PTKIN, Alumni, dan Episentrum Gerakan Ekospiritual, Opini oleh Prof M. Khusna Amal, Warek I UIN KHAS Jember

Sidkin • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 07:00 WIB
Prof M. Khusna Amal, Warek I UIN KHAS Jember
Prof M. Khusna Amal, Warek I UIN KHAS Jember

 

DUNIA dihadapkan pada berbagai krisis global, mulai dari pemanasan global hingga kesenjangan ekonomi. Isu inilah yang menjadi tajuk utama dalam Seminar Nasional Rekonstruksi Islam untuk Membangun Dunia Baru, bagian dari rangkaian Rakernas Forum Nasional Ikatan Alumni PTKIN yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta, pada 13–15 Juli 2026, dengan mengangkat tema besar "Respons Agama terhadap Krisis Lingkungan dan Kesenjangan Sosial."

Selama ini krisis lingkungan dan kesenjangan sosial kerap dipandang sebagai dua persoalan yang berbeda. Kerusakan lingkungan dianggap sebagai urusan kebijakan dan teknologi, sedangkan ketimpangan sosial dipahami sebagai persoalan ekonomi. Padahal, apabila ditelaah lebih mendalam, keduanya memiliki akar persoalan yang sama, yakni krisis moral dan krisis batin manusia.

Salah satu perspektif yang menarik datang dari ajaran Buddha. Dalam ajaran tersebut, tak ada tindakan yang berdiri sendiri. Setiap perbuatan tunduk pada hukum sebab-akibat (Pratītyasamutpāda), sehingga setiap tindakan pada akhirnya akan kembali kepada pelakunya. Akar dari berbagai persoalan kehidupan dijelaskan melalui tiga sumber kejahatan (three poisons), yaitu lobha (ketamakan), dosa (kebencian), dan moha (kebodohan batin). Ketiganya merupakan sumber penderitaan (dukkha) sekaligus pendorong utama lahirnya tindakan-tindakan yang merusak, baik melalui pikiran, ucapan, maupun perbuatan.

Dalam kehidupan modern hari ini, eksploitasi sumber daya alam dan meningkatnya kesenjangan sosial merupakan manifestasi nyata dari tiga akar persoalan tersebut. Ketidakadilan struktural dalam sistem ekonomi-politik, tata kelola kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat, hingga praktik kapitalisme yang tidak terkendali merupakan bentuk-bentuk keserakahan yang mengabaikan kearifan lokal, nilai-nilai moral, serta keberlanjutan ekologis demi mengejar pertumbuhan ekonomi semata.

Karena itu penyelesaian krisis lingkungan dan persoalan sosial tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan saintisme, yaitu pandangan yang menjadikan sains sebagai satu-satunya ukuran kebenaran dan diterapkan secara kaku dalam perumusan kebijakan. Pendekatan ilmiah tetap penting, tetapi harus dilengkapi dengan kesadaran ekologis yang bertumpu pada transformasi batin sebagai fondasi perubahan perilaku manusia.

Pandangan tersebut sejalan dengan pemikiran Carl Gustav Jung (1875–1961), psikiater asal Swiss, yang mengatakan, "When we take care of ourselves, we take care of the world." Ketika manusia mampu merawat dirinya sendiri, sesungguhnya ia juga sedang merawat dunia. Gagasan tersebut juga selaras dengan seruan Menteri Lingkungan Hidup, Muhammad Jumhur Hidayat, dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup pada Sabtu (6/6), yang mengajak seluruh elemen bangsa melakukan tobat ekologis sebagai bentuk tanggung jawab bersama terhadap kelestarian bumi.

Transformasi batin tersebut kemudian harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Gerakan zero waste, misalnya, mendorong masyarakat meminimalkan produksi sampah agar tidak berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), sehingga tumbuh rasa tanggung jawab terhadap lingkungan yang lahir dari kesadaran akan keterhubungan manusia dengan alam. Demikian pula budaya mindful consumption, yakni kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan, merupakan latihan batin yang mampu menahan laju ketamakan sebelum berkembang menjadi kerusakan ekologis yang lebih besar.

