STUNTING telah lama menjadi isu prioritas dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Berbagai program telah dijalankan, intervensi terus diperluas, dan angka prevalensi menunjukkan tren penurunan. Namun, satu pertanyaan mendasar tetap muncul: mengapa stunting sulit turun secara signifikan?
Permasalahan ini tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan program atau sumber daya, tetapi lebih pada belum terwujudnya perubahan perilaku kesehatan di tingkat keluarga. Banyak intervensi berhenti pada penyampaian informasi, tanpa memastikan bahwa pengetahuan tersebut benar-benar dipahami, diterima, dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Stunting bukan sekadar persoalan kekurangan gizi, melainkan hasil interaksi berbagai faktor, seperti pola asuh, praktik pemberian makan anak, sanitasi lingkungan, akses layanan kesehatan, hingga faktor sosial budaya. Kompleksitas ini menegaskan bahwa pendekatan sektoral atau intervensi tunggal tidak cukup. Perubahan perilaku di tingkat keluarga menjadi kunci utama dalam memutus rantai stunting.
Fakta di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara pengetahuan dan praktik. Masyarakat umumnya telah menerima informasi kesehatan, tetapi belum sepenuhnya mampu menginternalisasi dan menerapkannya. Di sisi lain, kader kesehatan sebagai ujung tombak di masyarakat masih sering diposisikan sebagai pelaksana kegiatan, belum sepenuhnya sebagai agen perubahan perilaku.
Kondisi ini diperkuat oleh pola komunikasi yang masih bersifat satu arah. Edukasi kesehatan cenderung dilakukan dalam bentuk penyuluhan tanpa ruang dialog yang memadai. Akibatnya, pesan kesehatan berhenti pada tingkat pengetahuan dan belum bertransformasi menjadi tindakan nyata. Tantangan utama bukan lagi pada apa yang disampaikan, melainkan bagaimana pesan tersebut dipahami dan dijalankan.
Di tengah tantangan tersebut, desa memiliki potensi besar sebagai basis perubahan. Kedekatan sosial antarwarga, budaya gotong royong, serta adanya program ‘Rumah Desa Sehat (RDS)’ merupakan modal sosial yang sangat kuat. Melalui pendekatan yang tepat, potensi ini dapat menjadi kekuatan utama dalam mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan.
Berangkat dari kondisi tersebut, inovasi ANAK EMAS hadir sebagai strategi yang tidak hanya menyederhanakan pesan kesehatan, tetapi juga mampu menggerakkan perubahan perilaku secara nyata di tingkat keluarga. ANAK EMAS merupakan akronim dari delapan pesan kunci pencegahan stunting, yaitu Antenatal Care/pemeriksaan kehamilan sesuai standar; Nutrisi seimbang sejak kehamilan hingga anak usia dua tahun; ASI eksklusif selama enam bulan; Komplet imunisasi dasar; Enyahkan asap rokok; Minum tablet tambah darah (TTD) secara rutin; Ayo ke Posyandu; Stop buang air besar sembarangan dan rajin cuci tangan pakai sabun. Penyederhanaan ini menjadi langkah strategis agar pesan kesehatan lebih mudah dipahami dan diingat oleh masyarakat.
Lebih dari sekadar akronim, ANAK EMAS dimaknai sebagai ‘Aksi Nyata Kader Menuju Masyarakat Sehat’. Pendekatan ini menegaskan pergeseran peran kader, dari pelaksana program menjadi penggerak perubahan perilaku. Kader tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendampingi, memotivasi, dan membantu keluarga dalam menerapkan praktik hidup sehat secara nyata.
Pendekatan ANAK EMAS menitikberatkan pada penguatan teknik komunikasi kader yang persuasif, partisipatif, dan kontekstual. Komunikasi dilakukan secara dialogis, sehingga kader mampu memahami kondisi spesifik keluarga dan memberikan solusi yang relevan. Dalam konteks ini, komunikasi tidak lagi sekadar penyampaian pesan, tetapi menjadi alat utama untuk membangun kesadaran dan mendorong perubahan.
