
Hairus Salikin, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember
UJIAN Tulis Berbasis Komputer (UTBK) bagi siswa kelas 12 tahun ini dan lulusan tahun sebelumnya merupakan sesuatu yang penting sebagai salah satu pintu untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya (perguruan tinggi). Pada tahun 2026 ini UTBK kembali menghadirkan momen yang menarik terkait ramainya pengantar peserta UTBK yang datang ke lokasi ujian dilaksanakan. Melalui pengamatan beberapa hari dan perbincangan singkat dengan pengantar, diketahui bahwa para pengantar sangat beragam. Mereka ada yang orang tua kandung, saudara kandung, teman dekat serta sahabat, sampai kerabat. Sebagai warga Universitas Jember (Unej), saya bangga campur haru melihat pemandangan selama pelaksanaan UTBK di sekitar kampus yang berpredikat unggul sampai tahun 2030.
Adalah hal yang normal bila suasana pelaksanaan UTBK tahun ini kembali dipenuhi rasa tegang, haru, dan penuh harapan. Saat pelaksanaan ujian tersebut, bukan hanya peserta yang menjadi pusat perhatian, para pengantar pun sering mencuri perhatian disebabkan serba-serbi sikap dan prilaku mereka saat ada di sekitar kampus Unej. Niat mulia para pengantar untuk memberi dukungan moral bagi peserta ujian, serta apa yang dilakukan sangat beragam. Dari yang jelas mudah ditebak, sampai yang tidak jelas mereka melakukan apa.
Suasana yang sangat umum terjadi adalah bahwa pengantar, apalagi kalau mereka orang tua kandung, sering lebih tegang dibanding yang diantar. Tak jarang tampak wajah orang tua mereka terlihat kaku bagai terdakwa yang sedang menunggu putusan hakim di pengadilan. Ada seorang ibu dengan wajah tegang, berdiri mematung bagai orang terkena hipnotis sambil memandangi putranya yang akan masuk gedung tempat ujian.
Beberapa orang tua ada yang sempat berpesan kepada putra-putrinya saat mereka akan masuk gedung tempat ujian. Pesannya ada yang tidak terdengar orang lain karena dibisikkan di telinga mereka. Tetapi, ada pula yang agak keras sehingga orang yang di sekitar mendengarnya. “Jangan lupa baca doa, ya”, Tenang ya, jangan grogi”, “Tetap fokus, ya”. Ini sebagian kecil dari pesan-pesan orang tua mereka. Pesan tersebut merefleksikan kebesaran cinta dan perhatian orang tua kepada putra-putrinya.
Bahkan ada pemandangan menarik saat itu. Sebelum masuk gedung tempat UTBK dilaksanakan, tepatnya di UPA Bahasa Unej, ada seorang ibu yang memegang kepala putranya sambil “komat-kamit” entah apa yang diucapkan. Kemungkinan besarnya beliau sedang berdoa. Tetapi yang membuat heran adalah anak yang sudah lulus SMA, berdiri sambil menunduk dengan penuh hormat di hadapan ibunya yang mendoakan. Entahlah, apakah yang bersangkutan memang anak yang patuh kepada orang tua, atau demi jalan menuju perguruan tinggi, dia rela diapakan saja.
Pada hari-hari pelaksanaan UTBK, sepanjang jalan dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) sampai UPA Bahasa banyak pengantar yang beristirahat. Mulai dari yang ada di dalam mobil, yang duduk di pinggir jalan (trotoar), sampai yang mondar mandir di sekitar mobilnya. Rupanya kawan-kawan keamanan Unej sudah mengatur mereka sedemikian rupa sehingga walau agak ramai tetapi tertib dan tidak mengganggu jalannya ujian.
Saya sempat berbincang dengan seseorang pengantar di sekitar jalan tersebut. Bekal yang mereka bawa sungguh luar biasa. Terlihat di mobilnya air mineral, bungkusan nasi, roti, vitamin, tisu, payung, minyak kayu putih, dan lain-lain. Dalam hati saya berbisik, putra bapak datang ke Unej bukan untuk berkemah, tetapi mengikuti UTBK.
