Membumikan Kredo Kampus Berdampak, Opini oleh Sukidin, Akademisi FKIP Unej

Sidkin • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 07:00 WIB
Sukidin
Sukidin

 

KETIKA berdiri perguruan tinggi didesain untuk menghasilkan generasi yang cerdas, berintegritas dan berkualitas. Perguruan tinggi memiliki misi suci sebagai episentrum ruang peradaban ilmu pengetahuan. Di perguruan tinggi, mahasiswa diberi kesempatan berkembang daya nalar kritisnya, nilai-nilai kemanusiaan sebagai standar etika, dan memberi rumusan solusi berbagai persoalan masyarakat.

Namun di era perubahan zaman yang sangat dinamis, perguruan tinggi justru mengalami pendangkalan orientasi. Perguruan tinggi terjebak dalam pragmatisme peran, yaitu hanya melakukan rutinitas administratif dan orientasi capaian formal. Tujuan mahasiswa kuliah mengalami reduksi yaitu  hanya berharap segera lulus dan mendapatkan pengakuan akademik atau profesional dengan memperoleh ijazah atau sertifikasi kompetensi.

Saat ini perguruan tinggi berposisi bak menara gading. Mahasiswa dan dosen disibukkan dengan mempelajari ilmu pengetahuan yang berbasis teori, namun miskin praktik. Ilmu yang ditekuni belum secara ramah menyentuh problem mendasar kehidupan masyarakat. Dihadapkan pada fenomena ini, maka dipandang  perlu dihadirkan pandangan baru tentang peran perguruan tinggi di masyarakat. Kredo kampus berdampak yang digagas  Kemendiktisaintek merupakan ide cemerlang yang perlu direspon dan ditindaklanjuti dengan praktik nyata. Sampai saat ini gagasan kampus berdampak belum menjadi gerakan kolektif bagi perguruan tinggi di Indonesia.

Gagasan tersebut bukan sekadar slogan atau program sesaat, melainkan sebuah perubahan cara pandang bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari  yang dihasilkan di dalam ruang kelas atau laboratorium, tetapi juga dari perubahan nyata yang mampu dihadirkan bagi kehidupan masyarakat. Tradisi  ilmu pengetahuan harus bergerak keluar dari tembok kampus dan menjadi kekuatan yang menyelesaikan persoalan sosial, ekonomi, budaya, dan etika lingkungan.

Dalam konteks tersebut, yang perlu dibangun bukan hanya sebuah program kampus berdampak, melainkan sebuah kredo. Kredo merupakan keyakinan dasar yang menjadi kompas dalam berpikir dan bertindak. Ia bukan sekadar kalimat indah yang terpampang di dinding kampus, tetapi nilai yang hidup dalam setiap aktivitas akademik. Ketika kampus berdampak menjadi kredo, maka seluruh civitas academica memiliki kesadaran kolektif bahwa setiap pembelajaran, penelitian, maupun pengabdian harus bermuara pada kemaslahatan masyarakat. Kampus berdampak harus menjadi gerakan bersama civitas academica, itulah kredo.

Sayangnya, masih terdapat kesenjangan antara dunia akademik dan realitas sosial. Banyak hasil penelitian berhenti menjadi laporan, skripsi, tesis, disertasi, atau artikel jurnal tanpa pernah diterapkan secara luas di masyarakat. Tagihan kinerja masih terbatas pada produk karya dosen dan mahasiswa, belum berlanjut berdampak pada kehidupan masyarakat. Itulah kelemahan mendasar peran perguruan tinggi selama ini. Padahal,  masyarakat sering menghadapi persoalan yang sesungguhnya dapat diselesaikan melalui pendekatan ilmiah. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa ilmu belum sepenuhnya membumi. Kampus sering berkomunikasi dalam bahasa akademik, sementara masyarakat membutuhkan solusi yang sederhana, aplikatif, dan memungkinkan diimplementasikan di masyarakat.

