“Ayah, kenapa badanku lebih kecil dari teman-teman?”
Suara itu lirih, nyaris tenggelam di antara riuh televisi dan lelah yang belum sempat dipulihkan. Seorang ayah terdiam. Tangannya yang biasanya sigap bekerja, kini kaku di atas pangkuan. Ia menatap anaknya, lama, seolah mencari jawaban di wajah kecil itu.
“Tidak apa-apa, Nak. Nanti juga kamu besar,” jawabnya pelan, meski hatinya sendiri tak sepenuhnya percaya.
Anak itu mengangguk, tapi matanya menyimpan tanya yang belum selesai. Ia tidak tahu tentang gizi, tentang pola makan, atau tentang istilah stunting yang sering dibicarakan orang dewasa. Ia hanya tahu satu hal, tubuhnya berbeda dan ia ingin dipahami.
Malam itu, sang ayah terjaga lebih lama dari biasanya. Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri, selama ini, apakah ia benar-benar hadir dalam tumbuh kembang anaknya, atau hanya sekadar ada?
Kutipan narasi tersebut seharusnya menjadi pintu masuk bagi cara kita memandang stunting di Indonesia. Ia tidak sekadar percakapan sederhana antara anak dan ayah, melainkan cermin dari realitas yang sering luput kita sadari. Selama ini, diskursus tentang stunting hampir selalu berputar pada ibu, ASI, dan asupan gizi. Tidak salah, tetapi tidak lengkap. Kita seperti melihat setengah wajah dari sebuah persoalan yang utuh. Di balik angka-angka stunting yang terus diperangi negara, ada satu sosok yang kerap terabaikan perannya, yaitu ayah.
Opini ini ingin menegaskan bahwa strategi pengentasan stunting tidak akan pernah optimal jika masih meminggirkan peran ayah. Sebab stunting bukan sekadar masalah makanan, melainkan masalah relasi, pengasuhan, keputusan keluarga, dan budaya. Dalam semua itu, ayah memegang peran yang jauh lebih besar daripada yang selama ini kita akui.
Stunting sebagai persoalan multidimensi telah lama diakui para ahli. Ia bukan hanya akibat kekurangan gizi, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan, pola asuh, pendidikan orang tua, hingga kondisi sosial ekonomi keluarga. Dalam kerangka konsep UNICEF, faktor keluarga dan rumah tangga menjadi salah satu determinan penting. Dalam konteks ini, ayah bukan sekadar pelengkap, melainkan aktor utama yang turut menentukan kualitas pengasuhan anak.
Namun, realitas di masyarakat menunjukkan bahwa narasi pengasuhan masih sangat maternalistik. Ibu menjadi pusat tanggung jawab, sementara ayah sering ditempatkan sebagai pencari nafkah semata. Pola pikir ini tidak hanya menyederhanakan peran ayah, tetapi juga berpotensi memperbesar risiko stunting. Sebab, pengasuhan anak yang ideal tidak bisa ditanggung oleh satu pihak saja.
Penelitian di Indonesia mulai menunjukkan bahwa keterlibatan ayah memiliki dampak nyata terhadap status gizi anak. Studi yang dilakukan oleh para peneliti kesehatan menemukan bahwa sikap ayah berhubungan signifikan dengan status gizi balita. Artinya, cara pandang dan keterlibatan ayah dalam pengasuhan berkontribusi terhadap kondisi anak. Temuan ini memperkuat bahwa ayah bukan hanya figur simbolik, tetapi faktor determinan.
Lebih jauh, penelitian lain menegaskan bahwa peran ayah dalam pengasuhan mencakup berbagai fungsi, seperti pendidik, pelindung, pengawas, dan pendukung. Peran-peran ini berpengaruh langsung terhadap tumbuh kembang anak, termasuk dalam mencegah stunting. Dengan kata lain, kehadiran ayah yang aktif bukan sekadar tambahan, melainkan kebutuhan.
