Edufun Fact Ekonomi dan Bisnis Fashion Halotech Health Hukum dan Kriminal Info Loker Infotainment Jtizen Lifestyle Movie Musik News Opini Otomotif Pemerintahan Plesir & Kuliner Politik Puisi Seni & Budaya Sport Suwar Suwir

Soft Skill dan Karakter, Jimat Anak SMK Yang Terlupakan, Opini oleh Daris Wibisono Setiawan, Kepala SMK Negeri 3 Bondowoso

Sidkin • Rabu, 8 Juli 2026 | 07:00 WIB
Daris Wibisono, Kepala SMKN 3 Bondowoso
Daris Wibisono, Kepala SMKN 3 Bondowoso

 

SEKOLAH menengah kejuruan (SMK) sebagai penyumbang pengangguran terbesar di Indonesia tentunya harus menjadi tamparan keras sekaligus bahan refleksi khususnya bagi para pejuang pendidikan di dunia SMK. SMK sebagai pendidikan vokasi yang bertujuan untuk menyiapkan peserta didik agar siap kerja setelah lulus, ternyata tidak lilier dengan tingkat pengangguran lulusannya yang mencapai 8,83 persen (BPS, 2025).

Dari data angka menunjukkan adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan pasar kerja. Padahal, lulusan SMK itu jargonnya bisa punya BMW (Bekerja, Melanjutkan kuliah, Wirausaha) lantas kenapa prosentase angka pengangguran terbuka terbesar menurut jenjang pendidikan?

Sementara itu, unik menariknya Tingkat pengannguran terbuka lulusan SMA sebanyak 6, 88 persen, yang padahal secara tujuan pendiriannya lulusan tersebut untuk bisa melanjutkan kuliah dan tidak diharapkan untuk langsung bekerja. Penulis tergelitik menganalisis pendek “Jangan-jangan, lulusan SMA (meski tidak punya hard skill seperti anak SMK) yang terpaksa langsung kerja, soft skill dan karakternya lebih bagus dan menjadi dambaan IDUKA (Industri dan Dunia Kerja)? Tentu saja “Jangan-jangan” itu bisa menjadi hipotesa bagi sebuah rencana penelitian untuk menjawab rumusan masalah yang sengkarut ini.

Penting bagi pejuang pendidikan SMK untuk memahami angin perubahan yang kencang dan tak terduga, bahwasanya pada era disrupsi saat ini, dunia kerja telah mengalami banyak perubahan. Otomatisasi dan kecerdasan buatan mulai menggantikan pekerjaan-pekerjaan yang bersifat rutin dan repetitif. Hal ini menuntut para pekerja untuk memiliki soft skill yang mumpuni agar dapat bersaing dan beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Akan tetapi, lulusan SMK sebagai pilar utama pencetak tenaga kerja siap pakai, dihadapkan pada kenyataan bahwa kompetensi teknis yang mereka miliki harus sejalan dengan karakter dan soft skill yang baik (Astina, 2024). Pada banyak kasus, kegagalan lulusan SMK dalam beradaptasi di dunia kerja bukan karena kurangnya kemampuan teknis, tetapi lebih kepada kesiapan soft skill dan karakter kerja yang belum memadai.

Selaras dengan Astina (2024), Ruiz et al (2024) juga menegaskan bahwa soft skill mencakup berbagai aspek non-teknis seperti komunikasi, kerja tim, kepemimpinan, etika, dan adaptabilitas sebagai kunci untuk meraih kesuksesan di dunia kerja, bahkan lebih berpengaruh daripada hard skill dalam jangka panjang.

Pendidikan vokasi seperti SMK sering kali lebih menekankan pada kompetensi teknis, sehingga penting untuk mengintegrasikan penguatan soft skill agar lulusan dapat lebih bersaing di pasar kerja. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya penguasaan soft skills seperti komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, meningkatkan personal branding, dan kemampuan memecahkan masalah (Goleman, 2020). 

