Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Republik Official, Opini oleh Agus Susanto, Enterpreneur Jember

Sidkin • Rabu, 17 Juni 2026 | 13:32 WIB
Agus Susanto, penulis opini adalah Owner House Music Jember
Agus Susanto, penulis opini adalah Owner House Music Jember

 

Belum setahun aku bertemu teman bisnis di ruang prioritas salah satu Bank bergengsi di kotaku. Sama-sama duduk manis antre di temani camilan dan secangkir teh mahal. Beliau punya toko besar yang menjual produk telekomunikasi dari berbagai merek terkenal. Kalau setor uang tak pakai tas kecil atau tas kresek, tapi pakai karung. Menunggu antrean di ruang prioritas sama sekali tak membosankan, ada banyak camilan dan bertemu orang-orang kaya yang mustahil di temui kalau di kantor atau di rumahnya. 

“Koko”, aku menoleh ada suara pelan tapi jelas saat aku naik tangga di Bank bergengsi tadi. Eh, ternyata teman bisnis yang beberapa waktu lalu bertemu di ruang prioritas. “Mampir di depotku ya “, aku sekarang jualan bakwan dan mi. Tidak berani bertanya apakah sudah tidak berjualan alat komunikasi lagi pikirku di dalam hati dan di dalam otakku. “Oke siap, ta mampir ke depot mi dan bakwannya.” “Alamatnya di mana,” basa basi kecilku. Bla, bla, bla, lalu senyap.

Merek terkenal sudah buka dan jualan sendiri di mal ternama, perlahan tapi pasti usaha-usaha yang dulunya tumbuh besar bersama, ada yang namanya distributor, ada lagi yang namanya agen, terus dealer resmi, pengecer, dan sebagainya. Kini nama dan sebutan tadi sudah berganti menjadi official. 

Pemilik merek langsung berjualan sendiri langsung kepada konsumen, itu arti kata official yang saya peroleh dari mengunjungi mesin pencari di komputer. Barang yang dijamin keasliannya, barang yang tentunya lebih murah dari rangkaian gerbong distributor, agen, dan kawan-kawannya tadi. 

Satu lagi, cerita tentang sebuah official. Teman senior bisnis di distribusi air dalam kemasan. Dia beruntung bisa menjadi mitra sebuah merek terkenal air mineral, dan dipercaya untuk menjadi partner bisnis dalam memasarkan produk air mineralnya. Dari merangkak door to door, sampai produk air mineral itu laris manis berkat kegigihan dan perjuangan beliau. 

Singkat cerita, tempat distribusi air mineral merek tersebut diambil alih langsung penjualannya oleh pabrik langsung. Jadi, pabrik membuka sendiri jaringan penjualan yang dulunya di kerjakan oleh teman senior saya tadi. Bagaimana tentang kemitraan yang dulunya mesra namun setelah berjalan besar langsung diambil alih begitu saja. Alasannya tentu demi memberikan kenyamanan kepada konsumen langsung merek tersebut. Official, barang resmi harga resmi konsumen bahagia, mungkin begitu harapannya. Dua contoh tersebut kiranya sudah bisa saya jadikan cerita nyata bagaimana sang official tadi sukses berjualan sendiri tanpa perlu dan tanpa butuh lagi yang namanya distributor, agen, mitra dan sejenisnya. 

Kemarin waktu ada cerita tentang efisiensi di negaraku, sekilas saja saya pernah mendengar, perjalanan dinas di hotel dikurangi anggarannya, darmawisata anak sekolah dihilangkan, beli mobil dinas secukupnya, bahkan pembelian alat tulis kantor pun dibatasi anggarannya. 

Ini bagus pikirku, membuat kita semua merasakan sehati untuk memang menyelamatkan ekonomi sebuah negara. Memang pengeluaran-pengeluaran yang dirasa tidak perlu bagus untuk dihemat. Lalu uang penghematannya dikumpulkan di dalam sebuah wadah besar. 