Masalahnya, banyak ayah yang tidak terlibat bukan karena tidak peduli, tetapi karena konstruksi sosial yang membatasi mereka. Budaya patriarki sering kali menempatkan ayah di ruang publik dan ibu di ruang domestik. Akibatnya, pengasuhan anak dianggap bukan wilayah ayah. Padahal, dalam konteks stunting, pembagian peran seperti ini justru kontraproduktif.
Strategi pengentasan stunting harus mulai berani menggeser paradigma ini. Ayah harus dilihat sebagai bagian integral dari solusi, bukan sekadar latar belakang. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah redefinisi peran ayah dalam keluarga. Ayah tidak cukup hanya menjadi pencari nafkah, tetapi juga harus menjadi pengasuh aktif.
Keterlibatan ayah dalam pengasuhan gizi, misalnya, dapat dimulai dari hal sederhana seperti memastikan ketersediaan makanan bergizi di rumah. Ayah juga perlu memahami pentingnya pola makan anak, bukan menyerahkan sepenuhnya kepada ibu. Dalam banyak kasus, keputusan pembelian makanan justru berada di tangan ayah. Jika ayah tidak memiliki literasi gizi yang baik, maka risiko stunting akan tetap tinggi.
Selain itu, ayah juga memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan rumah yang sehat. Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam menjaga lingkungan dan memberi contoh perilaku sehat dapat menurunkan risiko masalah gizi pada anak. Lingkungan yang bersih, sanitasi yang baik, dan kebiasaan hidup sehat adalah fondasi penting dalam pencegahan stunting.
Tak kalah penting adalah peran emosional ayah. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh perhatian dan kasih sayang cenderung memiliki perkembangan yang lebih optimal. Stunting bukan hanya tentang tubuh yang pendek, tetapi juga tentang perkembangan kognitif yang terhambat. Dalam hal ini, kehadiran ayah sebagai figur yang memberikan dukungan emosional sangat krusial.
Penelitian di berbagai daerah di Indonesia juga menunjukkan bahwa rendahnya keterlibatan ayah berkorelasi dengan tingginya angka stunting. Bahkan, faktor seperti perceraian dan ketidakhadiran ayah menjadi salah satu penyebab yang memperburuk kondisi stunting di masyarakat. Ini menunjukkan bahwa kehadiran ayah bukan hanya penting, tetapi menentukan.
Strategi berikutnya adalah meningkatkan literasi ayah tentang kesehatan dan gizi. Selama ini, program edukasi stunting lebih banyak menyasar ibu, seperti melalui posyandu atau kelas ibu hamil. Padahal, ayah juga perlu mendapatkan edukasi yang sama. Tanpa pengetahuan yang memadai, ayah tidak akan mampu mengambil keputusan yang tepat dalam keluarga.
Program-program pemerintah harus mulai dirancang dengan pendekatan yang lebih inklusif. Misalnya, dengan melibatkan ayah dalam kelas parenting, kampanye kesehatan, dan program keluarga berencana. Ayah harus dilihat sebagai mitra, bukan penonton.
Selain itu, kebijakan kerja juga perlu mendukung keterlibatan ayah. Banyak ayah yang sebenarnya ingin terlibat dalam pengasuhan, tetapi terbentur oleh tuntutan pekerjaan. Waktu kerja yang panjang dan minimnya cuti ayah menjadi kendala nyata. Oleh karena itu, kebijakan seperti cuti ayah perlu diperluas dan didorong implementasinya.
Strategi lain yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran sosial tentang pentingnya peran ayah. Media memiliki peran besar dalam membentuk persepsi masyarakat. Selama ini, figur ayah sering digambarkan sebagai sosok yang jauh dari urusan domestik. Narasi ini harus diubah. Ayah perlu ditampilkan sebagai sosok yang aktif, peduli, dan terlibat dalam pengasuhan.
