Pentingnya Literasi Finansial yang Tidak Diajarkan di Sekolah, Opini oleh Edwin Dianto

Sidkin • Dipublikasikan Senin, 31 Agustus 2026 | 07:00 WIB
Edwin Dianto, penulis adalah Pemerhati Teknologi Digital, Blogger asal Jember
Edwin Dianto, penulis adalah Pemerhati Teknologi Digital, Blogger asal Jember

 

 

PAGI itu, ada seorang emak-emak yang bercerita. Dia baru saja menerima bantuan langsung tunai (BLT) dari pemerintah. Tidak besar. Tapi cukup untuk menutup kebutuhan beberapa hari. Namun, sayangnya, uang itu habis dalam dua hari. Bukan untuk hal yang aneh-aneh. Untuk makan, membeli pulsa, dan sedikit uang jajan anak. Lalu kembali seperti semula: bingung.

Kisah seperti ini bukan cuma dialami satu-dua orang. Banyak. Dan di situlah kita mulai paham: masalahnya bukan semata-mata kekurangan uang. Melainkan juga cara mengelola uang. Di sinilah literasi finansial menjadi penting.

Literasi finansial memang terdengar berat. Meski tidak seberat rindu Dilan terhadap Milea. Kamu tidak akan kuat. Biar aku saja. Heuheuheu.. 

Literasi finansial memang terdengar seperti istilah dalam seminar ekonomi. Padahal intinya sederhana: paham cara mengatur uang, mencatat pemasukan dan pengeluaran, tahu mana kebutuhan dan keinginan, mengerti risiko utang, memperbesar dan memperbanyak sumber pendapatan, serta sedikit-sedikit mulai menabung, menyiapkan dana darurat, memiliki asuransi kesehatan, atau berinvestasi.

Masalahnya, banyak orang Indonesia belum sampai ke sana. Kita sering diajari cara mencari uang. Tapi jarang diajari cara menjaga uang. Sejak kecil, kita diajari matematika. Tapi bukan “matematika kehidupan”. Misalnya: kalau mendapat uang Rp10.000, berapa yang sebaiknya disimpan? Berapa yang boleh dihabiskan? Dan kapan kita harus bilang “tidak” pada keinginan? Padahal, kebiasaan itu terbentuk sejak dini.

Anak kecil yang terbiasa menabung, kemungkinan besar, akan lebih disiplin saat dewasa. Anak yang terbiasa menunda keinginan, akan lebih tahan terhadap godaan konsumsi. Sebaliknya, kalau sejak kecil terbiasa “uang ada, ya, habiskan”, pola itu akan terbawa terus.

Di Indonesia, kemiskinan sering dilihat dari sisi pendapatan. Betul, itu memang penting, Ferguso. Tapi ada sisi lain yang sering luput: kemampuan mengelola pendapatan itu sendiri. Ada orang dengan penghasilan kecil, tapi cukup. Ada juga yang penghasilannya lebih besar, tapi selalu kurang. Kenapa? Karena yang satu mengelola, sedangkan yang satu lagi mengalir begitu saja.

Literasi finansial bukan soal menjadi kaya. Melainkan soal tidak jatuh miskin lebih dalam. Bayangkan kalau setiap keluarga memahami dasar-dasar keuangan. Mereka tahu pentingnya dana darurat. Mereka tidak mudah tergoda pinjaman online dengan bunga tinggi. Mereka bisa membedakan mana kebutuhan mendesak dan mana yang sekadar keinginan sesaat.

Dampaknya besar. Pertama, mereka lebih tahan terhadap guncangan. Misalnya, saat sakit atau kehilangan pekerjaan. Mereka tidak akan langsung panik. Kedua, mereka tidak mudah terjebak dalam utang konsumtif. Ini penting. Banyak keluarga miskin justru makin terpuruk karena terjerat pinjaman online (pinjol) yang berbunga tinggi. Ketiga, mereka bisa mulai membangun masa depan. Sedikit demi sedikit.

