Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Tangisan Gaza Menjadi Trending Topic: di Mana Kemanusiaan Kita? Opini oleh Salim Abuzaid, Anggota Forum Anak Bondowoso

Sidkin • Senin, 18 Mei 2026 | 07:00 WIB
Salim Abuzaid, Anggota Forum Anak Bondowoso dan Siswa MAN Bondowoso
Salim Abuzaid, Anggota Forum Anak Bondowoso dan Siswa MAN Bondowoso

 

SETIAP kita scroll TikTok, Instagram, X, dan sebagainya, gambar-gambar anak-anak meloncat begitu cepat, anak-anak yang matanya menatap kosong, rumah-rumah runtuh dan antrean panjang untuk mendapatkan air serta makanan yang sering berakhir dengan tragedi. Tagar menyebar begitu cepat, emoticon berkumpul, caption beragam. Untuk beberapa jam atau hari, Gaza menjadi pusat dunia maya. Komentar, repost, dan solidaritas virtual, namun hal itu segera berlalu begitu saja.

Algoritma berganti begitu cepat, dan yang pernah menjadi jeritan kolektif ini kembali menjadi deretan notifikasi yang tak lagi mendesak nurani kita. Fenomena inilah bukan hanya sekadar tentang cepatnya penyebaran arus informasi tetapi tentang bagaimana rasa kemanusiaan kita diuji oleh algoritma konsumerisme digital dan kalkulasi politik yang dingin. 

Mengapa tangisan Gaza kerap berakhir sebagai tren yang datang lalu pergi begitu saja? Jawabannya tak hanya emosional tapi juga terukur, mari kita mengulik tuntas hal ini. Data internasional menunjukkan sesuatu yang jauh lebih menggelisahkan daripada sekadar deretan angka.

Menurut badan-badan PBB dan lembaga kemanusiaan, sejak Oktober 2023 hingga akhir 2025 jumlah warga Palestina yang tewas di Gaza diperkirakan mencapai 65.000-71.000 jiwa, dengan mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Badan Palestina sendiri mencatat korban tewas di Gaza melampaui 67.000 orang dengan lebih dari 169.000 lainnya terluka parah. Artinya apa? Di balik setiap foto yang viral, ada ratusan ribu nyawa yang terluka, terusir, dan kehilangan harapannya untuk hidup. 

Ketika anak-anak muncul sebagai simbol paling menyentuh, UNICEF menegaskan bahwa lebih dari 5.300 anak telah tewas di Gaza sejak Oktober 2023, sehingga badan ini menyebut Gaza sebagai tempat paling berbahaya di dunia bagi anak-anak. Bahkan setelah gencatan senjata diumumkan dalam beberapa fasenya, laporan UNICEF menunjukkan bahwa rata-rata satu anak tewas setiap hari, dengan ratusan lainnya meregang nyawa akibat trauma, kekurangan medis, atau bahkan hipotermia di pengungsian. Tangisan anak Gaza bukan lagi metafora; ia adalah statistik yang terus bergerak. Namun di ruang digital, hal itu sering kali berhenti pada satu postingan saja.

Fakta yang paling menohok muncul dari data yang jarang menjadi sorotan utama. Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) mencatat bahwa 798 warga Palestina tewas di Gaza sejak akhir Mei 2025 ketika mereka sedang mengantre bantuan kemanusiaan.

Laporan lainnya juga menyebutkan total 2.603 orang tewas dan lebih dari 19.000 terluka dalam insiden yang terkait pencarian atau pengantaran bantuan. Ini berarti bahwa hanya untuk mendapatkan makanan, air, dan kebutuhan dasar, warga Gaza harus melewati antrean yang berpotensi menjadi kuburan massal. Di tengah dunia yang sibuk mengurusi apa yang "viral", ribuan manusia tewas justru ketika mereka berusaha bertahan hidup. 

Pada saat yang sama, sistem kesehatan Gaza hampir runtuh total. PBB dan lembaga internasional menyebut bahwa Gaza mengalami krisis kemanusiaan terbesar dalam dua dekade terakhir; rumah sakit kekurangan listrik, obat-obatan, dan tenaga medis, sementara bantuan sering terhambat oleh blokade akses dan pembatasan gerak. Kelaparan dan gizi buruk meluas begitu cepat. Di luar layar gawai kita, dunia nyata berjalan sangat berbeda, Gaza bukan lagi konten, melainkan laboratorium penderitaan yang terus berjalan.

Di tengah data yang begitu mengejutkan, respons internasional masih tampak timpang. Delapan negara Eropa, Uni Eropa, dan PBB secara terbuka mengecam rencana pendudukan penuh atas kota Gaza dan menolak perubahan demografi yang dapat memperparah kelaparan serta krisis kemanusiaan. Namun, tekanan politik sering kali berhenti di meja deklarasi. Pasokan senjata dan dukungan diplomatik kepada pihak-pihak yang terlibat dalam konflik masih terus berjalan meski di bawah sorotan tajam publik.

Kembali ke pertanyaan di judul, "Di mana kemanusiaan kita?" Ini bukan lagi sekadar pertanyaan retoris. Jika kita meneliti data, sudah tampak jelas bahwa rasa kemanusiaan global tidak pernah benar-benar mati, ia hanya terfragmentasi oleh algoritma, kepentingan politik, dan kelelahan empiris (compassion fatigue).

Solidaritas yang viral itu penting, tetapi tidak akan pernah cukup jika tidak diikuti dengan tuntutan yang konkret. Perlu ada tekanan kuat pada pemerintah untuk menghentikan ekspor senjata ke pihak-pihak yang melanggar hukum internasional, dukungan pada investigasi independen terhadap pelanggaran HAM, dan penguatan lembaga kemanusiaan yang bergerak langsung di lapangan.

Tangisan Gaza boleh saja naik turun dalam daftar trending topic, tetapi rasa kemanusiaan bukanlah sebuah tren. Ia adalah pilihan. Apakah kita memilih untuk menutup timeline demi kenyamanan pribadi, atau kita memilih memakai gawai dan aksara kita untuk memaksa sistem yang gagal ini melindungi ribuan nyawa di Gaza?

Ketika data PBB dan lembaga internasional sudah memaparkan realitas yang begitu benderang, satu hal yang tersisa adalah konsistensi. Jika kita benar-benar peduli, ruang digital yang memviralkan penderitaan bisa kita ubah menjadi alat yang menuntut akuntabilitas, bukan sekadar alasan untuk cepat melupakan.

Kita tidak harus datang langsung ke Gaza untuk menolong mereka. Namun dengan berani bersuara, melawan arus algoritma yang apatis, dan meruntuhkan narasi-narasi bias dari pihak Zionis, kita sedang membuktikan satu hal: bahwa kemanusiaan itu hadir secara organik dari hati, bukan karena paksaan.

 

*) Siswa MAN Bondowoso, Anggota Forum Anak Bondowoso & Aktivis Literasi.

Editor : Sidkin
#Opini Radar Jember #Trending Topic #rasa kemanusiaan #pelanggaran HAM #gaza