PTKIN: Aktor Gerakan Ekospiritual

Gagasan ekospiritual melalui transformasi batin tidak boleh berhenti pada ranah personal. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan menjadi gerakan kolektif melalui kelembagaan, kebijakan, pendidikan, riset, dan praktik sosial yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) memiliki posisi yang sangat strategis.

Potensi PTKIN dalam menjawab tantangan zaman tidak perlu diragukan. Berbagai inovasi pendidikan keagamaan terus dikembangkan tanpa meninggalkan nilai-nilai moral dan kearifan lokal, seperti penguatan program Ma'hadisasi, pengembangan program Double Degree dan Fast Track, hingga reformulasi program studi agar semakin adaptif terhadap dinamika global.

Hasil penguatan tersebut tercermin dari capaian alumninya. Dari estimasi sekitar 3,2 juta alumni PTKI, sebanyak 657.536 alumni tercatat dalam data tracer study, dengan tingkat serapan lulusan di dunia kerja mencapai 95,1 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa PTKIN tidak hanya berhasil melahirkan lulusan yang kompeten, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Komitmen PTKIN terhadap keberlanjutan lingkungan juga mulai memperoleh pengakuan. Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung berhasil menempati peringkat ke-10 nasional dan masuk 59 besar dunia dalam UI GreenMetric. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa PTKIN mampu bersaing dalam mewujudkan tata kelola kampus yang berwawasan lingkungan sekaligus menjadi contoh implementasi pembangunan berkelanjutan di lingkungan pendidikan tinggi.

Lebih dari itu PTKIN memiliki modal teologis yang khas untuk menjadi pelopor gerakan ekospiritual. Dalam ajaran Islam dikenal konsep khalifah fil ardh, yaitu manusia sebagai pemelihara bumi; mizan, yakni prinsip keseimbangan; serta larangan israf, yaitu perilaku berlebihan atau pemborosan. Ketiga konsep tersebut menjadi fondasi etis sekaligus spiritual dalam merespons krisis ekologi dan kesenjangan sosial. Dengan modal akademik, moral, dan teologis tersebut, PTKIN bersama jutaan alumninya memiliki peluang besar menjadi episentrum gerakan ekospiritual di Indonesia.

Menjernihkan Batin, Merawat Bumi

Menjaga bumi bukanlah agenda yang terpisah dari perjuangan mewujudkan keadilan sosial. Keduanya berangkat dari titik yang sama, yaitu kesediaan manusia untuk terlebih dahulu menjernihkan batinnya sebelum berupaya merawat diri, sesama, dan alam. Ketika batin telah dibebaskan dari ketamakan, kebencian, dan kebodohan, tindakan yang lahir darinya akan lebih adil terhadap lingkungan, lebih bijaksana dalam memanfaatkan sumber daya, serta lebih penuh kasih kepada sesama.

Pesan tersebut menemukan relevansinya baik dalam ajaran Buddha maupun Islam. Keduanya sama-sama menempatkan manusia sebagai makhluk yang bertanggung jawab atas setiap tindakan yang dilakukan, termasuk dalam memperlakukan alam. Oleh karena itu, krisis lingkungan tidak cukup diatasi dengan kebijakan teknis semata, melainkan juga melalui pembentukan karakter, penguatan etika, dan pembangunan kesadaran spiritual.

Kiprah PTKIN beserta jutaan alumninya membuktikan bahwa nilai-nilai keagamaan, ketika diterjemahkan secara sungguh-sungguh ke dalam sistem pendidikan, kelembagaan, dan pengabdian kepada masyarakat, memiliki potensi besar untuk melahirkan perubahan nyata. Di sanalah letak harapan kita. Jika krisis yang kita hadapi berakar dari batin manusia, maka perubahan sejati pun harus dimulai dari sana.

Setiap pikiran yang dijernihkan, setiap kebijakan yang berkeadilan, dan setiap tindakan yang berpihak pada kelestarian alam akan menjadi fondasi bagi lahirnya peradaban yang lebih adil, berkelanjutan, dan berkeadaban. Dengan demikian, PTKIN bersama alumninya tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu keislaman, tetapi juga episentrum gerakan ekospiritual yang menjawab tantangan zaman.

*) Penulis adalah Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN KHAS Jember.

Editor : Sidkin
ekospiritual krisis PTKIN alumni kebijakan