Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Saatnya Green Carnival Menjadi Budaya Baru Jember, Opini oleh Adi Mustika, Dosen Unipar Jember

Sidkin • Sabtu, 13 Juni 2026 | 07:00 WIB
Adi Mustika, penulis adalah pengajar di Universitas PGRI Argopuro Jember.
Adi Mustika, penulis adalah pengajar di Universitas PGRI Argopuro Jember.

 

JUNI 2026 menandai titik balik perjalanan pengelolaan sampah di Kabupaten Jember. Sejak 1 Juni, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari berhenti menerima semua jenis sampah dan membatasi akses hanya untuk residu yang tidak dapat lagi diproses, didaur ulang, atau digunakan kembali. Kebijakan tegas ini mengakhiri paradigma lama "kumpul–angkut–buang" dan membuka era baru: pengurangan, pemilahan, dan pemrosesan sampah langsung di sumbernya.

Perubahan ini bertepatan dengan musim perayaan di Jember. Jember Fashion Carnaval (JFC) yang mendunia akan diselenggarakan pada 24–26 Juli 2026 dengan tema Humanity, Earth, and Life (Kemanusiaan, Bumi, dan Kehidupan). Pesannya jelas: keberadaan manusia, planet bumi, dan kehidupan tidak terpisahkan. Ini adalah pengingat tepat saat kita menghadapi tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Selanjutnya, bulan Agustus akan membawa rangkaian perayaan kemerdekaan. Berbeda dengan wilayah lain, Jember biasanya menyelenggarakan serangkaian karnaval, lomba 17-an, pertunjukan seni, dan parade budaya selama sebulan penuh. Tidak berlebihan jika menyebut Jember sebagai "kabupaten karnaval".

Selain menjadi wadah kreativitas pemuda dan mesin solidaritas komunitas, karnaval juga menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari pedagang kaki lima hingga industri kreatif. Namun, di tengah kegembiraan itu muncul pertanyaan: bisakah budaya karnaval di Jember beradaptasi dengan realitas baru pengelolaan sampah?

Jejak Tersembunyi dari Sebuah Perayaan

Di balik kemeriahan yang selalu dinantikan setiap tahun, terdapat satu persoalan yang sering kali luput dari perhatian, yakni sampah yang dihasilkan selama acara. Ketika peserta dan penonton telah pulang, panggung dibongkar, dan jalanan kembali normal, sering kali yang tersisa adalah botol plastik, gelas minuman sekali pakai, serta berbagai jenis sampah lainnya.

Persoalan ini mungkin terlihat sederhana. Banyak orang menganggap sampah sebagai konsekuensi yang tidak terhindarkan dari sebuah keramaian. Selama lokasi kembali bersih keesokan harinya, persoalan dianggap selesai. Padahal, dalam perspektif lingkungan, sampah tidak pernah benar-benar hilang, melainkan hanya berpindah tempat dari jalan raya menuju kendaraan pengangkut, lalu berakhir di tempat pengolahan atau pembuangan akhir.

Data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jember menunjukkan bahwa penyelenggaraan JFC tahun 2025 menghasilkan sekitar 9,9 ton sampah selama tiga hari kegiatan. Jumlah tersebut memang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi tetap menunjukkan bahwa sebuah kegiatan besar memiliki jejak lingkungan yang signifikan.

Jika satu event besar menghasilkan hampir sepuluh ton sampah, muncul pertanyaan yang lebih besar: berapa banyak sampah yang dihasilkan oleh puluhan karnaval desa dan kecamatan sepanjang bulan Agustus? Berapa banyak sampah yang berasal dari lomba rakyat, bazar UMKM, pasar malam, dan hiburan lainnya?

Hingga saat ini, belum tersedia data pasti untuk menjawab pertanyaan tersebut. Namun secara logis, semakin banyak kegiatan yang melibatkan massa dalam jumlah besar, semakin besar pula timbulan sampah yang dihasilkan. Dalam konteks pengelolaan lingkungan, persoalan ini tidak dapat lagi dianggap sepele.