Di tingkat komunitas, peran tokoh masyarakat dan agama juga sangat penting. Mereka dapat menjadi agen perubahan dalam mengubah cara pandang masyarakat tentang peran ayah. Dengan pendekatan budaya dan nilai lokal, pesan tentang pentingnya keterlibatan ayah dapat lebih mudah diterima.
Strategi berbasis ayah juga harus mempertimbangkan aspek ekonomi. Tidak dapat dipungkiri bahwa faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab utama stunting. Ayah sebagai pencari nafkah memiliki peran penting dalam memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi. Namun, strategi ekonomi tidak boleh hanya berfokus pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada pengelolaan keuangan keluarga.
Ayah perlu dibekali kemampuan untuk mengelola keuangan dengan baik, termasuk dalam hal pengeluaran untuk kebutuhan gizi anak. Banyak kasus di mana pendapatan keluarga sebenarnya cukup, tetapi tidak digunakan secara optimal untuk kebutuhan anak. Dalam hal ini, literasi keuangan menjadi bagian penting dari strategi pengentasan stunting.
Selain itu, pendekatan berbasis ayah juga harus memperhatikan konteks lokal. Setiap daerah memiliki karakteristik sosial dan budaya yang berbeda. Oleh karena itu, strategi yang diterapkan harus disesuaikan dengan kondisi setempat. Pendekatan yang berhasil di satu daerah belum tentu efektif di daerah lain.
Penelitian di Nusa Tenggara Barat menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dapat menjadi faktor penting dalam menurunkan angka stunting. Hal ini menunjukkan bahwa intervensi yang melibatkan ayah memiliki potensi besar untuk memberikan dampak nyata. Oleh karena itu, pendekatan ini perlu diperluas dan direplikasi di berbagai daerah.
Pada akhirnya, pengentasan stunting bukan hanya soal program, tetapi soal perubahan cara pandang. Selama kita masih melihat stunting sebagai urusan ibu, maka solusi yang dihasilkan akan selalu setengah jalan. Kita perlu melihat keluarga sebagai satu kesatuan, di mana ayah dan ibu memiliki peran yang sama pentingnya.
Ayah bukan sekadar pelengkap dalam cerita tumbuh kembang anak. Ia adalah penentu arah, penjaga nilai, dan penguat fondasi keluarga. Ketika ayah hadir secara utuh, bukan hanya secara fisik tetapi juga emosional dan intelektual, maka peluang anak untuk tumbuh sehat akan semakin besar.
Stunting adalah cermin dari kualitas keluarga. Dalam cermin itu, bayangan ayah seharusnya tampak jelas, bukan samar. Jika kita ingin melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing, maka kita harus mulai dari hal yang paling mendasar, yaitu menghadirkan ayah dalam setiap proses tumbuh kembang anak.
Sudah saatnya strategi pengentasan stunting tidak lagi bertumpu pada satu sisi. Kita membutuhkan pendekatan yang lebih utuh, lebih adil, dan lebih manusiawi. Pendekatan yang tidak hanya memberi makan tubuh anak, tetapi juga menghidupkan peran ayah dalam keluarga. Karena pada akhirnya, anak tidak hanya membutuhkan nutrisi. Ia membutuhkan kehadiran. Ya, kehadiran itu bernama ayah.
Keberhasilan mengatasi stunting sejatinya tidak hanya lahir dari kecukupan gizi, tetapi dari keutuhan peran dalam keluarga. Ketika ayah hadir bukan sekadar sebagai pencari nafkah, melainkan sebagai pengasuh, pendamping, dan pengambil keputusan yang sadar akan pentingnya tumbuh kembang anak, maka upaya pencegahan stunting menjadi lebih kuat dan bermakna. Sebab, di balik anak yang tumbuh sehat, tidak hanya ada piring yang terisi, tetapi juga ada tangan ayah yang turut menjaga, pikiran yang ikut memikirkan, dan hati yang setia membersamai.
*) Penulis adalah Juara 2 Lomba Opini “Strategi Pengentasan Stunting“ Radar Jember.
Editor : Sidkin