Dialektika di Bawah Langit Pandalungan: Ketika Ide Menjadi Palu Thor, Opini Martin Rachmanto

Sidkin • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 07:00 WIB
Martin Rachmanto, Wakil Ketua DPC PDIP Jember
Martin Rachmanto, Wakil Ketua DPC PDIP Jember

 

DI Kabupaten Jember, sebuah panggung sedang digelar, bukan dengan gemerlap lampu sorot pertunjukan, melainkan dengan denting perdebatan yang tajam dan berdenyut. Dua aktor utama, Wakil Ketua DPRD Jember Widarto dan Bupati Jember Muhammad Fawait, berdiri berhadapan, membawa visi, dan mungkin harapan yang bertabrakan.

Ruang-ruang publik, dari warung kopi hingga linimasa media sosial, riuh rendah oleh suara-suara yang mendukung salah satu pihak, seringkali dengan emosi yang meluap-luap. Di sinilah letak ironi yang memikat, sekaligus mengkhawatirkan.

Sumbu ketegangan itu mewujud nyata dalam angka kuantitatif: pinjaman daerah sebesar Rp786,57 miliar ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Bagi Wakil Ketua DPRD Jember Widarto, angka tersebut adalah sebuah ancaman fiskal yang tak perlu.

Utang bukan satu-satunya jalan untuk membangun Jember. Ia dengan tangkas menunjukkan alternatif lain: optimalisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD), pemanfaatan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) yang cukup tebal, hingga pergeseran atau efisiensi belanja program di berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Termasuk di dalamnya adalah gagasan rasionalisasi anggaran untuk program-program seremonial, seperti efisiensi pos anggaran yang menopang program Bunga Desaku (Bupati Ngantor di Desa), agar dapat dialihkan langsung ke perbaikan infrastruktur rakyat tanpa menanggung beban bunga.

Namun, dari balik meja kepemimpinan eksekutif, Bupati Muhammad Fawait menepis diksi 'utang' dengan menghaluskannya sebagai "instrumen pembiayaan daerah" atau "dana talangan" percepatan.

Bagi Fawait, langkah ini bukan pertanda kas daerah yang kosong, melainkan bukti kapasitas fiskal Jember yang dipercaya oleh pemerintah pusat demi memacu percepatan pembangunan jalan dan fasilitas medis.

Di saat yang sama, ia tetap kukuh mempertahankan program mercusuar Bunga Desaku sebuah panggung interaksi langsung dengan warga desa. Program ini di mata pendukungnya adalah sarana keberpihakan, walau oleh sebagian kritikus kerap dibaca sebagai taktik politik panggung untuk memupuk simpati, merawat jaring partisan, dan memelihara modal sosial demi investasi elektoral mendatang.

Kita, sebagai penonton yang seringkali larut dalam sorak-sorai atau cemoohan, cenderung melihat pertarungan ini sebagai duel fana. Sebuah laga hidup mati, di mana satu pihak harus menang dan yang lain harus binasa. Politik, bagi sebagian besar dari kita, telah menjadi panggung teatrikal di mana nuansa dikesampingkan demi kejelasan hitam dan putih yang semu.

Namun, mari kita sejenak menepikan keriuhan itu. Mari kita mencoba melihatnya dengan mata seorang pengamat yang tenang, yang memahami bahwa di balik debu pertempuran yang membubung, ada sebuah gerak dialektika yang tak kasat mata.

Pertarungan ide antara Widarto dan Fawait, jika kita mau sedikit bersabar dan jernih melihatnya, bukanlah tentang ambisi pribadi yang egois, melainkan tentang pencarian jalan terbaik untuk kemajuan Kabupaten Jember.

Sebuah kabupaten yang kaya dengan keragaman budayanya seperti istilah Pandhalungan yang melekat padanya membutuhkan lebih dari sekadar persetujuan yang seragam. Ia membutuhkan gesekan, tantangan, dan, ya, pertarungan gagasan.

Seperti kata Nietzsche, "Kebenaran adalah sejenis kesalahan yang tanpanya jenis makhluk tertentu tidak bisa hidup." Dalam politik, kebenaran seringkali adalah titik temu dari berbagai pandangan yang berbeda, bahkan yang saling bertentangan. Melalui perdebatan yang sengit, gagasan-gagasan diuji, kelemahan-kelemahan disingkap, dan solusi-solusi baru yang lebih kuat muncul.

Soekarno, sang proklamator, memahami betul kekuatan perdebatan ini. Beliau pernah berkata, "Berikan aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia." Soekarno tidak hanya berbicara tentang jumlah, tetapi tentang api perdebatan, pertukaran energi, dan keinginan untuk menciptakan perubahan yang besar melalui kekuatan pikiran.

Masyarakat Jember, dalam keragaman dan semangat Pandhalungan-nya, tidak perlu larut dalam emosi yang memecah belah. Persatuan dan kesatuan adalah fondasi utama yang tak boleh runtuh oleh denting perdebatan. Kita harus bisa membedakan antara perdebatan ide dan pertengkaran personal.

Seperti Socrates yang tak lelah bertanya, kita harus didorong untuk berpikir kritis, untuk tidak menelan mentah-mentah narasi yang disodorkan. "Hidup yang tidak diuji tidak layak dijalani," katanya. Di arena politik Jember, ujian itu adalah perdebatan ini.

Widarto dan Fawait, dalam peran mereka masing-masing, adalah dua sisi dari koin yang sama, koin kemajuan Jember. Perbedaan pandangan mereka adalah mekanisme alami dari sistem demokrasi yang sehat. Melalui dialektika ini, Jember tidak hanya akan maju, tetapi maju dengan pijakan yang lebih kuat dan visi yang lebih tajam.

Maka, biarkanlah ide-ide itu bertarung. Biarkanlah gagasan-gagasan itu diuji. Dan kita, sebagai masyarakat, jadilah pengamat yang cerdas, yang tidak hanya melihat siapa yang menang, tetapi memahami bahwa dalam pertarungan ini, Jember-lah yang pada akhirnya menjadi pemenang sesungguhnya. Jangan biarkan emosi sesaat meruntuhkan persatuan yang telah dibangun dengan susah payah di bawah langit Pandhalungan yang luas. Selamat HUT RI ke 81, dan MERDEKA!

Editor : Sidkin
Opini Radar Jember Dialektika widarto jember muhammad fawait