Implementasi ANAK EMAS dapat dilakukan melalui tiga strategi utama, yaitu pelatihan kader, edukasi kelompok sasaran, dan pendampingan keluarga. Edukasi kelompok dikemas secara interaktif melalui berbagi pengalaman, permainan edukatif, lagu kesehatan, kuis, serta penggunaan analogi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu pendekatan yang efektif adalah analogi merawat tanaman.
Kader menjelaskan bahwa anak, seperti tanaman, membutuhkan perawatan yang konsisten, seperti air, nutrisi, perlindungan, dan perhatian pada tanaman. Jika salah satu tidak terpenuhi, pertumbuhan tidak akan optimal. Pendekatan sederhana ini membantu masyarakat memahami bahwa pencegahan stunting merupakan rangkaian tindakan yang harus dilakukan secara terus-menerus.
Pendampingan keluarga menjadi kunci keberhasilan. Melalui kunjungan rumah yang konsisten, kader membangun interaksi yang intensif dan berkelanjutan, mulai dari calon pengantin, masa kehamilan, hingga awal kehidupan anak. Kedekatan emosional yang terbangun menjadi fondasi penting dalam mendorong perubahan perilaku yang bertahan lama.
Keunggulan ANAK EMAS terletak pada integrasi antara penyederhanaan pesan, penguatan komunikasi kader, dan pendampingan berbasis keluarga dalam satu model intervensi yang utuh. Pendekatan ini memastikan bahwa intervensi tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi berlanjut hingga terbentuknya praktik hidup sehat dalam keseharian.
ANAK EMAS bukan sekadar konsep, melainkan telah melalui serangkaian tahapan pengembangan yang sistematis. Proses ini diawali dengan identifikasi penyebab stunting, pemahaman terhadap persepsi masyarakat, serta analisis kebutuhan masyarakat dalam upaya pencegahan stunting. Selanjutnya, inovasi ini diuji melalui penerapan tiga strategi utama, yaitu pelatihan kader, edukasi oleh kader, dan pendampingan keluarga oleh kader.
Hasil uji coba menunjukkan dampak yang signifikan dan positif. Terjadi peningkatan kapasitas kader, meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu, serta perubahan perilaku kesehatan keluarga yang semakin konsisten. Praktik pemberian ASI eksklusif serta konsumsi makanan sehat pada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia 6–24 bulan menunjukkan peningkatan. Selain itu, kepatuhan terhadap pemeriksaan kehamilan semakin baik, serta perilaku hidup bersih dan sehat mulai terbentuk sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah perubahan tersebut berdampak pada penurunan prevalensi stunting? Penurunan prevalensi memang membutuhkan waktu dan pengukuran jangka panjang. Namun, berbagai bukti menunjukkan bahwa perubahan perilaku kesehatan pada keluarga merupakan faktor kunci dalam pencegahan stunting. Ketika praktik-praktik dasar dilakukan secara konsisten, maka risiko terjadinya stunting dapat ditekan secara signifikan.
ANAK EMAS berperan sebagai fondasi perubahan tersebut. Pemahaman masyarakat terhadap makna ANAK EMAS menjadi pintu masuk terjadinya perubahan perilaku yang berkelanjutan. Penurunan prevalensi stunting pada akhirnya bukan hanya hasil dari banyaknya intervensi yang dilakukan, tetapi merupakan konsekuensi dari perilaku sehat yang dijalankan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
ANAK EMAS ini juga efisien dan berkelanjutan karena memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia di desa. Tanpa memerlukan teknologi tinggi atau biaya besar, model ini mudah direplikasi dan berpotensi diterapkan secara luas.
Percepatan penurunan stunting membutuhkan perubahan paradigma. Keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya program yang dijalankan, tetapi dari sejauh mana program tersebut mampu mengubah cara hidup masyarakat.
ANAK EMAS menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari intervensi besar, tetapi dari langkah kecil yang konsisten, yaitu dari keluarga ke keluarga, dari rumah ke rumah. Ketika kader berdaya dan masyarakat terlibat, pengentasan stunting bukan lagi sekadar program, melainkan gerakan bersama. Di sanalah masa depan generasi Indonesia dibangun: dari rumah, dari perilaku, dan dari komitmen yang dijaga setiap hari.
*) Penulis adalah pemenang lomba opini “Strategi Pengentasan Stunting“ Radar Jember.
Editor : Sidkin