Ada pula seorang pengantar yang mondar-mandir tidak jelas mau ke mana. Terdorong oleh keingintahuan, saya memberanikan diri bertanya dari mana. Walah, ternyata dia berasal dari desa sebelah di mana saya dilahirkan. Tanpa basa basi, percakapan saya lanjutkan menggunakan bahasa daerah yang kami sama-sama kuasai. Begitu ditanya mengapa mondar-mandir di sekitar mobilnya, dia ternyata stres mengantar putranya ke Unej. Kata dia: “Anak saya sangat santai, semalam juga tidak belajar sama sekali. Ketika kami ingatkan untuk belajar, dia malah menjawab: ayah ibu santai saja, malam ini aku butuh istirahat dan rileks, belajarnya sudah beberapa waktu lalu”. Rupanya jawaban putranya ini yang membuat orang tuanya stres.
Sebagian pengantar yang lain, walau jelas tidak ada kesengajaan, menjadikan waktu menunggu selesainya ujian sebagai piknik kecil. Mereka membawa kopi dalam termos, camilan, dan alas duduk. Mereka asyik mengobrol entah apa yang dibicarakan. Bahkan ada yang sampai tiduran di trotoar sebelah kanan gedung UPA Bahasa.
Momen menarik lainnya terjadi ketika peserta selesai mengerjakan soal-soal ujian dan keluar dari ruangan. Sebagian dari mereka terlihat lelah, mungkin masih mencoba mengingat soal-soal yang baru dikerjakan. Tetapi, tidak sedikit di antaranya yang keluar ruangan dengan riang dan wajah ceria. Yang pasti, banyak peserta yang belum sempat duduk atau minum, dihujani pertanyaan yang hampir selalu sama oleh para pengantar: “Bagaimana? Bisa semua?”, “Soalnya susah nggak?” Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, banyak peserta hanya tersenyum tipis sambil mengatakan dengan pelan “lumayan”. Jelas jawaban ini multi tafsir, lumayan mudah atau lumayan sulit.
Sepertinya ada juga pengantar, terutama orang tua peserta, yang cukup optimistis. Baru mendengar jawaban “lumayan”, mereka langsung berkata pada anaknya, “Alhamdulillah, berarti kamu nanti bisa diterima di Fakultas Ekonomi, ya?” Mendengar perkataan orang tuanya yang nadanya bertanya, peserta yang mungkin lelah tersebut tersenyum agak ditahan sambil berkata dengan lembut pada orang tuanya, “Loh, aku kan tidak mendaftar di Fakultas Ekonomi”. Mungkin karena orang tuanya sejak anaknya masuk ruang ujian sampai selesai, memperhatikan Fakultas Ekonomi dan Bisnis sehingga otomatis keluar nama tersebut.
Sebenarnya di balik pernak pernik peristiwa saat UTBK berlangsung, tersimpan pesan moral yang amat dalam. Apa pun momen yang terjadi pada pengantar peserta ujian, mereka ingin memastikan bahwa yang mereka antar mampu mengerjakan soal ujian dengan tenang dan mendapat dukungan penuh keluarga. Walau terkadang cara mengantar mereka agak berlebihan, kehadiran mereka memberi kekuatan emosional yang cukup berarti bagi peserta UTBK.
Patut dipahami bahwa ternyata pelaksanaan UTBK bukan hanya soal menguji kemampuan akademik, tetapi merupakan perjuangan bersama keluarga menuju masa depan yang lebih baik. Apa pun yang dilakukan oleh para pengantar peserta ujian merupakan perjuangan supaya yang diantar mendapatkan sukses. Itulah sekelumit serba serbi pengantar peserta UTBK tahun 2026.
*) Penulis adalah Guru Besar Applied Linguistics di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, Anggota CLC FIB Universitas Jember, Ketua PCM Kec. Sumbersari, Jember.
Editor : Sidkin