Era Baru Menuntut Pola Pikir Baru

Persoalan sampah menjadi semakin krusial karena Jember kini memasuki era baru pengelolaan persampahan. Selama bertahun-tahun masyarakat terbiasa dengan sistem sederhana: sampah dikumpulkan, diangkut, lalu dibuang ke TPA. Sistem ini terlihat praktis, tetapi menyimpan masalah besar karena produksi sampah terus meningkat sementara kapasitas lahan TPA sangat terbatas.

Kebijakan pembatasan TPA Pakusari yang berlaku mulai 1 Juni 2026 merupakan pengingat bahwa pola lama tidak dapat dipertahankan. Ketika TPA hanya menerima residu, maka pengelolaan sampah harus dilakukan sedekat mungkin dengan sumbernya. Sampah organik harus diolah menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik wajib dipilah dan didaur ulang. Hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan lagi yang boleh masuk ke TPA.

Kebijakan ini tidak hanya menyasar rumah tangga atau kawasan perdagangan. Kegiatan publik berskala besar juga harus menjadi bagian dari perubahan tersebut. Artinya, setiap penyelenggara acara perlu memikirkan cara mengurangi timbulan sampah sejak tahap perencanaan. Dalam konteks inilah, berbagai karnaval di Jember perlu dipandang sebagai bagian dari sistem pengelolaan lingkungan daerah.

Green Carnival: Dari Pilihan Menjadi Keharusan

Secara global, "green events" (acara hijau) semakin diminati dengan prinsip meminimalkan dampak lingkungan. Jember dapat mengadopsi konsep ini melalui Green Carnival.

Kesuksesan acara tidak boleh lagi diukur hanya dari jumlah penonton atau kemegahan kostum. Karnaval yang memukau namun meninggalkan gunungan sampah tidak bisa disebut sukses. Sebaliknya, karnaval yang mengurangi plastik sekali pakai, mengelola sampah secara bertanggung jawab, dan menjaga kebersihan jalanan layak mendapatkan apresiasi lebih. Green Carnival bukanlah tren sesaat—ia adalah kebutuhan yang lahir dari realitas lingkungan Jember.

Empat Langkah Praktis ke Depan

Transformasi tidak harus mahal. Langkah-langkah sederhana berikut dapat membuat perbedaan besar:

Ketika tanggung jawab lingkungan menjadi bagian dari kompetisi, inovasi akan mengikuti dengan sendirinya.

Peluang Jember untuk Memimpin

Dengan JFC yang diakui secara internasional, Jember memiliki modal sosial kuat untuk memelopori Green Carnival di Indonesia. Tema JFC Humanity, Earth, and Life tahun 2026 adalah momentum sempurna untuk mengubah ekspresi seni menjadi aksi ekologis.

Pemerintah daerah dapat mempercepat hal ini dengan menerbitkan pedoman Green Event, menawarkan dukungan teknis, serta memberi penghargaan kepada penyelenggara yang sadar lingkungan. Jika dilakukan secara konsisten, Jember dapat dikenal tidak hanya sebagai kota karnaval, tetapi juga sebagai model kreativitas budaya yang dipadukan dengan tanggung jawab lingkungan.

Membebaskan Jember dari Sampah

Tantangan terbesar bukanlah teknologi, melainkan pola pikir. Terlalu lama sampah dianggap sebagai masalah orang lain, padahal itu adalah tanggung jawab semua orang.

Perayaan kemerdekaan harus menampilkan tidak hanya kreativitas, tetapi juga kedewasaan dalam melindungi lingkungan. Semangat gotong royong yang mendefinisikan karnaval Jember dapat diperluas untuk pengurangan sampah secara kolektif.

Sudah waktunya karnaval Jember diingat tidak hanya karena kemegahannya, tetapi juga karena akuntabilitasnya. Di tengah terbatasnya kapasitas TPA, Green Carnival bukan lagi sebuah idealisme—ia adalah sebuah keharusan.

Jika Jember berhasil, setiap bulan Agustus akan merayakan tidak hanya peringatan kemerdekaan, tetapi juga masa depan kehidupan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Sebab, kesuksesan sejati diukur bukan dari seberapa meriah sebuah acara, melainkan dari jejak yang ditinggalkannya.

 

*) Penulis adalah Dosen Teknik Lingkungan UNIPAR Jember.

 

Editor : Sidkin
#Penutupan TPA Pakusari #Opini Radar Jember #penanganan sampah #green carnival #opini