Bank-bank besar dilebur supaya punya modal yang kuat. Janji manis setiap bank diberi uang dana tunai yang harus disalurkan kepada rakyatnya supaya bisa berusaha. Namun, ternyata saya salah menduga. Saya loh yang salah menduga, bukan Anda pembaca tulisan ini, sekali lagi saya salah menduga. 

Uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari efisiensi yang harusnya berputar di masing-masing usaha rakyat kebanyakan ditaruh di dalam sebuah wadah besar yang bernama baru dibuat. Merasa mempunyai dana besar, tidak mungkin kalau dana tersebut hanya dijadikan tontonan saja. 

Mulai dilirik dari segala sisi, ada yang dari sisi keprihatinan akan sebuah masa depan anak-anak bangsa yang makan saja sulit, tidak ada lauk-pauk yang baik, belum ada gizinya. Ada lagi yang dilirik dari usaha-usaha kecil, sembako, beras, gas, minyak, dan banyak lagi, yang komoditas tadi sudah lama diperjualbelikan oleh hampir seluruh rakyatnya.

Mengharapkan dan memberi pernyataan bahwa sudah lama kegiatan komoditas dikuasai oleh banyak pemain-pemain besar dan sedikit bermanfaat bagi rakyat kecil di bawah. Atas dasar itulah sebuah republik masuk menjadi sebuah official. 

Sebagai contoh kecil, gas bersubsidi yang harga dan distribusinya ditentukan oleh negara, ternyata tidak sepenuhnya bisa diatur oleh Negara, 90 persen kenyataan pasar yang mengatur harga dan distribusi gas bersubsidi tadi. Dan normal saja kegiatan jual beli sesuai dengan hukum niaga dan hukum bisnis.

Namun, karena negara harus hadir menyeragamkan harga dan distribusinya, maka dibuatlah seharusnya harga yang benar untuk sebuah gas bersubsidi adalah sekian Rupiah. Diadakanlah gerebek-gerebek pasar yang memang harga dan pasokannya ada. Sukses kelihatannya, tapi di balik gerebek-gerebek pasar tersebut ada jatah yang diambil paksa dari masing-masing pangkalan, yang itu adalah jatah rakyat juga. 

Hari ini official sebuah negara diuji dengan kepandaian kepala-kepala yang di percaya untuk -mengurus official-official tersebut. Mereka pandai memanfaatkan celah terhadap sebuah kebijakan besar. Belum lagi sebentar lagi official dalam bentuk koperasi akan digelontorkan dalam jumlah besar. Siapa makan siapa, produk eat produk, siapa mati siapa hidup. Siapa yang akan ditutup dan siapa yang akan menutupnya. Pasti akan kelihatan jelas.

Republik official akan berkibar?

Perasaanku berkata, tidak semudah itu para official dari koperasi buatan negara melawan para pelaut ulung di dunia bisnis. Yang sudah faham bukan saja cara menjual dan cara membeli, tapi masih ada urusan 1.000 bahkan 1.000.000 hal untuk bisa membuat sebuah usaha akan runtuh. Oke, mudah bagi sebuah pemilik dana besar membuka sebuah usaha besar langsung, apalagi ini sebuah negara yang membukanya.

Namun, ada banyak hal yang juga bisa membuat Republik Official akan runtuh juga, dalam hati orang siapa tahu. Sumber daya manusia kita pandai-pandai memanfaatkan celah. Belum lagi tidak adanya rasa memiliki di dalam bekerja dan kemampuan ber wirausaha. 

Sebagai penutup, omong-omong teman bisnis yang saya ceritakan di awal, sekarang sudah bisa berlari lagi bahkan semakin kuat bersaing dengan official-nya yang diisi oleh banyak orang yang tidak berkompeten di bidangnya. Tetap semangat teman-teman sebangsa dan se-Tanah Air. Hidup itu dinamis. Tuhan memberkati dan semoga bermanfaat.

*) Penulis adalah Entrepreneur Jember.

Editor : Sidkin
#Opini Radar Jember #Republik Official #gerebek pasar