Lampu Kuning untuk Sungai di Lumajang, Opini oleh Hawin Fizi Balaghoni

Sidkin • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 07:00 WIB
Hawin Fizi Balaghoni, Founder Humanity For Bluewater Aplikasi Persungaian Lumajang dan Ketua Pokmaswas Padas Gemprah Senduro.
Hawin Fizi Balaghoni, Founder Humanity For Bluewater Aplikasi Persungaian Lumajang dan Ketua Pokmaswas Padas Gemprah Senduro.

 

 

ADA masa ketika sungai bukan sekadar tempat air mengalir. Di banyak desa di Lumajang, sungai adalah bagian dari kehidupan. Ia hadir dalam cerita masyarakat, menjadi ruang aktivitas, sumber penghidupan, sekaligus bagian dari hubungan manusia dengan alam. Bahkan, pada sebagian masyarakat, sungai memiliki nilai kultural yang membuatnya dipandang lebih dari sekadar bentang alam. Namun, kedekatan itu rupanya tidak selalu berbanding lurus dengan kepedulian. Sungai yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari justru menghadapi persoalan yang tidak bisa lagi dianggap sepele. Pendangkalan, sedimentasi, sampah, hingga penyempitan aliran yang tidak terkendali adalah persoalan yang semestinya membuat kita berhenti sejenak dan bertanya: masihkah kita memperlakukan sungai sebagai bagian penting dari kehidupan?

Pertanyaan itu penting bagi Lumajang. Sebab, sungai tidak pernah berdiri sendiri. Kondisinya berhubungan dengan kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Ketika sungai kehilangan kapasitasnya untuk mengalirkan air dengan baik, persoalannya bukan lagi sekadar persoalan lingkungan. Ia dapat merembet menjadi persoalan sosial, ekonomi, bahkan menyangkut keselamatan masyarakat. Karena itu, kondisi sungai di Lumajang layak ditempatkan sebagai lampu kuning. Belum waktunya panik, tetapi sudah waktunya bergerak.

Pendangkalan sungai sebenarnya bukan persoalan yang sulit dipahami. Secara sederhana, sungai yang terus menerima material seperti lumpur, pasir, tanah, dan berbagai endapan akan kehilangan sebagian ruang yang sebelumnya digunakan untuk menampung dan mengalirkan air. Sungai menjadi semakin dangkal. Ketika hujan datang dan volume air meningkat, ruang untuk menampung aliran pun semakin terbatas.

Di sinilah persoalan mulai menjadi serius.

Sungai yang dangkal bukan hanya soal pemandangan yang kurang sedap. Kapasitas alirannya dapat berkurang. Air yang seharusnya bergerak mengikuti alur sungai bisa menghadapi hambatan lebih besar. Ketika kondisi tersebut bertemu dengan sampah yang menyumbat aliran, bantaran yang berubah fungsi, atau penyempitan badan sungai, risiko persoalannya menjadi semakin kompleks.

Tetapi membicarakan pendangkalan tidak berarti kita harus menyederhanakan masalah dengan mengatakan bahwa semua kesalahan berada di tangan alam. Perilaku manusia juga mempunyai peran. Sampah yang dibuang sembarangan, misalnya, tidak hilang ketika masuk ke sungai. Ia hanya berpindah tempat. Sampah yang hari ini terlihat hanyut mungkin besok tersangkut di suatu titik, mengganggu aliran, atau menumpuk bersama material lainnya. Kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang oleh banyak orang pada akhirnya dapat menghasilkan persoalan besar.

Ironisnya, masyarakat sering kali baru menyadari pentingnya sungai ketika sungai sudah menunjukkan masalah. Kita baru sibuk memperhatikan aliran ketika air meluap. Kita mulai berbicara tentang kebersihan sungai ketika sampah sudah menumpuk. Kita mulai memikirkan pendangkalan ketika aliran tidak lagi seperti yang diharapkan. Padahal, sungai membutuhkan perhatian sebelum persoalan menjadi besar.

Di sinilah cara pandang kita terhadap sungai perlu diubah.

