PERINGATAN Hari Anak Nasional (HAN) memberi ruang refleksi bagi keluarga, masyarakat, dan pemangku kebijakan untuk menilai kembali kualitas pengasuhan anak. Anak tumbuh dalam keluarga, tetapi perkembangan mereka dibentuk pula oleh lingkungan sosial, nilai budaya, kebijakan publik, serta layanan kesehatan dasar. Dalam konteks Kabupaten Jember, pembahasan mengenai pengasuhan anak perlu membaca kekhasan masyarakat Pandalungan, yakni perjumpaan kultural Jawa dan Madura yang membentuk corak relasi sosial, bahasa, nilai keluarga, serta praktik pengasuhan sehari hari.
Posyandu memiliki posisi strategis dalam lanskap tersebut. Selama beberapa dekade, Posyandu dikenal melalui penimbangan balita, pemantauan tumbuh kembang, imunisasi, pemberian makanan tambahan, penyuluhan gizi, serta pelayanan kesehatan ibu dan anak. Namun, peran Posyandu dapat diperluas sebagai agen perubahan pola asuh berbasis budaya lokal. Posyandu berada dekat dengan keluarga, dikelola oleh kader yang mengenal warga, dan bekerja melalui hubungan sosial yang relatif akrab berbasis kepercayaan, bukan sekadar instruksi teknis.
Salah satu pendekatan yang patut mendapat perhatian adalah etnoparenting, yaitu pola pengasuhan anak yang berakar pada nilai, norma, dan kearifan budaya lokal. Pendekatan tersebut memberi ruang bagi praktik lokal yang mendukung kesehatan, perlindungan, pendidikan karakter, serta perkembangan anak. Pada saat yang sama, etnoparenting memerlukan pembacaan kritis agar nilai budaya selaras dengan prinsip hak anak, kesetaraan, keamanan, dan ilmu kesehatan mutakhir. Dengan demikian, etnoparenting bukan romantisasi tradisi, melainkan upaya menafsirkan warisan budaya secara adaptif demi kepentingan anak.
Pada masyarakat Jawa–Madura, etnoparenting bukan sekadar cara membesarkan anak, melainkan sebuah proses pendidikan kehidupan yang dimulai sejak seorang anak masih berada dalam kandungan. Berbagai tradisi seperti mitoni atau tingkeban (tujuh bulanan kehamilan), doa bersama, pembacaan nilai-nilai keagamaan, hingga anjuran menjaga pola makan dan perilaku ibu hamil merupakan bentuk perhatian masyarakat terhadap kesehatan ibu dan janin. Meskipun beberapa unsur bersifat simbolis, esensi yang terkandung adalah harapan agar ibu menjalani kehamilan dengan tenang, memperoleh dukungan sosial, dan melahirkan generasi yang sehat.
Setelah bayi lahir, masyarakat Jawa–Madura mengenal berbagai tradisi seperti pemberian nama yang sarat makna, aqiqah, selapanan, hingga tedhak siten. Tradisi tersebut bukan sekadar seremoni budaya, melainkan menjadi media mempererat hubungan keluarga, memperkuat dukungan sosial, serta menanamkan nilai kasih sayang, tanggung jawab, dan rasa syukur kepada orang tua. Dukungan emosional yang kuat dari keluarga besar terbukti menjadi salah satu faktor penting menciptakan lingkungan tumbuh kembang anak yang sehat.
Etnoparenting juga mengajarkan pentingnya pembiasaan hidup sehat melalui aktivitas sehari-hari. Orang tua mengenalkan anak pada makanan lokal yang bergizi, seperti sayuran hijau, umbi-umbian, ikan, tempe, dan berbagai olahan pangan tradisional yang kaya zat gizi. Anak-anak dibiasakan bermain di luar rumah, menghormati orang yang lebih tua, bergotong royong, menjaga kebersihan lingkungan, serta hidup sederhana. Nilai-nilai tersebut selaras dengan prinsip kesehatan masyarakat modern yang menekankan pentingnya gizi seimbang, aktivitas fisik, kesehatan mental, dan lingkungan yang sehat.
Pada titik tersebut, Posyandu berperan sebagai penerjemah budaya. Kader Posyandu dapat menghubungkan pesan kesehatan dengan bahasa sosial yang dipahami warga. Penyuluhan mengenai gizi, stimulasi perkembangan, kesehatan mental anak, pencegahan stunting, pengasuhan tanpa kekerasan, dan kebersihan lingkungan akan mudah diterima bila disampaikan melalui contoh yang dekat dengan pengalaman keluarga.
Peran Posyandu sebagai agen perubahan juga memerlukan penguatan kapasitas kader. Kader perlu dibekali pengetahuan mengenai perkembangan anak, komunikasi perubahan perilaku, konseling dasar, deteksi dini masalah tumbuh kembang, serta pemahaman mengenai hak anak. Di wilayah dengan keragaman bahasa dan budaya, kader juga perlu menguasai pendekatan komunikasi yang sensitif budaya.
Selain kader, keluarga perlu diposisikan sebagai subjek perubahan. Ibu kerap menjadi sasaran utama program pengasuhan, padahal ayah, kakek, nenek, tokoh agama, guru ngaji, guru PAUD, dan tetangga memiliki pengaruh besar dalam kehidupan anak. Dalam tradisi Jawa-Madura di Jember, keluarga luas dan jejaring sosial kampung berperan kuat dalam pengambilan keputusan.
Oleh karena itu, Posyandu perlu mengembangkan forum belajar keluarga yang melibatkan ayah dan anggota keluarga lain. Materi pengasuhan dapat mencakup pemberian makan bayi dan anak, pembiasaan hidup bersih, permainan edukatif, pembatasan gawai, disiplin positif, pencegahan kekerasan, serta kesiapan anak memasuki pendidikan dasar.
Pendekatan etnoparenting juga relevan untuk menghadapi tantangan pengasuhan era digital. Banyak keluarga menghadapi perubahan pola komunikasi, paparan gawai, tekanan ekonomi, serta berkurangnya waktu interaksi anak dengan orang tua. Tradisi bercerita, tembang, doa keluarga, permainan rakyat, kerja bersama, dan kebiasaan menyapa tetangga dapat dimanfaatkan sebagai media stimulasi bahasa, sosial, motorik, dan moral.
Posyandu dapat menghidupkan kembali praktik baik tersebut melalui kelas orang tua, pojok bermain, demonstrasi makanan lokal bergizi, serta kampanye pengasuhan ramah anak. Dalam kerangka kebijakan, Posyandu perlu ditempatkan sebagai pusat layanan berbasis komunitas yang terintegrasi. Pemerintah daerah, puskesmas, desa, TP PKK, lembaga pendidikan anak usia dini, tokoh masyarakat, dan perguruan tinggi dapat berkolaborasi menyusun modul pengasuhan berbasis etnoparenting Jawa Madura khas Jember.
Hari Anak Nasional menjadi momentum untuk menegaskan bahwa masa depan anak Jember memerlukan pengasuhan yang sehat, berbudaya, dan berkeadilan. Posyandu dapat bergerak dari ruang layanan rutin menuju ruang transformasi sosial. Melalui kader yang terlatih, keluarga yang dilibatkan, dan budaya lokal yang ditafsirkan secara kritis, Posyandu mampu memperkuat pola asuh yang menghargai anak sebagai pribadi bermartabat.
*) Penulis adalah Penyuluh Kesehatan Masyarakat UPTD Puskesmas Jelbuk.
Editor : Sidkin