Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Dari Krisis ke Ambisi Dunia: Drama Panjang Ekonomi Indonesia, Opini oleh M. Sulthon Arafat, Santri Ponpes Nurul Qarnain Sukowono Jember

Sidkin • Jumat, 22 Mei 2026 | 07:00 WIB
Dari Krisis ke Ambisi Dunia: Drama Panjang Ekonomi Indonesia, Opini oleh M. Sulthon Arafat, Santri Ponpes Nurul Qarnain Sukowono
Dari Krisis ke Ambisi Dunia: Drama Panjang Ekonomi Indonesia, Opini oleh M. Sulthon Arafat, Santri Ponpes Nurul Qarnain Sukowono

 

INDONESIA adalah negeri yang sejak lama dipuji karena kekayaan sumber daya, jumlah penduduk produktif, serta letak geografisnya yang strategis. Dalam berbagai proyeksi ekonomi global, Indonesia bahkan disebut-sebut berpotensi menjadi kekuatan ekonomi terbesar kelima dunia setelah Amerika Serikat, China, Rusia, dan Jepang.

Ambisi itu semakin diperkuat oleh visi pertumbuhan ekonomi 8 persen yang digaungkan dalam agenda pembangunan nasional. Sebuah target yang terdengar optimistis, bahkan bagi sebagian orang terasa ekstrem di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Namun perjalanan ekonomi Indonesia tidak pernah benar-benar lurus. Ia selalu bergerak seperti drama panjang: penuh harapan, tetapi juga dipenuhi luka, kegagalan, dan pertarungan kepentingan. Di balik proyek-proyek strategis nasional, pembangunan infrastruktur dan jargon investasi, ada kenyataan lain yang tak bisa ditutupi: ketimpangan sosial, lemahnya transparansi, serta rakyat kecil yang masih harus berjuang hanya demi makan untuk esok hari.

Ketika Krisis Melahirkan Harapan Baru

Sejarah ekonomi Indonesia pernah berada di titik yang sangat mengkhawatirkan. Krisis moneter menghantam keras, inflasi melonjak hingga puluhan persen, dan nilai rupiah runtuh tanpa ampun. Dalam situasi kacau itu, muncul sosok yang sering disebut sebagai “bapak teknologi”, seorang putra bangsa lulusan Jerman yang memilih pulang demi menyelamatkan negerinya.

Sosok itu adalah B. J. Habibie. Ia datang bukan dalam keadaan negara yang stabil, melainkan ketika bangsa ini hampir kehilangan arah. Dengan kabinet kecil dan masa jabatan yang sangat singkat, ia justru mampu memberikan efek kejut terhadap perekonomian. Inflasi berhasil ditekan, stabilitas mulai dibangun, dan kepercayaan internasional perlahan kembali tumbuh.

Yang paling diingat tentu adalah keberhasilannya memperbaiki nilai tukar rupiah. Dari kondisi dolar yang sempat menembus sekitar Rp14.500, rupiah perlahan menguat hingga berada di kisaran Rp8.000 per dolar AS. Dalam waktu sekitar satu setengah tahun, Habibie menunjukkan bahwa krisis tidak selalu harus dijawab dengan kepanikan, melainkan dengan keberanian mengambil keputusan.

Humanisme di Tengah Politik yang Bergejolak

Setelah Habibie, tongkat kepemimpinan berpindah kepada Abdurrahman Wahid, seorang tokoh yang lebih dikenal karena pendekatan humanisnya dibanding gaya kepemimpinan formal dan kaku. Di tengah situasi politik yang masih belum stabil, Gus Dur membawa wajah baru dalam demokrasi Indonesia.

Ia berbicara tentang pluralisme, toleransi, dan keberanian mendengar suara rakyat. Banyak kebijakannya dianggap kontroversial, tetapi keberaniannya mengambil risiko politik justru menjadi warna tersendiri dalam perjalanan bangsa. Pada masa itu, nilai tukar rupiah juga sempat menguat hingga mendekati Rp7.000 per dolar AS.

Ekonomi memang bukan hanya soal angka. Kadang stabilitas lahir dari rasa percaya masyarakat terhadap pemimpinnya. Gus Dur menunjukkan bahwa kedekatan emosional dengan rakyat juga dapat menjadi modal penting dalam menjaga ketahanan negara.