Sungai jangan diperlakukan hanya sebagai saluran pembuangan air. Sungai juga bukan tempat sampah yang kebetulan dialiri air. Ia adalah ruang hidup yang harus dijaga bersama. Sungai adalah mahluk hidup. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk melakukan pengelolaan dan pemeliharaan kepada sungai. Masyarakat mempunyai tanggung jawab untuk menjaga perilaku di sekitar sungai. Dunia usaha juga perlu memperhatikan dampak aktivitasnya terhadap lingkungan. Komunitas dan kelompok masyarakat dapat menjadi penggerak kesadaran. Semuanya memiliki peran yang berbeda, tetapi menuju tujuan yang sama: memastikan sungai tetap berfungsi dengan baik.

Karena itu, gagasan untuk mulai mengeruk sungai patut dipertimbangkan sebagai salah satu langkah penanganan. Sungai yang mengalami pendangkalan tentu membutuhkan pemeliharaan. Namun, pengerukan jangan sampai menjadi satu-satunya jawaban. Sungai dikeruk hari ini, tetapi jika sumber persoalannya tidak disentuh, beberapa waktu kemudian persoalan yang sama dapat kembali muncul. Lumpur kembali mengendap. Sampah kembali masuk. Bantaran kembali digunakan tanpa memperhatikan fungsi sungai. Maka, pekerjaan hanya berputar pada kegiatan yang sama tanpa menyelesaikan akar masalah. Pengerukan harus berjalan bersama pengawasan.

Setelah sungai dipelihara, bagaimana memastikan masyarakat tidak kembali menjadikannya tempat pembuangan sampah? Bagaimana kondisi sungai dipantau? Bagaimana masyarakat dapat menyampaikan laporan ketika menemukan persoalan? Bagaimana pemeliharaan dilakukan secara berkala, bukan hanya ketika masalah sudah terlihat? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jauh lebih penting daripada sekadar siapa yang harus disalahkan.

Kita membutuhkan pengelolaan sungai yang tidak hanya reaktif, tetapi juga preventif. Sungai perlu dipantau. Kondisinya perlu diketahui. Titik-titik yang mengalami perubahan perlu mendapat perhatian. Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai perlu dilibatkan, karena merekalah yang berinteraksi dengan sungai setiap hari. Teknologi juga dapat menjadi bagian dari perubahan tersebut. Kehadiran aplikasi persungaian https://www.hfb.my.id/, misalnya dapat menjadi salah satu pintu untuk membangun partisipasi masyarakat dalam mengenali dan memperhatikan kondisi sungai. Teknologi memang bukan jawaban untuk semua persoalan. Namun, jika digunakan dengan baik teknologi dapat membantu mendekatkan informasi dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan di sekitarnya.

Pada akhirnya dengan teknologi, menjaga sungai tidak harus selalu dimulai dengan pekerjaan besar. Tidak membuang sampah ke sungai adalah tindakan sederhana. Menjaga bantaran sungai juga tindakan sederhana. Mengingatkan tetangga dengan cara yang baik juga sederhana. Melaporkan kondisi sungai yang membutuhkan perhatian adalah menjadi tindakan yang sederhana. Masalahnya bukan pada sulit atau mudahnya tindakan tersebut. Masalahnya adalah apakah kita mau melakukannya secara konsisten.

Lumajang memiliki banyak cerita tentang sungai. Cerita tentang hubungan manusia dengan air, tentang kehidupan desa, tentang aktivitas masyarakat yang sejak lama bersentuhan dengan aliran sungai. Tetapi cerita itu akan kehilangan makna jika pada saat yang sama kita membiarkan sungai menjadi dangkal, penuh sampah, dan kehilangan ruang untuk mengalir. Kesakralan sungai tidak cukup hanya diceritakan dari generasi ke generasi. Ia harus terlihat dalam cara kita memperlakukan sungai.

Jika kita benar-benar menganggap sungai sebagai bagian dari kehidupan, maka sungai harus mendapatkan perhatian sebagaimana kita menjaga ruang hidup kita sendiri. Tidak harus menunggu banjir. Tidak harus menunggu persoalan menjadi viral. Tidak harus menunggu sungai benar-benar kehilangan fungsinya. Sungai harus menjadi sahabat kita semua, jangan sampai lampu kuning berubah menjadi lampu merah tanda bahaya selamanya.

 

*) Penulis adalah Founder Humanity For Bluewater Aplikasi Persungaian Lumajang. Ketua Pokmaswas Padas Gemprah Senduro.

Editor : Sidkin
Sungai di Lumajang kehidupan sungai lumajang