JFC: Menagih Tanggung Jawab Tema HEAL, Opini oleh Warjito Abing Slamet, Mahasiswa Politeknik Negeri Jember

Sidkin • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 07:00 WIB
Warjito Abing Slamet, Mahasiswa Politeknik Negeri Jember
Warjito Abing Slamet, Mahasiswa Politeknik Negeri Jember

 

PANGGUNG catwalk jalanan sepanjang 3,6 kilometer di Jember telah rampung. Riuh rendah tepuk tangan penonton perlahan surut, menyisakan jejak kemegahan perhelatan Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 yang dihadiri lebih dari lima puluh ribu pengunjung dari berbagai penjuru dunia. PT KAI Daop 9 Jember bahkan mencatat lebih dari 37.000 orang menggunakan layanan kereta api yang datang ke Jember hanya dalam kurun waktu dua hari pelaksanaan (24–25 Juli 2026) saja. Lonjakan pengunjung yang datang ke Jember juga turut mendongkrak perekonomian masyarakat, utamanya pelaku UMKM.

Tahun ini, JFC tampil membetot perhatian lewat pilihan tema yang agung: HEAL: Humanity, Earth, and Life. Melalui defile kolosal yang menggambarkan kisah pemulihan alam dan hubungan manusia dengan bumi, JFC bertransformasi menjadi sebuah panggung manifesto moral. Pesan utamanya jelas: mengajak publik merangkul kesadaran ekologis di tengah krisis iklim global.

Tema ini menegaskan bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menjadi agen perubahan dalam menghadapi berbagai tantangan global, seperti perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan eksploitasi sumber daya alam. Melalui konsep eco-fashion, JFC 2026 mendorong terciptanya karya-karya busana yang tidak hanya memiliki nilai estetika tinggi, tetapi juga mengedepankan kepedulian terhadap lingkungan melalui penggunaan material ramah lingkungan, pemanfaatan bahan daur ulang, dan pelestarian kekayaan budaya Indonesia.

Namun, di balik gegap gempita jutaan pasang mata yang terpukau oleh kostum megah, ada pemandangan lain yang konsisten mengiringi pesta akbar ini setiap tahunnya: lautan manusia yang beririsan langsung dengan timbunan residu sampah di ruang-ruang publik. Pada perhelatan JFC di tahun-tahun sebelumnya (seperti tahun 2023 dan 2024), total tumpukan sampah yang berhasil dikumpulkan oleh petugas kebersihan selama tiga hari pelaksanaan tercatat berada di kisaran 11,5 hingga 11,7 ton. Dengan jumlah kunjungan massa yang meningkat di tahun 2026 ini, volume sampah sisa konsumsi makanan, minuman, dan kemasan plastik di sepanjang rute karnaval mengalami peningkatan signifikan yang dipicu oleh tingginya mobilitas penonton serta aktivitas kuliner UMKM di sekitar lokasi.

Lalu, k emanakah hasil sampah yang diperkirakan berton-ton dihasilkan JFC tahun ini? Berdasarkan penelusuran penulis, hampir seluruh sampah dilarikan ke TPA Pakusari. Hal ini dilakukan mengingat hasil dari limbah pengunjung yang datang mayoritas adalah plastik sisa wadah makan dan minuman. Tindakan ini tidak sejalan dengan tema HEAL yang diusung dalam gelaran JFC, yang menggambarkan kisah pemulihan alam dan hubungan manusia dengan bumi.

Dengan hadirnya banyaknya sampah di tengah tema HEAL, mengingatkan kita bahwa sebagian besar kegiatan yang mengusung tema sejenis hanya sebagai formalitas saja. Tidak benar-benar menjalankan tema yang diusung, dibuktikan dengan adanya sampah yang berakhir di TPA dan tidak adanya hasil daur ulang ataupun keberlanjutan tema yang diusung.

Melalui pesan ini, penulis menagih tanggung jawab tema HEAL yang diusung JFC. Kita tentu patut mengapresiasi bagaimana pesan-pesan penyelamatan lingkungan dijahit rapi ke dalam lembaran kostum para talent. Sebagian elemen kreatif menunjukkan bahwa desainer memiliki kepedulian visual terhadap isu alam.

Mengusung akronim HEAL menuntut konsekuensi moral yang lebih radikal dari manajemen penyelenggara, pemerintah daerah, maupun masyarakat penonton. Kata "penyembuhan" (healing) kehilangan akurasinya jika ia berhenti pada level estetika kostum atau tata panggung teatrikal semata, sementara tata kelola sampah pasca-acara masih berjalan secara konvensional. Ujian sesungguhnya dari sebuah event berkapasitas raksasa bukanlah apa yang tampak di atas panggung utama, melainkan apa yang tertinggal di balik panggung ketika lampu sorot padam.

JFC adalah kebanggaan kita bersama. Justru karena kecintaan kita pada JFC inilah, pesan ini dilayangkan. Tema HEAL telah sukses memukau dunia lewat cerita pemulihan bumi di Jember. Kini, tantangan terbesarnya adalah membuktikan bahwa narasi pemulihan itu benar-benar dimulai dari kita sebagai penyelenggara, pemerintah daerah, maupun masyarakat. Apakah penyelenggara betul-betul bertanggung jawab atas tema yang diusung, apakah pemerintah daerah dan masyarakat betul-betul mendukung dengan tema yang telah selesai dilaksanakan, ataukah tema ini hanya sebagai embel-embel narasi gerakan menyelamatkan bumi tetapi tidak ada gerakan nyata?

Melalui pesan ini, penulis menyarankan agar Pemerintah Daerah Jember untuk belajar dari berbagai daerah yang berhasil mengubah persoalan sampah menjadi peluang ekonomi sekaligus wujud nyata kepedulian terhadap lingkungan. Salah satu contohnya adalah Purwokerto, yang mampu membangun sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan, daur ulang, dan pemberdayaan masyarakat sehingga sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya yang bernilai.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan acara berskala besar seperti Jember Fashion Carnaval tidak cukup hanya menyampaikan pesan pelestarian lingkungan melalui tema dan pertunjukan, tetapi juga harus diwujudkan melalui sistem pengelolaan sampah yang terencana, berkelanjutan, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Dengan demikian, semangat HEAL: Humanity, Earth, and Life tidak berhenti sebagai narasi di atas panggung, melainkan menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan keberlanjutan Jember di masa depan.

 

*) Penulis adalah Mahasiswa Semester 5 Jurusan Bisnis Politeknik Negeri Jember.

Editor : Sidkin
Opini Radar Jember Tema Heal JFC 2026 lingkungan jfc