MEMASUKI minggu kedua bulan Juli, saya sendiri yang merasakan dada rasanya penuh sesak. Andaikan tega untuk menjerit maka mulut saya pun akan menjerit sejadi-jadinya. Tapi mulut malah tersenyum lebar sebagai penghias kehancuran hati seorang ibu yang melepas anaknya setelah dipasrahkan ke ndalem (istilah rumah untuk pengasuh pesantren). Menunjukkan ketegaran kepada anak saat berpisah merupakan salah satu cara agar sang anak pun rela melepas semua bentuk kebahagiaan selama berada di rumah, dan menggantinya dengan rutinitas amaliyah yaumiyah di pesantren. Apakah hatinya tidak hancur? Tentu saja hancur. Tetapi, kehancuran hati bukanlah tujuan melainkan awal untuk sebuah perjuangan menuju kesuksesan dunia akhirat.
Pertengahan bulan Juli merupakan awal semester ganjil dalam tahun ajaran di semua jenjang pendidikan. Di bulan ini siswa di awal jenjang (selain ke perguruan tinggi) akan merasakan hal yang berbeda dari jenjang sebelumnya. Dari SD/MI ke SMP/MTs dan dari SMP/MTs ke SMA/MA/SMK. Pada jenjang ini tak sedikit siswa yang harus rela meninggalkan rumah untuk merantau ke tempat yang lebih jauh demi menuntut ilmu. Meskipun masih banyak juga siswa yang tetap berangkat sekolah dari rumah masing-masing.
Salah satu yang dilakukan orang tua jika tempat sekolahnya jauh dari tempat tinggalnya adalah meletakkan anaknya di rumah saudara, rumah teman, tempat kos, di ma’had, bahkan di pesantren. Pesantren sebagai salah satu tempat tinggal selama menempuh pendidikan kini mulai dilirik masyarakat luas. Berdasarkan data Kementerian Agama Republik Indonesia, jumlah santri yang terdaftar secara nasional tahun ajaran 2025/2026 mencapai 1,37 juta hingga 2,5 juta santri. Angka tersebut tersebar di lebih dari 42.300 pesantren yang aktif di seluruh Indonesia.
Ada beberapa alasan mengapa orang tua meletakkan anaknya di pesantren. Pertama: pendidikan agama yang komprehensif: anak mendapatkan pembelajaran ilmu agama secara mendalam, mulai dari membaca Alquran, fiqih, hadis, hingga akidah yang benar-benar dari para kiai dan ustad yang mumpuni. Ilmu umum juga tetap didapatkan di pesantren sehingga ilmu agama dan umum akan tetap seimbang. Kedua, pembentukan karakter (akhlakul karimah): pesantren membentuk akhlak yang berdasarkan iman dan Islam yaitu kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, dan kesederhanaan melalui kehidupan berasrama yang teratur.
Ketiga, melatih kemandirian dan sosial: tinggal di pesantren memaksa anak untuk mengurus keperluannya sendiri, mengatur waktu, dan hidup rukun bersama teman dari berbagai latar belakang yang berbeda. Keempat, perlindungan dari pengaruh negatif: pesantren dengan aturannya yang ketat merupakan tempat yang tepat untuk melawan pengaruh negatif pergaulan bebas dan kecanduan gadget. Kelima, keterbatasan waktu dan orang tua: Orang tua yang sibuk mencari nafkah akan merasa aman dan nyaman jika menitipkan anaknya di pesantren karena pengawasan dan pembinaan akan tetap berjalan normal.
Pesantren tidak selalu berdiri kokoh dengan nama baiknya. Ada saja ujian demi ujian yang merongrong kekuatan nama pesantren. Di tengah semakin marak dan mudahnya informasi lewat media digital, kasus demi kasus di pesantren semakin terkuak meskipun pada akhirnya pesantren tersebut tetap bisa mempertahankan nama baik dan tetap aman di hati para wali santri dan alumninya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua jika akan memilah dan memilih pesantren, yaitu: periksa akidah dan sanad keilmuan, cek legalitas pesantren dan izin operasional, kenali sistem dan tipe pendidikan, tinjau lingkungan dan fasilitas, sesuaikan dengan minat dan psikologis anak, dan pertimbangkan biaya serta lokasi.
Pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama saja. Di dalamnya terdapat kegiatan-kegiatan yang khas dan unik yang membentuk ikatan kuat kebersamaan para santri, yaitu: makan biasanya dilakukan secara bersama-sama dalam satu wadah besar atau lebar, muhadharah (latihan pidato) yang dilakukan secara bergantian dan berkala untuk mengasah kemampuan mental dan keilmuan santri dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris, ro’an (kerja bakti) merupakan kegiatan gotong-royong membersihkan lingkungan pondok, murojaah melingkar merupakan halaqah kecil untuk melakukan setoran dan menghafal Alquran secara bergantian, Bilingual Camp dengan menggunakan tiga bahasa dalam kehidupan sehari-hari yaitu bahasa Indonesia, Arab, dan Inggris, dan kajian kitab yang dilakukan terjadwal setiap harinya.
Kegiatan santri belajar bukan hanya saat sekolah saja tetapi 1x24 jam. Saat anak yang lain tertidur pulas, mereka harus bangun sujud bertafakur di sepertiga malam. Saat anak yang lain bisa makan dan ngopi di hari Senin/Kamis, mereka harus melakukan puasa sunah. Dan, itu dilakukan oleh seluruh santri di pesantren tersebut tanpa pandang bulu latar belakang santri. Kaya dan miskin semua melakukan hal yang sama. Sama-sama harus melakukan rutinitas yang erat kaitannya dengan pesantren.
Ada beberapa rutinitas yang kadang dianggap sebelah mata oleh beberapa kalangan tertentu yaitu: antre mandi dan antre makan. Para santri harus rela mengantre untuk kebutuhannya. Tak jarang antrean tersebut harus mengular panjang. Di sinilah kesabaran dan keikhlasan para santri diuji. Mereka harus benar-benar sabar dan disiplin waktu agar semua aktivitas di pondok dapat dijalankan dengan lancar.
Hal yang terpenting yang didapat dari pesantren adalah ngalap berkah sang kiai. Orang tua akan rela melepas anaknya untuk masuk ke pesantren dengan harapan si anak mendapatkan berkah ilmu dan berkah umur untuk kesuksesan dunia akhirat mereka di masa yang akan datang. Wallahu ‘a’lam bishawab.
*) Penulis adalah guru Bahasa Indonesia di MAN Lumajang.
Editor : Sidkin