Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Ketika Anjing Mengajarkan Disiplin, Opini oleh Asmui Syarkowi, Hakim PTA Banjarmasin

Sidkin • Senin, 6 Juli 2026 | 07:00 WIB
Asmu’i Syarkowi
Asmu’i Syarkowi

 

SUATU ketika, Gus Mus—panggilan akrab K.H. Ahmad Mustofa Bisri–berkisah tentang pengalamannya saat memenuhi undangan pembacaan puisi di Jerman. Bukan gedung-gedung megah atau kemajuan teknologinya yang paling membekas dalam ingatannya, melainkan hal-hal sederhana yang justru sering luput dari perhatian: disiplin, kepatuhan terhadap hukum, kebersihan, dan kesantunan.

Di sebuah persimpangan jalan, tengah malam yang lengang, Gus Mus hendak menyeberang. Jalan benar-benar sepi. Tidak ada kendaraan melintas. Namun, tak seorang pun pejalan kaki berani melangkah karena lampu penyeberangan masih menyala merah. Mereka semua menunggu.

Yang membuat beliau semakin tertegun, seekor anjing yang sedang diajak berjalan oleh majikannya pun ikut berhenti. Dengan gaya bertuturnya yang khas, Gus Mus mengaku sempat ingin nekat menyeberang. "Naluri Indonesianya" muncul. Tetapi begitu melihat seekor anjing pun patuh pada aturan, beliau mengurungkan niatnya. "Masak saya kalah disiplin sama anjing?"

Humor itu tentu mengundang tawa, tetapi sesungguhnya menyimpan kritik yang sangat dalam. Disiplin ternyata bukan persoalan ada atau tidaknya pengawasan, melainkan kesadaran moral. Orang menaati aturan bukan karena takut dihukum, melainkan karena menghormati ketertiban sebagai bagian dari tanggung jawab sosial.

Pengalaman lain terjadi di bandara. Ketika hendak merokok, seorang petugas menghampirinya. Tidak ada bentakan, tidak ada larangan yang kasar. Dengan sangat sopan petugas itu bertanya, "Apakah Tuan hendak merokok?" Setelah dijawab "ya", ia mengantar Gus Mus menuju ruang khusus merokok. Aturan ditegakkan tanpa kehilangan adab.

Di situlah letak kemajuan sebuah peradaban. Hukum tidak hanya hidup dalam teks, tetapi juga dalam budaya. Kesopanan tidak berhenti sebagai etika pribadi, melainkan menjadi karakter kolektif masyarakat.

Ironisnya, di banyak negeri yang mayoritas penduduknya muslim, kita begitu akrab dengan slogan-slogan agama, tetapi sering gagap ketika diminta mempraktikkan nilai-nilai yang diajarkan agama itu sendiri. Kita mudah mengutip hadis tentang kebersihan, tetapi masih membuang sampah sembarangan. Kita rajin berbicara tentang amanah, tetapi masih memaklumi korupsi. Kita bangga menjadi bangsa religius, tetapi masih terbiasa menerobos lampu merah, menyerobot antrean, dan melanggar aturan yang dibuat demi kepentingan bersama.

Imam besar Muhammad Abduh pernah melontarkan ungkapan yang sangat terkenal: "Aku melihat Islam di Barat, tetapi tidak melihat kaum Muslim. Aku melihat kaum Muslim di Timur, tetapi tidak melihat Islam."

Padahal Islam tidak hanya mengajarkan hubungan dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia. Kualitas keberagamaan tidak cukup diukur dari banyaknya ibadah ritual, melainkan juga dari sejauh mana ibadah itu membentuk karakter. Salat yang benar semestinya melahirkan kejujuran. Puasa mendidik pengendalian diri. Zakat menumbuhkan kepedulian. Haji mengajarkan disiplin, kesabaran, dan penghormatan terhadap hak orang lain.

Karena itu, ketika Gus Mus berseloroh bahwa negeri yang sering distigma sebagai "kafir" justru tampak lebih islami dalam perilaku sosialnya, beliau tentu tidak sedang membahas status keimanan suatu bangsa. Apalagi menentukan siapa yang akan masuk surga. Itu sepenuhnya hak Allah SWT. Yang sedang beliau ajukan adalah sebuah cermin.

Jangan-jangan kita terlalu sibuk memperdebatkan simbol-simbol agama, sementara substansi ajaran agama justru tertinggal di belakang.

Alquran berkali-kali menyandingkan iman dengan amal saleh. Keimanan tidak pernah berhenti sebagai pengakuan lisan, melainkan harus menjelma menjadi tindakan nyata. Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Artinya, ukuran keberhasilan beragama bukan hanya seberapa khusyuk seseorang berdiri dalam salat, tetapi juga seberapa jujur ia berdiri dalam kehidupan.

Mungkin inilah pesan paling penting dari kisah Gus Mus di Jerman. Sebuah bangsa tidak menjadi maju hanya karena memiliki aturan yang baik, tetapi karena warganya bersedia mematuhi aturan itu, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang mengawasi.

Agama pun demikian. Keindahannya tidak terutama tampak pada banyaknya slogan yang dikumandangkan, melainkan pada akhlak yang dipraktikkan. Jika seekor anjing saja mampu mengajarkan arti disiplin kepada manusia, barangkali yang perlu kita benahi bukanlah ajaran agama kita.

Yang perlu kita benahi adalah cara kita mengamalkannya. Sebab, pada akhirnya, Islam paling mudah dikenali bukan dari apa yang kita ucapkan, melainkan dari bagaimana kita memperlakukan sesama, menghormati aturan, dan menjaga amanah dalam kehidupan sehari-hari.

 

*) Penulis adalah Hakim PTA Banjarmasin.

Editor : Sidkin
#disiplin #Opini Radar Jember #Gus Mus #belajar dari anjing #anjing