BEBERAPA hari terakhir, sebuah video kunjungan gubernur ke sebuah SMA menjadi perhatian publik. Dalam video tersebut, seorang siswa diminta menghitung Rp200.000 dibagi 34. Ketika mengalami kesulitan, beberapa siswa lain diminta maju ke depan kelas untuk menyelesaikan pembagian tersebut dengan cara yang biasa dipelajari di sekolah. Namun, tidak ada yang berhasil menyelesaikannya.
Satu video tentu tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa siswa SMA di Indonesia kesulitan melakukan pembagian. Kita juga tidak mengetahui apa yang terjadi di kelas tersebut. Tetapi fenomena ini menimbulkan pertanyaan menarik: mengapa soal seperti Rp200.000 dibagi 34 bisa terasa begitu sulit bagi seorang siswa SMA?
Pertanyaan ini membawa kita pada persoalan yang lebih mendasar daripada sekadar kemampuan menghitung. Jangan-jangan, selama ini kita terlalu sering mengajarkan anak cara mendapatkan jawaban, tetapi belum cukup membantu mereka memahami bilangan dan apa yang sebenarnya sedang mereka hitung. Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan jika kita melihat data nasional dan internasional yang menunjukkan bahwa kemampuan matematika dan numerasi siswa Indonesia masih menghadapi tantangan serius.
Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 oleh Kemendikdasmen menunjukkan bahwa rerata capaian nasional Matematika Wajib jenjang SMA/SMK/MA/Paket C adalah 36,10. Ini tidak lantas menunjukkan kemampuan berhitung siswa rendah, karena TKA mengukur kompetensi yang lebih luas dan bukan secara khusus menguji kemampuan aritmetika dasar. Namun, capaian tersebut menggambarkan kemampuan akademik matematika masih menghadapi persoalan serius.
Data ini sejalan dengan PISA 2022 yang dirilis OECD (Organization for Economic Co-operation and Development): skor matematika Indonesia sekitar 366 poin, turun dari 379 pada 2018, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 472 sehingga menempatkan Indonesia di peringkat sekitar 70 dari 81 negara peserta. Hanya sekitar 18 persen siswa Indonesia mencapai level kecakapan minimum matematika.
Sementara Data Asesmen Nasional melalui Rapor Pendidikan memberikan gambaran yang lebih optimistis namun masih menyisakan perhatian serius. Proporsi murid yang mencapai kompetensi minimum numerasi secara nasional meningkat dari 45,24 persen (2022), 62,45 persen (2023) dan 67,94 persen (2024). Peningkatan tersebut patut diapresiasi. Namun capaian ini juga berarti masih sekitar sepertiga murid (32,06 persen) yang belum mencapai kompetensi minimum numerasi.
Data-data tersebut memang tidak secara khusus mengukur kemampuan anak memahami bilangan. Namun, data itu mengingatkan kita untuk melihat matematika bukan hanya dari kemampuan mendapatkan jawaban, melainkan juga dari seberapa baik siswa memahami apa yang sedang mereka kerjakan.
Anak yang memahami bilangan dengan baik mungkin belum tentu mampu melakukan pembagian panjang dengan cepat. Namun, ia akan mampu memperkirakan bahwa hasilnya berada di sekitar Rp6.000. Caranya sederhana. Ia dapat melihat bahwa 34 × Rp5.000 = Rp170.000, sedangkan 34 × Rp6.000 = Rp204.000. Jadi, tanpa melakukan pembagian panjang sekalipun, ia tahu bahwa Rp200.000 dibagi 34 berada di antara Rp5.000 dan Rp6.000, dan lebih dekat ke Rp6.000. Kemampuan memperkirakan, membandingkan besaran, memahami hubungan antarbilangan, dan menilai kewajaran jawaban sering tidak terlihat ketika kita hanya fokus pada benar atau salah. Padahal, kemampuan tersebut sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Pemahaman tentang bilangan dibangun sedikit demi sedikit sejak usia dini. Anak perlu mengenal bilangan melalui situasi nyata: mengelompokkan benda, membandingkan jumlah, membagi makanan secara adil, atau memperkirakan banyak benda. Dari pengalaman tersebut, anak perlahan menghubungkan dunia nyata dengan gambar, angka, dan simbol matematika.
Sebenarnya, gagasan tentang pembelajaran yang bertahap ini sudah termuat dalam Kurikulum Merdeka. Capaian Pembelajaran disusun mulai Fase A hingga F, dan kemampuan matematika dirancang berkembang secara bertahap sesuai tahap pendidikan siswa. Tantangannya adalah memastikan fondasi yang dirancang dalam kurikulum benar-benar terbentuk dalam diri setiap anak sebelum mereka melangkah ke fase berikutnya. Setiap tahun pelajaran, anak melanjutkan ke kelas berikutnya. Materi berganti. Buku selesai. Nilai muncul di rapor. Namun, bagian yang belum dipahami dapat menumpuk dan baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Seperti bangunan, kita tidak bisa berharap lantai atas berdiri kokoh jika fondasinya keropos.
Karena itu, sekolah perlu mengetahui kesulitan siswa sedini mungkin. Guru dapat melakukan pengecekan sederhana di awal pembelajaran untuk mengetahui apakah anak mampu membandingkan bilangan, memperkirakan hasil, memahami nilai tempat, atau menilai apakah sebuah jawaban masuk akal. Ketika jawaban siswa salah, guru perlu memahami pada bagian mana siswa mengalami kesulitan, kesalahan, atau bahkan miskonsepsi.
Cara belajar matematika juga perlu melatih penalaran. Sebelum meminta anak menghitung dengan cara yang tepat, guru dapat bertanya, “Kira-kira jawabannya berapa?”, “Mana yang lebih besar?”, atau “Apakah jawaban ini masuk akal?”
Pelatihan keterampilan ini tidak selesai di ruang kelas saja, namun dapat berlanjut di rumah. Ketika berbelanja, orang tua dapat mengajak anak memperkirakan total harga. Ketika melihat diskon, anak dapat memperkirakan harga akhirnya. Ketika menerima uang kembalian, anak bisa mencoba menghitung sendiri sebelum menggunakan kalkulator.
Persoalan yang sama juga muncul pada gawai, yang jauh lebih sering dipegang anak daripada kalkulator. Gawai patut menjadi perhatian, terutama ketika digunakan sebagai alat bantu untuk mendapatkan jawaban tanpa melalui proses berpikir. Namun, menyalahkan gawai sebagai penyebab tunggal juga terlalu sederhana. Teknologi yang sama dapat digunakan untuk belajar. Persoalannya bukan semata-mata berapa lama anak menggunakan teknologi, tetapi untuk apa teknologi itu digunakan.
Jika kita ingin anak-anak mampu menghadapi matematika yang lebih kompleks di masa depan, kita perlu memastikan mereka telah merasa akrab dengan bilangan yang paling sederhana. Matematika yang kuat tidak selalu identik dengan rumus yang kompleks, tetapi bisa dimulai dari kemampuan sederhana untuk melihat bahwa Rp200.000 dibagi 34 adalah sekitar Rp6.000, dan memahami mengapa jawaban itu masuk akal.
*) Penulis adalah Dosen Tadris Matematika UIN KHAS Jember.
Editor : Sidkin