Membumikan kredo kampus berdampak berarti menjadikan ilmu sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari di masyarakat. Penelitian tidak lagi berorientasi semata pada jumlah publikasi, tetapi juga pada kebermanfaatan hasilnya (aksiologis). Ilmu pengetahuan harus berkontribusi pada kesejahteraan umat manusia. Inovasi tidak berhenti sebagai prototipe, melainkan berkembang menjadi teknologi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tidak cukup dipahami sebagai ritual tahunan, tetapi harus menjadi proses pendampingan yang berkelanjutan (sustainability) sehingga masyarakat menjadi mandiri.

Perubahan paradigma tersebut juga harus dimulai dari ruang pembelajaran. Mahasiswa tidak cukup dibekali kemampuan menghafal teori, menyelesaikan soal ujian atau tugas di kelas . Mereka perlu diajak memahami persoalan nyata di lapangan melalui pembelajaran berbasis proyek, studi kasus, riset kolaboratif, maupun kegiatan pengabdian yang terintegrasi dengan mata kuliah. Mahasiswa harus belajar bahwa ilmu bukan hanya untuk memperoleh nilai, tetapi juga untuk menghasilkan dampak pada perubahan sosial. Itulah esensi pembelajaran mendalam.

Dosen memiliki peran strategis sebagai penggerak arus utama budaya kampus berdampak. Dosen tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga mentor, inovator, sekaligus mitra masyarakat. Perlu diperluas desa-desa binaan untuk dilakukan pendampingan agar masyarakat lebih berdaya. Keberhasilan seorang akademisi tidak semata-mata diukur dari jumlah publikasi scopus atau sitasi, melainkan juga dari kontribusinya dalam membangun ekosistem yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ketika penelitian menghasilkan inovasi yang dimanfaatkan oleh petani, nelayan, pelaku UMKM, atau sekolah, maka saat itulah ilmu menemukan makna otentiknya.

Pemerintah melalui berbagai kebijakan telah mendorong transformasi pendidikan tinggi agar lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Kampus berdampak harus dipahami sebagai gerakan kolektif yang melibatkan pimpinan perguruan tinggi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dunia usaha, pemerintah, hingga masyarakat sebagai mitra utama. Kolaborasi menjadi kata kunci dalam menghadapi persoalan bangsa semakin kompleks. Membumikan kredo kampus berdampak berarti membangun budaya refleksi.

Indonesia menghadapi tantangan besar, mulai dari transformasi digital, ketahanan pangan, perubahan iklim, ketimpangan pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Semua tantangan tersebut membutuhkan kontribusi nyata dari perguruan tinggi. Kampus memiliki sumber daya intelektual, jaringan keilmuan, serta generasi muda yang penuh kreativitas. Potensi besar tersebut akan bernilai apabila diarahkan untuk menghasilkan solusi yang relevan, berkelanjutan, dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pada akhirnya, membumikan kredo kampus berdampak bukan sekadar mengubah nama program atau menambah aktivitas pengabdian. Ada yang lebih penting yaitu mengubah cara berpikir seluruh civitas academica bahwa setiap ilmu memiliki tanggung jawab sosial. Kampus harus hadir bukan sebagai menara gading yang jauh dari realitas, melainkan sebagai rumah pengetahuan yang terbuka, responsif, dan mampu menjawab kebutuhan pada zamannya.

Ketika kredo ini benar-benar hidup dalam budaya akademik, perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat produksi dan reproduksi ilmu pengetahuan, tetapi juga pusat lahirnya harapan. Dari ruang kuliah lahir gagasan, dari laboratorium lahir inovasi, dan dari pengabdian lahir perubahan sosial. Pada titik kulminasi tersebut, kampus berdampak bukan sekadar menjadi ilusi, melainkan menjadi identitas yang membumi dan memberi manfaat nyata bagi masa depan penduduk bumi.

 

*) Penulis adalah Ketua Riset Group LEAD (Learning Innovation and Education) dan Koordinator Program Studi Magister Pendidikan IPS FKIP Universitas Jember.

Editor : Sidkin
Opini Radar Jember kampus berdampak mahasiswa perguruan tinggi dosen