Penting juga bagi siswa SMK, membangun citra diri yang positif sejak dini adalah bekal yang krusial untuk bisa diterima di dunia kerja. Proses ini membantu siswa untuk mengenali potensi diri mereka dan menyiapkannya dalam bentuk presentasi yang menarik bagi calon pemberi kerja. Dunia kerja saat ini memerlukan individu yang tidak hanya sekadar mengikuti prosedur, tetapi juga mampu memberikan solusi dan kontribusi yang lebih.  Mentalitas inovatif dan inisiatif adalah tanda bahwa seseorang siap untuk berkembang (Metris, Rahayu,et al.,2025). Goleman (2020) menekankan betapa pentingnya kecerdasan emosional dalam membangun motivasi intrinsik, yang menjadi dasar bagi munculnya perilaku ekstra, seperti memberikan usaha   lebih   dari   yang   diharapkan (extra mile behavior).

Langkah strategis yang harus konsisten dilakukan para pejuang Pendidikan SMK adalah melaksanakan metode pembelajaran berbasis proyek, diskusi kelompok, dan simulasi dunia kerja karena telah terbukti efektif dalam mengembangkan soft skills (Setiawan, 2021; Hidayati & Prasetyo, 2022). Selain itu, World Economic Forum (2020) menyoroti pentingnya kreativitas, adaptabilitas, dan kemampuan berpikir kritis di era industri 4.0. Maka dari itu, kurikulum SMK harus disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan industri dan selaras dengan tuntutan 6C dalam pembelajaran abad 21 yakni; Critical Thinking and problem solving, Creativity, Collaboration, Communication, Character, dan Citizenship. Lantas bagaimana strategi penguatan pendidikan karakter di sekolah?

Pendidikan karakter sebaiknya direncanakan dengan merumuskan dalam kurikulum, menerapkan dengan metode pendidikan, dan dipraktikkan dalam proses pembelajaran. Implementasi pendidikan karakter dalam proses belajar mengajar di SMK harus terintegrasi dengan semua mata pelajaran yang diprogram untuk peserta didik.

Guru sebaiknya memiliki tanggung jawab terhadap peserta didik terutama bidang pendidikan karakter. Dengan demikian tidak ada alasan bahwa membentuk karakter hanya dibebankan pada mata pelajaran dan guru tertentu. Setiap dosen memiliki kewajiban membentuk kepribadian, sikap, dan internalisasi nilai-nilai karakter.

Pendidikan karakter tidak sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, karena keberhasilan sebuah sekolah tidak hanya membangun kompetensi peserta didik  melalui transfer of knowledge namun juga dengan transfer of attitude and values, sehingga menghasilkan output yang memiliki intelektual tinggi sekaligus karakter yang baik.

Konsep Pendidikan karakter secara terprogram dengan sebuah strategi yang mumpuni seperti halnya yang disampaikan oleh Christian Heri (2016) yakni melalui strategi moral knowing, moral knowing, moral modelling, moral feeling and loving, moral acting, punishment, dan habituasi (pembiasaan). Hendaknya diterapkan di setiap SMK hingga peserta didik memiliki satu kesatuan karakter baik yang tak terpisahkan (knowing, feeling, and acting) dalam kehidupan keseharianya. 

Akhirnya, para pejuang dunia SMK harus jenggirat tangi, segera bangkit dan langsung bergerak berdampak bagaimana membangun wajah baru lulusan SMK adalah motor penggerak ekonomi bangsa. Sangat disayangkan jika potensi besar dengan hard skill yang sakti mandraguna namun harus terganjal oleh perkara ketidakmampuan mengendalikan emosi atau ketidakpahaman cara berkomunikasi yang santun (soft skill) dan mempunyai karakter yang membanggakan.

Jangan sampai jimat paling sakti ini terlupakan, hingga akhirnya kita hanya mencetak lulusan yang mahir mengoperasikan mesin, namun gagap menjadi manusia yang merdeka, baik secara fisik, mental, maupun spiritual seperti wasiat Ki Hajar Dewantara.

 

*) Penulis adalah Kepala SMK Negeri 3 Bondowoso.

Editor : Sidkin
#Soft skill #hard skill #lulusan smk #jimat #smk