STUNTING masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan masalah tinggi badan anak yang lebih pendek dari standar usianya, tetapi juga berdampak pada perkembangan kognitif, motorik, dan ketahanan imunitas hingga produktivitas di masa depan. Faktor penyebab stunting bersifat kompleks yaitu melibatkan faktor gizi, pola asuh, sanitasi, hingga pengetahuan keluarga, sehingga upaya pengentasannya memerlukan pendekatan yang komprehensif yaitu dari ketahanan keluarga, kualitas pengasuhan, hingga cara masyarakat memaknai pangan.
Oleh karena itu, strategi pengentasan stunting tidak hanya mengandalkan intervensi medis semata, tetapi membutuhkan pendekatan promotif dan preventif. Dalam hal ini, peran promosi kesehatan (promkes) di tingkat layanan primer menjadi strategis karena bukan sekadar menyampaikan pesan gizi, tetapi mendorong perubahan sistemik melalui penguatan ketahanan pangan mikro, revitalisasi budaya asuh (caregiving), dan transformasi pangan fungsional.
Pertama, penguatan ketahanan pangan mikro dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan adaptif. Ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga tidak selalu berarti kecukupan gizi. Banyak keluarga memiliki akses terhadap bahan makanan, tetapi belum mampu mengelolanya menjadi menu pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Di sinilah promkes berperan sebagai katalisator literasi pangan.
Edukasi tidak cukup berhenti pada apa yang harus dimakan tetapi juga menyentuh bagaimana mengolah, mengombinasikan, dan mendistribusikan makanan dalam keluarga. Promkes berperan menghidupkan kembali potensi pangan lokal sebagai sumber gizi, sekaligus memperkuat kemandirian keluarga dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Perilaku bercocok tanam di lingkungan sekitar rumah dengan konsep satu rumah satu sumber pangan lokal superfood seperti sayur kelor, bayam, kecipir yang sesuai kondisi geografis masing-masing daerah menjadi langkah kecil berdampak signifikan bagi pemenuhan pangan lokal sehat sehingga mampu menjaga kesuburan tanah sekaligus meningkatkan produktivitas secara sustainable.
Kearifan lokal juga tercermin dalam nilai gotong royong dalam interaksi sosial di masyarakat. Dalam banyak komunitas, distribusi pangan tidak hanya bergantung pada mekanisme pasar, tetapi juga pada hubungan sosial yang kuat. Tradisi berbagi hasil panen, berbagi makanan (tradisi ater-ater dan slametan), kerja bakti di lahan pertanian, hingga sistem lumbung desa menjadi indikator bahwa ketahanan pangan tidak hanya bersifat individu, melainkan kolektif. Dengan demikian, indikator kearifan lokal tidak hanya mencerminkan identitas budaya, tetapi juga menjadi fondasi strategis dalam penguatan ketahanan pangan mikro
Kedua, revitalisasi budaya asuh menjadi fondasi penting yang sering terabaikan. Praktik caregiving bukan hanya soal memberi makan, tetapi mencakup responsivitas, kasih sayang, kebersihan, dan stimulasi tumbuh kembang. Banyak keluarga sebenarnya memiliki nilai-nilai pengasuhan yang kuat, tetapi tergerus oleh perubahan sosial, urbanisasi, dan tekanan ekonomi.
Di banyak komunitas, praktik revitalisasi budaya tidak selalu selaras dengan prinsip kesehatan modern. Misalnya, pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini, pantangan makanan tertentu bagi ibu hamil, atau pola pengasuhan yang minim stimulasi tumbuh kembang. Akan tetapi, alih-alih menerapkan budaya tersebut, pendekatan yang lebih bijak adalah merevitalisasi yang bertujuan menghidupkan kembali nilai-nilai positif yang selaras dengan kesehatan, sembari mentransformasikan praktik yang kurang tepat.
Revitalisasi budaya asuh dapat dimulai dengan mengidentifikasi praktik-praktik lokal yang mendukung tumbuh kembang anak, seperti tradisi gotong royong dalam merawat ibu dan bayi, atau kebiasaan pemberian makanan alami yang kaya gizi. Nilai-nilai ini kemudian diperkuat melalui narasi kesehatan.
Selain itu, pendekatan lintas sektor juga menjadi kunci. Kolaborasi antara tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, kader posyandu, hingga lembaga pendidikan dapat memperkuat proses transformasi budaya asuh. Peran tokoh agama dan adat, sangat penting dalam memberikan legitimasi sosial terhadap perubahan perilaku yang diharapkan. Dalam hal ini, promkes hadir sebagai fasilitator yang menguatkan praktik baik sekaligus meluruskan yang kurang tepat.
Ketiga, transformasi pangan fungsional membuka peluang baru dalam upaya pencegahan stunting. Pangan tidak lagi sekadar mengenyangkan, tetapi juga harus memiliki kandungan zat gizi yang dapat meningkatkan fungsi fisiologis tubuh, seperti memperkuat imunitas, mendukung perkembangan otak, dan mencegah penyakit.
Di tingkat lokal, banyak bahan pangan tradisional seperti tempe, daun kelor, ikan laut, umbi-umbian, hingga kacang-kacangan sangat melimpah dan memiliki potensi sebagai pangan fungsional, namun belum dimanfaatkan secara optimal karena memiliki tantangan pada bagaimana pangan tersebut diolah, diterima, dan dikonsumsi secara konsisten oleh masyarakat, khususnya keluarga dengan risiko stunting.
Transformasi pangan fungsional tidak hanya berarti inovasi produk seperti membuat biskuit kelor, nugget ikan, atau MP-ASI berbasis pangan lokal tetapi juga transformasi cara pandang masyarakat terhadap makanan. Pangan lokal yang sebelumnya dianggap rendah nilai gizi perlu direposisi sebagai sumber gizi unggul yang terjangkau dan mudah diakses. Peran promosi kesehatan tidak hanya bertugas menyampaikan pesan gizi, tetapi juga membangun mindset dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya memilih dan mengolah pangan secara tepat.
Dalam pelaksanaan pengolahan bahan pangan lokal, promkes berkolaborasi dengan ahli gizi yang berperan merancang, mengarahkan, dan memastikan kualitas gizi dari setiap menu yang diolah dan kader posyandu sebagai penggerak lapangan yang mendampingi praktik pengolahan makanan. Pendekatan bisa dilakukan melalui demo masak di posyandu, edukasi berbasis keluarga, hingga pemanfaatan media sosial untuk menyebarkan resep sehat berbasis pangan lokal. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi sasaran, tetapi juga pelaku utama dalam perubahan.
*) Penulis adalah Penyuluh Kesehatan Masyarakat UPTD Puskesmas Jelbuk.
Editor : Sidkin