MUKTAMAR NU sudah usai. Rais Aam dan Ketua Umum telah ditetapkan. Model pemilihan tak lagi mengandalkan riuhnya one man one vote, melainkan menegaskan kembali ikhtiar musyawarah melalui sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang sejatinya sudah dibakukan sejak Muktamar ke-33 di Jombang pada 2015.
Penentuan keduanya diserahkan kepada sembilan kiai sepuh. Kalau boleh dibilang, para kiai sepuh ini semacam Wali Songo-nya NU zaman sekarang. Dengan kapasitas keilmuan dan kebijaksanaan yang dimiliki para kiai sepuh, harapan besar disematkan agar organisasi terbesar ini tetap berpijak pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah serta terus memberi manfaat bagi bangsa.
Namun, bukan Indonesia namanya kalau semua dianggap selesai setelah keputusan diumumkan.
Para romli—rombongan liar—belum puas. Jauh-jauh datang ke muktamar dengan analisis yang katanya sudah A1. Mereka merasa calon yang bakal ditetapkan AHWA sudah bisa ditebak. Kenyataannya tak sesuai dengan yang mereka harapkan. Pulang tanpa jawaban yang cocok dengan prediksi rasanya seperti ada yang kurang. Oleh-oleh yang dibawa bukan lagi cerita dari arena muktamar, melainkan tuduhan: ada "paket Istana", "paket pesantren", "paket Jokowi", sampai "paket partai yang kalah". Di media sosial, zaman yang penuh editan AI ini membuat bumbunya makin sedap, seolah mengamini kekecewaan para romli terhadap hasil mufakat para kiai sepuh.
Yang menarik sebenarnya bukan siapa yang menang atau kalah. Yang menarik justru cara orang menerima hasilnya. Ketika prediksi meleset, yang berubah bukan hanya kesimpulan, tetapi juga perasaan. Lebih disayangkan lagi, adab kepada para kiai sepuh ikut merosot. Suuzon, tuduhan, dan prasangka yang semestinya ditahan justru lebih dulu keluar daripada tabayun. Dari situlah saya melihat, politik menjadi berbahaya ketika perasaan lebih dulu memimpin akal sehat.
Politik itu ibarat menikmati cokelat yang lezat. Rasanya nikmat di mulut, tetapi jangan terlalu larut dalam kelezatannya. Di dalamnya ada gula; kalau berlebihan, tubuh yang menanggung akibatnya. Begitu juga dengan pertemanan dalam politik. Terlalu tenggelam dalam euforia kedekatan bisa membahayakan, tetapi jangan pula tenggelam dalam kebencian ketika harus berseberangan.
Ungkapan tulus "lahir batin" tidak selalu berarti ikatan yang abadi. Hari ini bisa berjalan bersama, besok berdiri di sisi yang berbeda. Sebaliknya, ketika menjadi lawan, kebenciannya pun tak perlu sedalam luka seorang kekasih yang dikhianati. Politik bukan soal perasaan yang mutlak. Ia adalah ruang tempat kepentingan dinegosiasikan.
Politik adalah strategi. Tujuannya bukan sekadar memenangkan siapa yang paling kuat, melainkan bagaimana berbagai kepentingan dapat diakomodasi tanpa kehilangan arah.
Bahkan anak kecil yang sedang tantrum pun sedang menjalankan politiknya sendiri. Ia memakai cara tertentu untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Bedanya terletak pada siapa yang menghadapinya. Orang tua yang baru pertama menghadapi tantrum biasanya panik, marah, dan bingung. Sementara orang tua yang berpengalaman justru tersenyum, tetap tenang, seolah hanya menyaksikan boneka yang sedang bernyanyi. Pengalaman mengajarkan bahwa emosi yang terkendali lebih efektif daripada reaksi yang meledak-ledak.
Pertemanan dan permusuhan dalam politik juga begitu. Ibarat susu yang dicampur soda, sekilas terlihat menarik, tetapi kalau berlebihan justru membuat semuanya rusak. Kedekatan yang terlalu erat bisa menghilangkan objektivitas. Permusuhan yang terlalu dalam bisa membutakan akal sehat.
Politik juga ibarat rem. Secara fungsi, rem memang diciptakan untuk memperlambat kendaraan. Namun justru karena ada rem, pengemudi berani melaju hingga seratus kilometer per jam. Ia percaya ada kendali ketika keadaan menuntut berhenti. Pengguna yang sudah ahli tahu, rem bukan untuk menghambat langkah, melainkan memastikan keberanian tetap disertai kemampuan mengendalikan arah.
Karena itu, politik tidak semestinya dirawat seperti Malika si kedelai hitam, penuh bumbu perasaan. Kadang ia seperti kopi tanpa gula yang baru terasa nikmat ketika diseruput pelan-pelan. Kadang seperti jamu yang diteguk cepat karena manfaatnya baru terasa kemudian.
Yang dipertaruhkan sebenarnya adalah kedewasaan. Banyak penikmat politik menganggap ini hanya ajang pengaruh. Ada yang berbisik, "Hati-hati, dia licik." Padahal sering kali itu hanyalah strategi untuk memberi dampak terhadap sesuatu yang selama ini diyakini benar. Toh yang diperebutkan sering kali bukan kebenaran itu sendiri, melainkan siapa yang paling meyakinkan ketika mengaku membawanya.
Jadi kalau hari ini ada rasa sayang, besok berubah menjadi benci, atau sebaliknya, anggap saja itu soal cara. Jangan bawa perasaan terlalu dalam. Dalam politik, yang paling penting bukan siapa yang paling dekat atau paling keras bermusuhan, melainkan siapa yang tetap mampu menjaga akal sehat ketika kepentingan sedang bermain.
*) Penulis adalah Komisioner KPU Lumajang, alumnus HMI, warga NU Kultural, juga Santri Pondok Pesantren Nurul Istiqomah Wonorejo.
Editor : Sidkin