Utang, Ketergantungan, dan Jalan yang Tersendat

Selepas masa itu, perjalanan ekonomi Indonesia kembali menghadapi turbulensi. Kepemimpinan berikutnya diwarnai berbagai tantangan: utang luar negeri, ketergantungan terhadap investasi asing, hingga kebijakan tambal sulam yang dianggap sebagai “gali lubang tutup lubang”.

Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan. Harapan publik terhadap perubahan besar perlahan memudar karena pertumbuhan ekonomi sering kali terasa tidak merata. Di satu sisi, angka makroekonomi terlihat membaik, tetapi di sisi lain rakyat kecil masih kesulitan mendapatkan kehidupan yang layak.

Era selanjutnya juga tidak sepenuhnya mampu menjawab keresahan masyarakat. Kepemimpinan yang cenderung stagnan membuat publik merasa negara berjalan tanpa arah yang benar-benar kuat. Rupiah kembali melemah hingga menyentuh kisaran Rp14.000 per dolar AS. Pertanyaan mulai muncul di tengah masyarakat: apakah bangsa ini sedang salah memilih arah pembangunan, atau justru terjebak dalam lingkaran elite yang sibuk mempertahankan kekuasaan?

Infrastruktur, Investasi, dan Ambisi Besar Negara

Dua periode pemerintahan berikutnya membawa pendekatan yang berbeda. Pembangunan infrastruktur dilakukan secara masif: jalan tol dibangun, bandara diperluas, pelabuhan diperbanyak, dan investasi asing dibuka selebar-lebarnya. Pemerintah percaya bahwa percepatan pembangunan fisik adalah kunci menuju pertumbuhan ekonomi modern.

Namun di balik ambisi besar itu, kritik juga bermunculan. Regulasi dianggap terlalu dipermudah demi investor, sementara sebagian masyarakat khawatir terhadap ancaman terhadap konstitusi dan kedaulatan ekonomi nasional. Negara seolah berlomba mengejar pertumbuhan, tetapi terkadang lupa memastikan apakah seluruh rakyat benar-benar ikut merasakan hasilnya.

Sorotan tajam juga mengarah pada pengelolaan keuangan negara. Ketika terungkap adanya pengendapan Saldo Anggaran Lebih (SAL) ratusan triliun rupiah, publik mempertanyakan transparansi dan prioritas pemerintah. Di tengah rakyat yang berjuang demi uang seribu rupiah dan sepiring nasi, angka ratusan triliun terasa seperti ironi besar.

Ekonomi akhirnya bukan lagi sekadar pembahasan teknis para menteri. Ia berubah menjadi pertanyaan moral: untuk siapa sebenarnya pertumbuhan itu dibangun?

Harapan Baru atau Sekadar Pergantian Tokoh?

Kini Indonesia kembali memasuki fase baru. Wajah-wajah baru di sektor ekonomi mulai bermunculan dengan jargon perubahan dan percepatan pertumbuhan. Salah satu langkah awal yang cukup menarik perhatian adalah kebijakan mengalirkan ratusan triliun rupiah dari SAL untuk menopang bank-bank milik negara dalam menghadapi ancaman inflasi dan krisis moneter.

Langkah itu dipuji sebagai keberanian, tetapi juga mengundang kewaspadaan. Sebab sejarah Indonesia menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi sering kali tampak menjanjikan di awal, namun gagal memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat bawah.

Indonesia memang memiliki semua syarat untuk menjadi raksasa ekonomi global. Tetapi kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari tingginya gedung, derasnya investasi, atau besarnya angka pertumbuhan. Kekuatan sejati lahir ketika rakyat kecil tidak lagi takut menghadapi hari esok, ketika transparansi menjadi budaya, dan ketika pembangunan tidak hanya dinikmati oleh segelintir elite.

Drama panjang ekonomi Indonesia masih terus berlangsung. Krisis demi krisis telah dilewati, ambisi demi ambisi terus dikumandangkan. Kini pertanyaannya tinggal satu: akankah Indonesia benar-benar menjadi promotor ekonomi dunia, atau justru terus terjebak dalam siklus harapan dan kekecewaan yang berulang?

 

*)Penulis adalah Santri Pondok Pesantren Nurul Qarnain Sukowono Jember, asal Situbondo.

Editor : Sidkin
#Opini Radar Jember #Ekonomi global #berita ekonomi #ambisi #BJ Habibie