tingkat kabupaten harus dimunculkan.  Rasionalisasi, seperti upaya LKK (Lembaga Kaderisasi Kabupaten) PKB, menjadi sarana memperkuat kader PKB baik secara ideologis maupun secara kompetensinya. Kemudian, untuk mempertahankan kursi perlu upaya konkrit. Dengan cara politik kehadiran, sinkronisasi program partai dengan program pemerintah, lewat keterlibatan langsung dengan organisasi masyarakat yang memiliki banyak massa.

Kemudian penambahan basis, menyasar segman anak muda, dengan menggaet komunitas yang belum tersentuh PKB, membersamai setiap komunitas tersebut, membuat unit khusus untuk mengakomodir teman-teman UMKM dan ekonomi kreatif. Sistem yang sudah dirancang, mustahil bisa berjalan maksimal tanpa ada monitoring yang tepat. Untuk itu PKB terus memperkuat soliditas melalui sosialisasi aturan partai pelaporan kegiatan system informasi dan manajemen pelaporan kinerja anggota fraksi dan bisa ke diadopsi ke DPC hingga tingkat ranting.*

 

*) Penulis adalah Anggota Komisi A dan Fraksi PKB DPRD Kabupaten Lumajang.

 

 

Editor : Sidkin
#PKB Lumajang #opini #Pemilu 2024 #Gen Z #lumajang