Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

NU di Era Digital: Menjaga Tradisi, Menjawab Tantangan Global, Opini oleh Abdul Wasik, Dosen Pascasarjana IAI At Taqwa Bondowoso

Sidkin • Rabu, 20 Mei 2026 | 07:00 WIB
Opini oleh Abdul Wasik, Pengurus Rabithah Ma
Opini oleh Abdul Wasik, Pengurus Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama Jawa Timur Dan Dosen IAI At Taqwa Bondowoso.

 

DI tengah derasnya arus digitalisasi dan globalisasi, tantangan yang dihadapi umat Islam hari ini tidak lagi sekadar persoalan ibadah ritual atau perbedaan mazhab keagamaan. Dunia digital telah mengubah cara manusia berpikir, berkomunikasi, bahkan memahami agama. Informasi bergerak tanpa batas, media sosial menjadi ruang baru pembentukan opini publik, sementara otoritas keagamaan tradisional perlahan menghadapi pergeseran akibat lahirnya “ustad digital” dan banjir informasi keagamaan di internet. Dalam situasi seperti ini, Nahdlatul Ulama dituntut untuk mampu menjaga tradisi sekaligus merespons perubahan zaman secara bijaksana.

Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU memiliki pengalaman panjang dalam menjaga keseimbangan antara agama, budaya, dan realitas sosial. Sejak awal berdirinya, NU tidak hanya menjadi penjaga tradisi Ahlussunnah wal Jama‘ah (Aswaja), tetapi juga menjadi benteng moderasi Islam di Indonesia. Namun memasuki era digital, tantangan yang dihadapi NU jauh lebih kompleks dibanding masa sebelumnya. Polarisasi politik, hoaks keagamaan, radikalisme digital, krisis moral generasi muda, hingga pengaruh budaya global menjadi persoalan nyata yang membutuhkan respons cepat dan tepat.

Era digital telah melahirkan perubahan besar dalam pola otoritas keagamaan. Jika dahulu masyarakat belajar agama melalui pesantren, masjid, dan majelis taklim, kini jutaan orang memperoleh pemahaman agama hanya melalui video pendek di media sosial. Fenomena ini memiliki dua sisi sekaligus: di satu sisi mempermudah akses ilmu agama, tetapi di sisi lain membuka ruang luas bagi penyebaran paham keagamaan yang dangkal, provokatif, bahkan ekstrem. Tidak sedikit konten agama yang diproduksi tanpa sanad keilmuan yang jelas, namun mampu memengaruhi opini masyarakat secara masif.

Dalam konteks inilah, NU memiliki peran strategis sebagai penjaga otoritas keilmuan Islam moderat. Kehadiran media digital NU seperti Nu Online menjadi langkah penting dalam menghadirkan dakwah yang sejuk, argumentatif, dan berbasis tradisi keilmuan pesantren. Melalui platform tersebut, NU tidak hanya menyebarkan berita organisasi, tetapi juga menghadirkan tafsir keislaman yang ramah, toleran, dan relevan dengan persoalan masyarakat modern. Dakwah digital NU menjadi bukti bahwa tradisi pesantren tidak anti teknologi, melainkan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Transformasi dakwah NU juga terlihat dari semakin aktifnya para kiai dan santri di media sosial. Kajian kitab kuning kini dapat diakses melalui YouTube, ceramah disebarkan melalui TikTok dan Instagram, sementara diskusi keislaman berkembang dalam podcast dan forum digital. Hal ini menunjukkan bahwa NU mulai menyadari pentingnya ruang digital sebagai medan dakwah baru. Jika ruang tersebut dibiarkan kosong, maka akan diisi oleh kelompok-kelompok yang membawa narasi intoleransi dan kebencian.