Memang, untuk keluarga yang penghasilannya pas-pasan, menabung itu terasa berat. Bahkan terasa mustahil. Tapi literasi finansial bukan hanya soal menabung. Ini soal cara berpikir. Misalnya, bagaimana memilih pengeluaran yang paling penting. Bagaimana mencari alternatif yang lebih hemat. Bagaimana memanfaatkan peluang kecil, seperti usaha sampingan atau keterampilan tambahan.

Literasi finansial juga membuat orang lebih kritis. Tidak mudah percaya pada investasi bodong. Tidak mudah tergiur oleh janji “cepat kaya”. Karena mereka paham: kalau terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, biasanya memang tidak nyata.

Lalu, kapan edukasi tentang literasi finansial ini harus dimulai? Jawabannya: sedini mungkin, Ferguso.

Sekolah memang bisa menjadi tempat yang ideal. Namun, kenyataannya, pendidikan finansial belum menjadi prioritas yang utama. Anak-anak lebih banyak belajar teori daripada praktik kehidupan nyata.

Padahal, mengajarkan anak-anak soal uang itu tidak harus rumit. Bisa dimulai dari hal-hal kecil. Memberi uang saku dan membiarkan mereka mengelolanya. Mengajak mereka berdiskusi saat berbelanja. Menjelaskan kenapa kita memilih untuk membeli ini, bukan itu.

Orang tua mempunyai peran yang besar. Anak-anak belajar bukan dari ceramah, melainkan dari contoh nyata. Kalau orang tua mereka terbiasa boros, sulit berharap anak-anak akan hidup hemat. Kalau orang tua mereka sering berutang tanpa perhitungan, anak-anak akan menganggap itu sesuatu yang normal.

Di sisi lain, pemerintah juga mempunyai peran penting. Program bantuan sosial (bansos) seharusnya tidak hanya memberi uang, tapi juga disertai edukasi. Bagaimana mengelola bansos tersebut agar dampaknya lebih panjang.

Bank dan lembaga keuangan juga bisa ikut ambil bagian. Bukan hanya menawarkan produk keuangan, melainkan juga memberi pemahaman tentang literasi finansial. Sekarang ini, akses ke layanan keuangan sudah lebih mudah. Ada bank digital, dompet elektronik, dan berbagai aplikasi investasi. Namun, tanpa literasi finansial, akses tersebut bisa menjadi pedang bermata dua. Mudah meminjam, tapi sulit membayar. Mudah bertransaksi, tapi tidak sadar bila uang di rekening tabungan cepat habis. Karena itu, literasi harus berjalan beriringan dengan inklusi finansial.

Kita tidak bisa berharap kemiskinan bakal cepat berkurang kalau masyarakat tidak dibekali kemampuan untuk mengelola keuangan. Bantuan akan terus habis. Program akan terus diulang. Seperti mengisi ember bocor. Untuk menutup kebocoran itu, memang membutuhkan waktu. Membutuhkan kesabaran. Tapi harus dimulai. Dan dimulainya bisa dari hal yang sederhana: mengajarkan anak-anak tentang uang. Bukan supaya mereka menjadi kaya. Melainkan supaya mereka tidak mudah jatuh miskin saat dewasa.

Kalau generasi berikutnya lebih melek finansial, dampaknya akan terasa dalam jangka panjang. Bakal lebih banyak keluarga yang stabil. Lebih sedikit yang terjebak utang. Lebih banyak yang punya harapan.

Yang namanya pengentasan kemiskinan itu bukan hanya soal angka statistik. Melainkan juga soal perubahan pola pikir. Dan pola pikir itu bisa diajarkan. Sejak dini.

 

*) Penulis adalah pemerhati teknologi & ekonomi digital, content writer, dan blogger asal Jember.

Editor : Sidkin
literasi finansial finansial sekolah uang