ADA momen yang membuat kita berhenti sejenak dari kebisingan media sosial. Salah satunya adalah ketika Tiyo, Ketua BEM Universitas Gadjah Mada, berbicara. Suara–pemuda asal Kudus bernama lengkap Tiyo Ardiato ini–tegas. Kalimatnya lugas. Logikanya mengalir tanpa tersangkut. Dan ya, pedasnya itu yang membuat banyak orang menoleh. Saya sendiri kagum. Sungguh kagum kepada mahasiswa jurusan filsafat ini.
Di tengah generasi muda yang sebagian besar sibuk dengan konten receh dan viralitas tanpa substansi, muncul seorang mahasiswa yang berani menyebut nama, berani menunjuk persoalan, dan berani menanggung risiko dari kata-katanya. Retorikanya bukan retorika seminar yang steril—ia berbicara dengan denyut kemarahan yang nyata, dengan kepedulian yang terasa otentik. Saya teringat Soe Hok Gie. Teringat Hariman Siregar. Teringat wajah-wajah muda yang pernah membuat penguasa gelisah di malam hari.
Seandainya Ini Orde Baru
Dan di sinilah saya ingin membuat jeda yang jujur. Seandainya Tiyo lahir tiga dekade lebih awal, nasibnya bisa sangat berbeda. Di era Orde Baru, anak muda seperti dia tidak dibiarkan tumbuh menjadi fenomena publik. Ia akan "diamankan"—sebuah eufemisme yang menyimpan horor tak terucap. Atau lebih tragis lagi: ia akan menjadi bagian dari mereka yang pergi tanpa pamit, hilang tanpa jejak, seperti yang diabadikan dalam lagu Mashabi yang memilukan itu—“Hilang tak Berkesan”.
Bahwa hari ini Tiyo bisa berbicara lantang, disiarkan, diviralkan, dan tidak dijemput di tengah malam—itu sendiri adalah sebuah kemajuan yang tidak boleh kita anggap remeh. Reformasi, dengan segala cacatnya, telah memberi ruang itu. Tetapi ruang berbicara bukan jaminan bahwa yang diucapkan akan mengubah sesuatu. Dan di sinilah pertanyaan yang lebih dalam mulai mengusik saya.
Pertanyaan yang Tidak Bisa Ditunda
Tiyo, dan para aktivis muda yang memanggul semangat serupa, menghadapi ujian yang jauh lebih rumit dari sekadar keberanian berbicara. Ujian itu bernama: konsistensi. Sejarah Indonesia bertabur nama-nama yang pernah berteriak lantang di masa mudanya, lalu bertahun kemudian justru duduk nyaman di kursi yang dulu mereka hujat. Mereka bukan pengkhianat sejak awal—banyak yang memang tulus di permulaan. Tetapi Indonesia adalah negara yang sangat pandai menjinakkan pemberani. Caranya halus: bukan dengan ancaman, melainkan dengan tawaran. Jabatan, akses, jaringan, dan bisikan bahwa "dari dalam lebih efektif."
Apakah Tiyo sudah cukup memahami Indonesia yang sesungguhnya — bukan Indonesia dalam buku teks atau diskusi kampus, tetapi Indonesia yang luas, berlapis, dan penuh jebakan? Indonesia di mana oligarki bekerja bukan dengan kekerasan semata, tetapi dengan kooptasi yang begitu elegan sehingga korbannya sering tidak sadar sedang ditelan?
Api atau Kompor?
Ada pertanyaan lain yang lebih tidak nyaman untuk diucapkan, tetapi harus diucapkan: apakah ada sosok kuat di balik mulut api itu? Bukan tuduhan. Ini pertanyaan sejarah yang sah.
Kita tahu bahwa dalam beberapa episode aktivisme mahasiswa Indonesia, gerakan yang tampak spontan ternyata memiliki sutradara di belakang layar. Bukan berarti semua demikian—banyak yang murni. Tetapi kita juga tahu bahwa dalam konstelasi politik hari ini, banyak pihak yang sesungguhnya tidak puas dengan arah kebijakan pemerintahan Prabowo—kebijakan-kebijakan yang dalam banyak hal melanjutkan, bahkan memperdalam sepak terjang presiden sebelumnya yang ‘membumihanguskan’ para oknum yang melakukan praktik-praktik ekonomi yang merugikan negara. Mereka marah, tetapi tidak berani berterus terang. Mereka butuh mulut lain. Mulut yang muda, bersih, dan berapi-api.
Jika Tiyo terbukti hasil jebakan mereka, maka Tiyo bukan pemimpin—ia hanya panggung. Sekali lagi: ini bukan tuduhan. Ini peringatan. Peringatan agar Tiyo sendiri, dan publik yang mengaguminya, tidak berhenti pada kekaguman. Kekaguman tanpa kewaspadaan adalah jebakan yang paling manis.
Harapan yang Tetap Hidup
Namun saya tidak ingin mengakhiri tulisan ini dengan kecurigaan. Saya tetap berharap. Justru karena saya kagum, saya berharap lebih. Saya berharap Tiyo bukan sekadar fenomena musiman yang redup bersama wisuda. Saya berharap ia memiliki peta jalan yang jelas tentang bagaimana keberanian mudanya akan ia rawat ketika tidak lagi berdiri di podium kampus.
Karena Indonesia tidak kekurangan pemberani sesaat. Yang langka adalah mereka yang berani secara konsisten, berani tanpa penonton, berani ketika tawaran datang dengan wajah ramah dan senyum manis.
Soekarno pernah berkata: "Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia." Tetapi sejarah mengajarkan kita bahwa yang mengguncang dunia bukan sekadar pemuda yang berteriak keras—melainkan pemuda yang tahu ke mana ia melangkah setelah teriakan itu selesai.
Bijak pula petuah lama yang tak lekang oleh waktu: "Api yang besar selalu berawal dari percikan kecil yang dijaga dengan sabar." Keberanian tanpa kesabaran adalah amarah. Keberanian tanpa konsistensi adalah pertunjukan. Tetapi keberanian yang dirawat dengan integritas, hari demi hari, itulah yang mengubah sejarah.
Bukan Sekadar Musim
Dan Nelson Mandela mengingatkan kita: "Keberanian bukan berarti tidak merasa takut, melainkan tetap melangkah meskipun rasa takut itu ada." Tiyo mungkin belum menghadapi ketakutan yang sesungguhnya—ketakutan ketika kekuasaan membisiki dengan lembut, bukan mengancam dengan keras. Ujian terberat seorang pemberani bukan di depan massa yang bersorak, melainkan di ruang sunyi ketika tidak ada yang menyaksikan.
Tiyo, api itu indah. Tapi api yang tidak dijaga bisa padam—atau lebih buruk, bisa membakar rumah sendiri. Jagalah api itu dengan akal yang jernih, hati yang bersih, dan kaki yang tetap berpijak pada mereka yang selama ini tidak punya suara. Buktikan bahwa engkau bukan sekadar musim. Buktikan bahwa engkau adalah mata air—bukan banjir bandang yang dahsyat sesaat, lalu surut meninggalkan lumpur. Semoga.
*) Penulis adalah Hakim PTA Banjarmasin
Editor : Sidkin