Di sisi lain, globalisasi digital juga membawa tantangan budaya yang serius. Generasi muda hidup dalam dunia yang serba instan, individualistik, dan konsumtif. Budaya populer global sering kali lebih memengaruhi pola pikir anak muda dibandingkan nilai-nilai keagamaan dan tradisi lokal. Krisis moral, menurunnya etika sosial, serta melemahnya penghormatan terhadap guru dan ulama menjadi fenomena yang semakin terlihat dalam kehidupan masyarakat modern. Dalam situasi seperti ini, pesantren NU memiliki posisi penting sebagai benteng moral dan pusat pembentukan karakter generasi muda.

Pesantren tidak boleh hanya dipahami sebagai lembaga pendidikan agama tradisional, tetapi juga sebagai pusat peradaban yang mampu menjawab tantangan zaman. Hari ini banyak pesantren NU mulai mengintegrasikan literasi digital, pendidikan teknologi, dan wawasan global dalam sistem pembelajarannya tanpa meninggalkan tradisi kitab kuning dan sanad keilmuan. Langkah ini penting agar generasi muda nahdliyin tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga mampu bersaing di era modern.

Selain persoalan budaya, tantangan besar lain yang dihadapi NU adalah meningkatnya polarisasi politik di ruang digital. Media sosial sering kali berubah menjadi arena pertarungan identitas yang memperuncing perbedaan agama dan politik. Hoaks keagamaan, ujaran kebencian, dan propaganda politik berbasis agama menyebar dengan sangat cepat. Dalam kondisi seperti itu, NU memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga ruang publik tetap sehat melalui dakwah moderasi, toleransi, dan persaudaraan kebangsaan.

NU sejatinya memiliki modal sosial dan kultural yang sangat kuat untuk menghadapi tantangan globalisasi. Tradisi tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i‘tidal (adil) merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang damai di tengah dunia yang semakin terpolarisasi. Nilai-nilai tersebut relevan tidak hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk dunia internasional yang sedang menghadapi krisis kemanusiaan dan konflik identitas.

Karena itu, langkah PBNU dalam memperkenalkan konsep “Fikih Peradaban” dan diplomasi Islam moderat di tingkat global sesungguhnya merupakan bentuk adaptasi strategis NU terhadap perubahan dunia. NU ingin menunjukkan bahwa Islam tidak identik dengan kekerasan dan konflik, tetapi dapat menjadi sumber perdamaian dan kemanusiaan universal.

Di tengah meningkatnya islamofobia dan ekstremisme global, pengalaman Islam Nusantara yang damai menjadi sangat penting untuk ditawarkan kepada dunia.

Namun demikian, modernisasi dan digitalisasi tidak boleh membuat NU kehilangan akar tradisinya. Kekuatan utama NU tetap terletak pada pesantren, ulama, dan kultur masyarakat nahdliyin yang menjunjung tinggi adab serta sanad keilmuan. Teknologi hanyalah alat, sedangkan ruh perjuangan NU tetap berada pada nilai-nilai Aswaja yang diwariskan para ulama pendiri. Karena itu, tantangan terbesar NU hari ini bukan sekadar mengikuti perkembangan digital, tetapi bagaimana menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas.

Pada akhirnya, NU di era digital sedang menghadapi pergulatan besar: mempertahankan tradisi sambil merespons perubahan global. Jika NU mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana dakwah, memperkuat pendidikan pesantren, dan menjaga moderasi Islam di ruang digital, maka NU tidak hanya akan bertahan, tetapi juga menjadi model Islam moderat dunia di tengah krisis peradaban modern. Di sinilah pentingnya NU hadir bukan sekadar sebagai organisasi keagamaan, tetapi sebagai penjaga moral, perawat tradisi, dan penuntun peradaban di era digital.

 

*) Penulis adalah Pengurus RMI NU Jawa Timur & Dosen Pascasarjana Institut Agama Islam (IAI) At Taqwa Bondowoso.

Editor : Sidkin
#Nu di Era Digital #Fikih peradaban #diplomasi Islam #digital #nahdlatul ulama