MELEMAHNYA nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir kembali menjadi perhatian publik. Ketidakstabilan ekonomi global, penguatan dolar Amerika Serikat, konflik geopolitik internasional, hingga ketergantungan terhadap impor menjadi faktor yang terus memberi tekanan terhadap mata uang nasional.
Dalam situasi seperti ini, penguatan rupiah sering kali dipandang hanya sebagai tanggung jawab pemerintah pusat, Bank Indonesia, atau kebijakan fiskal negara. Padahal, kekuatan ekonomi nasional sejatinya juga dapat dibangun dari daerah melalui pengelolaan potensi lokal yang memiliki nilai tambah tinggi dan berorientasi ekspor.
Di tengah tantangan tersebut, langkah Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Diskoperindag dan PLUT KUMKM dalam mendorong penguatan UMKM serta hilirisasi kopi patut diapresiasi sebagai bentuk kesadaran baru bahwa daerah tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga aktor penting dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Dialog hilirisasi kopi specialty Bondowoso yang melibatkan berbagai pihak menjadi bukti bahwa sektor kopi kini tidak lagi dipandang sekadar komoditas pertanian, melainkan aset strategis ekonomi daerah yang memiliki peluang besar di pasar global.
Selama ini Indonesia masih menghadapi persoalan struktural yang cukup serius, yaitu ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Banyak komoditas unggulan nasional diekspor dalam bentuk mentah dengan nilai jual rendah, kemudian diolah kembali oleh negara lain menjadi produk bernilai tinggi yang justru dijual kembali dengan harga lebih mahal. Akibatnya, keuntungan ekonomi terbesar lebih banyak dinikmati pihak luar, sedangkan daerah penghasil hanya memperoleh manfaat yang terbatas.
Fenomena tersebut juga terjadi pada sektor kopi. Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kopi terbesar dunia dengan kualitas yang sangat kompetitif. Namun, sebagian besar ekspor kopi nasional masih didominasi biji kopi mentah. Kondisi ini menyebabkan nilai tambah ekonomi belum sepenuhnya dinikmati petani maupun pelaku usaha daerah.
Padahal, Bondowoso memiliki potensi yang sangat besar dalam industri kopi nasional. Kopi Bondowoso dikenal luas sebagai salah satu kopi specialty dengan karakter rasa yang khas dan memiliki daya tarik tersendiri di pasar internasional. Keunggulan geografis, kualitas tanah, iklim pegunungan, serta budaya pertanian masyarakat menjadi modal penting untuk menjadikan Bondowoso sebagai pusat pengembangan industri kopi berbasis hilirisasi.
Karena itu, potensi kopi Bondowoso tidak boleh berhenti hanya sebagai komoditas bahan mentah. Daerah harus mulai bergerak menuju industri kopi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi melalui proses hilirisasi. Hilirisasi kopi dapat diwujudkan melalui penguatan industri roasting lokal, pengembangan produk turunan kopi, pengemasan modern, peningkatan kualitas branding specialty coffee, hingga perluasan akses pasar ekspor secara langsung.
Langkah yang dilakukan PLUT KUMKM Bondowoso melalui inkubator usaha juga menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem ekonomi tersebut. Kehadiran inkubator kuliner, agribisnis, kerajinan, dan digital menunjukkan bahwa pemerintah daerah mulai serius membangun UMKM agar tidak hanya bertahan, tetapi mampu naik kelas dan bersaing secara lebih luas. Pendampingan legalitas usaha, sertifikasi halal, NIB, akses pembiayaan, hingga konsultasi pemasaran menjadi kebutuhan mendasar agar pelaku usaha lokal mampu memasuki pasar nasional maupun internasional.
Pernyataan bahwa ekspor tidak boleh hanya dinikmati pelaku usaha besar juga menjadi gagasan penting yang patut didukung. Selama ini usaha mikro sering kali hanya menjadi penonton dalam rantai perdagangan global karena keterbatasan akses, modal, dan pengetahuan pasar. Padahal, apabila UMKM daerah diberikan ruang dan pendampingan yang memadai, mereka memiliki potensi besar menjadi motor penggerak ekonomi nasional berbasis kerakyatan.
Hubungan antara hilirisasi kopi dengan penguatan rupiah sebenarnya sangat erat. Semakin besar ekspor produk bernilai tambah yang dihasilkan Indonesia, maka semakin besar pula devisa yang masuk ke dalam negeri. Peningkatan devisa akan membantu memperkuat cadangan valuta asing negara dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
Dengan kata lain, penguatan rupiah tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter, tetapi juga dipengaruhi kemampuan negara dalam menciptakan produk ekspor yang kompetitif dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Dalam konteks ini, hilirisasi kopi Bondowoso dapat menjadi bagian dari strategi ekonomi nasional berbasis potensi daerah.
Selain berdampak terhadap devisa negara, hilirisasi juga menciptakan efek ekonomi berantai yang sangat luas. Petani tidak lagi hanya bergantung pada harga jual bahan mentah yang fluktuatif, tetapi dapat memperoleh keuntungan lebih besar melalui keterlibatan dalam rantai produksi dan distribusi. Pelaku UMKM tumbuh, industri kreatif berkembang, lapangan pekerjaan terbuka, dan perputaran ekonomi daerah menjadi semakin kuat.
Tidak hanya itu, hilirisasi kopi juga dapat mendorong pertumbuhan sektor lain seperti pariwisata, ekonomi kreatif, dan industri kuliner. Tren wisata berbasis kopi atau coffee saat ini mulai berkembang di berbagai daerah. Bondowoso memiliki peluang besar untuk mengintegrasikan perkebunan kopi, budaya lokal, dan industri kreatif menjadi daya tarik ekonomi baru yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Karena itu, hilirisasi kopi membutuhkan dukungan kebijakan yang serius dan berkelanjutan. Pemerintah daerah maupun pusat perlu hadir melalui langkah konkret seperti kemudahan regulasi ekspor, bantuan sertifikasi internasional, penguatan koperasi petani, akses pembiayaan UMKM, pelatihan teknologi pengolahan kopi, hingga promosi pasar global secara terintegrasi. Hilirisasi tidak akan berjalan optimal apabila hanya berhenti pada forum diskusi tanpa implementasi kebijakan yang nyata.
Pada akhirnya, penguatan rupiah tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar di pusat pemerintahan. Dari Bondowoso, publik dapat belajar bahwa stabilitas ekonomi nasional juga dapat lahir dari secangkir kopi rakyat yang dikelola dengan inovasi, hilirisasi, dan keberpihakan terhadap ekonomi daerah.
Melalui penguatan UMKM, inkubator usaha, serta dorongan ekspor produk lokal, Bondowoso sedang menunjukkan bahwa kopi bukan hanya soal cita rasa, tetapi juga tentang bagaimana potensi daerah mampu menjadi kekuatan ekonomi nasional. Maka, mari ngopi dengan Kopi Bondowoso yang khas, karena dari setiap teguknya tersimpan semangat petani, UMKM, dan harapan untuk rupiah Indonesia yang lebih kuat.
*) Penulis adalah pengamat politik dan kebijakan publik.
Editor : Sidkin